Mahasiswa Tiongkok Menyembunyikan Latar Belakang Industri Militer, Didakwa di Amerika Serikat

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Jaksa federal Amerika Serikat baru-baru ini mengajukan tuntutan di Pengadilan Federal Distrik Timur Michigan terhadap seorang mantan mahasiswa Tiongkok di Universitas Michigan. Ia dituduh menyembunyikan latar belakang yang terkait dengan proyek drone militer PKT.  Ia diduga memberikan keterangan palsu kepada pihak berwenang. Kasus ini kembali memicu perhatian terhadap dugaan pencurian teknologi Amerika melalui strategi “integrasi sipil-militer” yang dijalankan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

EtIndonesia.com   Menurut surat dakwaan, seorang mantan mahasiswa Universitas Michigan bernama Wang Chuan pada Agustus 2023 diperiksa oleh petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS ketika hendak kembali ke Shanghai melalui Bandara Detroit. Saat itu ia membantah memiliki paten apa pun yang berkaitan dengan militer dan mengaku hanya berkunjung ke Amerika selama 20 hari untuk menemui kerabat.

Namun, penyelidikan lanjutan oleh Biro Investigasi Federal (FBI) menemukan bahwa Wang telah datang ke Universitas Michigan sejak tahun 2012 dengan visa kunjungan akademik J-1 untuk melakukan penelitian di bidang penerbangan. Penelitiannya mencakup desain sayap pesawat tenaga surya serta sistem pengendalian penerbangan.

Penyelidikan juga menunjukkan bahwa setelah kembali ke Tiongkok, Wang menjadi salah satu pendiri sekaligus Kepala Teknologi (CTO) perusahaan Tianxun, yang disebut terlibat dalam penelitian dan pengembangan drone militer serta peralatan cerdas untuk militer PKT . Berkat latar belakangnya di bidang drone, Wang juga cukup dikenal di media dan internet Tiongkok.

Jaksa juga menemukan bahwa ketika mengajukan visa AS kembali pada tahun 2014, Wang mengaku bekerja di sebuah perusahaan media yang bergerak di bidang periklanan, produksi film, dan penyuntingan pascaproduksi. Ia menyatakan tujuan perjalanannya ke AS adalah untuk bisnis atau wisata. Setelah itu, ia memperoleh visa AS dengan masa berlaku 10 tahun hingga tahun 2025.

Karena pernyataan Wang dianggap tidak sesuai dengan latar belakang sebenarnya, jaksa AS menuntutnya atas tuduhan memberikan pernyataan palsu kepada aparat penegak hukum federal.

Seorang mantan mahasiswa Universitas Michigan bernama Wang Chuan (tangkapan layar)

Para analis menilai bahwa meskipun kasus semacam ini tampaknya berkaitan dengan penipuan visa dan masalah kejujuran, di baliknya terdapat kekhawatiran Amerika Serikat mengenai kebocoran teknologi sensitif dan strategi “integrasi sipil-militer” PKT.

“Di masa lalu, salah satu cara paling efektif PKT untuk mencuri teknologi canggih Amerika adalah melalui mahasiswa yang datang ke universitas-universitas AS. Di satu sisi mereka belajar dan melakukan penelitian, di sisi lain mereka dapat membangun jaringan dengan dosen dan mahasiswa. Melalui penelitian ilmiah, pertukaran, dan komunikasi, mereka berpotensi memperoleh teknologi tinggi yang dibutuhkan PKT,” kata komentator politik yang tinggal di Amerika, Xing Tianxing. 

Menurut Xing, karena kurangnya kewaspadaan Amerika pada masa lalu, PKT dapat dengan cepat meningkatkan kemampuan teknologinya, bahkan dalam beberapa bidang berhasil mengejar negara-negara Barat.

“PKT mengklaim bahwa berbagai teknologi tersebut adalah hasil inovasi mereka sendiri. Namun jika ditelusuri, mulai dari penelitian kuantum hingga teknologi biologi, pertahanan, dan industri militer, banyak diantaranya sebenarnya berasal dari pencurian teknologi Amerika,” tambahnya. 

Belakangan ini, Senat dan DPR AS mengadakan dua sidang dengar pendapat yang menuduh PKT telah lama memanfaatkan keterbukaan masyarakat Amerika untuk memperoleh hak kekayaan intelektual dan hasil penelitian ilmiah dalam skala besar. Beberapa pihak bahkan menyebut model perkembangan teknologi PKT sebagai “mengandalkan pencurian”.

“Dalam banyak kasus yang diumumkan AS, tuntutannya tidak selalu secara langsung terkait hasil pencurian teknologi. Yang lebih sering terlihat adalah adanya pernyataan palsu atau tindakan penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam upaya memperoleh hasil penelitian dan teknologi Amerika,” ujar Wu Shaoping, penanggung jawab Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di Luar Negeri. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Universitas Michigan juga mendapat pengawasan khusus dari pemerintah AS karena dugaan pelanggaran pelaporan dana yang terkait dengan Tiongkok. Selain itu, sedikitnya lima mahasiswa Tiongkok di universitas tersebut telah dituduh oleh otoritas federal menyelundupkan bahan biologis ke Amerika Serikat dan memberikan keterangan palsu.

“Di masa lalu Amerika belum sepenuhnya menyadari tujuan strategis internasional PKT maupun cara PKT memanfaatkan integrasi sipil-militer untuk memperoleh teknologi Barat. Kini, seiring perubahan besar dalam situasi internasional, Amerika menyadari bahwa jalur ini merupakan sumber penting perolehan teknologi Barat oleh PKT, sehingga perlu mengambil langkah untuk menghentikannya,” ujar Wu Shaoping. 

Sejak tahun 2020, Amerika Serikat terus memperketat pemeriksaan terhadap individu yang memiliki latar belakang terkait program “integrasi sipil-militer” PKT. Banyak universitas teknik dan sains Tiongkok dimasukkan ke dalam daftar pembatasan AS, sementara mahasiswa yang mengajukan studi ke Amerika menghadapi pemeriksaan yang lebih ketat.

Pada Mei 2025, pemerintah AS kembali memperketat kebijakan visa bagi mahasiswa Tiongkok, terutama yang berada di bidang teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan bioteknologi. Pemeriksaan latar belakang diperkuat, dan sebagian visa dicabut.

Wu Shaoping juga menegaskan bahwa kekhawatiran utama negara-negara Barat adalah kemungkinan PKT menggunakan teknologi canggih yang diperoleh untuk memperkuat pengawasan dan penindasan di dalam negeri serta meningkatkan ancaman terhadap dunia luar.

“Karena PKT adalah rezim otoriter, teknologi ilmiah paling mutakhir—baik di bidang biologi, fisika, maupun kimia—seharusnya tidak jatuh ke tangan PKT. Jika mereka menguasai teknologi tersebut, teknologi itu bukan hanya akan digunakan untuk merugikan rakyat Tiongkok, tetapi juga dapat membahayakan seluruh dunia,” katanya. 

Wu menambahkan bahwa PKT telah lama memanfaatkan teknologi canggih yang diperoleh dari Barat untuk memperkuat sistem pengawasan sosial, misalnya dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah dalam sistem keamanan dan kontrol sosial. Ia juga menyinggung tuduhan bahwa kemajuan teknologi transplantasi organ digunakan untuk kepentingan elite politik. Oleh karena itu, menurutnya, langkah-langkah untuk mencegah akses PKT terhadap teknologi sensitif dan jalur penelitian ilmiah sangat diperlukan.

Editor/Wawancara: Li Yun/Chen Jianming


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sebelum Dibunuh, Balita 2 Tahun di Bekasi juga Pernah Dianiaya Pamannya
• 15 jam laludetik.com
thumb
Tiket Konser Comeback BTS di Jakarta Mulai Dijual, Harga Termurah Rp1,8 Jutaan
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Tragedi Jembatan Labuan Bajo Dikremasi, Pertanggungjawaban Masih Ditunggu
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Silmy Karim Ditahan KPK, Istana Bakal Segera Copot Jabatan Wamen Imipas
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Direktur Utama BRI Hery Gunardi Bagikan 5 Kunci Sukses Membangun Bisnis
• 8 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.