Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki menyebut bahwa penutupan Selat Hormuz penanganan krisis tapi juga mengamankan energi untuk kedaulatan nasional.
Hal itu disampaikan Erdogan setelah pembahasan Jalur Kereta Api Hejaz, yang berencana memperpanjang rute hingga Oman.
“Penutupan Selat Hormuz mengajarkan kita bahwa keamanan energi bukan hanya masalah pembangunan, tetapi juga masalah kedaulatan dan keamanan nasional,” kata Erdogan melansir Antara, Kamis (4/6/2026).
Erdogan mengatakan bahwa sejumlah peristiwa baru-baru ini telah menegaskan pentingnya Turki secara strategis dalam energi global.
Krisis berkepanjangan di Iran dan Selat Hormuz telah memperkuat peran republik tersebut sebagai salah satu pusat energi utama di kawasan itu.
Presiden juga mengatakan bahwa tujuan kebijakan energi Turki tetaplah mengurangi ketergantungan terhadap pemasok eksternal dengan meningkatkan produksi dalam negeri dan mengembangkan sumber energi terbarukan.
Dia menambahkan bahwa pemerintah Turki ingin terus melakukan diversifikasi sumber pasokan dan meningkatkan efisiensi energi pada aktivitas perekonomian.
Erdogan juga mencatat bahwa ekonomi Turki telah tumbuh selama 23 kuartal berturut-turut meskipun mengalami guncangan eksternal, dan pihak berwenang memperkirakan bahwa Turki akan mempertahankan momentum tersebut pada 2026.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Perundingan yang diadakan di Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Sementara itu, eskalasi ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Blokade tersebut mendorong kenaikan harga bahan bakar global.(ant/kir/faz)




