Jakarta: Kebakaran masih menjadi salah satu ancaman yang paling sering menghentui permukiman padat di Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, insiden kebakaran terus berulang dengan penyebab yang hampir serupa, mulai dari kosleting listrik sampai kondisi lingkungan yang membuat api cepat merambat. Di tengah tingginya resiko ini, kebakaran besar yang kembali terjadi di kawasan Kemayoran ini menjadi pengingat bahwa persoalan keselamatan di permukiman padat masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas hingga saat ini.
Fakta di lapangan
Bicara soal kebakaran Kemayoran kemarin, berdasarkan kesaksian warga sekitar, api pertama kali muncul secara mendadak sekitar pukul 9 malam dari area belakang permukiman. Kemudian reaksi cepat keobaran aliran listrik yang mengalami arus pendek ini memerjukan api yang langsung menyambar ke struktur bangunan. Warga sebenarnya sempat berupaya untuk memadamkan api secara mandiri menggunakan 3 unit alat pemadam api ringan atau juga APAR milik RW04 namun karena apinya sudah terlanjur membesar dengan cepat sehingga ini sulit dipadamkan.
Baca Juga :
Puluhan Rumah di Tanah Tinggi Johar Baru Ludes TerbakarPernyataan anggota DPRD DKI Jakarta
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai NasDem Riano P. Ahmad mengatakan kejadian serupa juga pernah terjadi di wilayah yang sama sebelumnya namun belum terlihat langkah pencegahan yang optimal untuk mengantisipasi potensi kebakaran. Ia menilai kebakaran di kawasan padat penduduk seharusnya bisa diminimalkan melalui pemetaan wilayah rawan, edukasi kepada masyarakat, dan pengawasan terhadap instalasi listrik yang kerap menjadi penyebab utama kebakaran.
Menurutnya hampir sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta ini dipicu oleh kosleting listrik. Oleh karena itu, ia mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan sosialisasi pencegahan secara masif dan berkelanjutan kepada masyarakat.
Baca Juga :
Puslabfor Mabes Polri Segera Olah TKP Kebakaran di KemayoranAda tiga persoalan utama sebenarnya kalau Pemprov DKI melihat data dari Google Karma. Pertama, jaringan listrik di permukiman padat ini seringkali melebihi standar yang ada. Kemudian, kualitas kasus kabel yang digunakan juga tidak memenuhi standar Nasional Indonesia atau SNI sehingga kabel yang ada ini lebih mudah terbakar. Poin ketiga adalah pemakaian listrik yang kurang bijak oleh masyarakat juga menjadi beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya kebakaran di permukiman padat.
Respons Pemprov DKI Jakarta
Merespon situasi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyiapkan penataan kawasan pascakebakaran yang melanda permukiman padat penduduk seperti di Kemayoran. Staf khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Yoga mengatakan saat ini penanganan fokusnya adalah tanggap darurat dulu. Nanti akan dievaluasi dan membenahi berbagai jaringan utilitas di kawasan tersebut. Misalnya listriknya bagaimana, gasnya gimana, sampai air bersih supaya nanti kawasan ini bisa ditata lebih baik dan lebih aman bagi warga.
Ia mendorong dilakukannya audit jaringan di kawasan padat penduduk karena berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan atau Gulkarmat DKI Jakarta, 70 persen atau 7 sampai 80 persen kebakaran di Jakarta ini dipicu persoalan kelistrikan. Jadi kebakaran Kemayoran tentu saja menambah daftar panjang insiden serupa yang terjadi di Jakarta.
Ketika mayoritas kasus disebut dipicu persoalan kelistrikan upaya penanganan tidak cukup berhenti pada fase pemulihan pascabencana. Harus ada audit jaringan, penataan kawasan dan juga edukasi kepada masyarakat, juga langkah penting untuk menekan resiko kebakaran di masa belakang. Sebab tanpa ada perbaikan yang menyeluruh, tragedi yang sama akan berpotensi kembali terjadi.
Sumber: Kapolsek Kemayoran/Redaksi Metro TV




