JAKARTA, KOMPAS.com - Melemahnya daya beli masyarakat imbas kondisi ekonomi yang tak menentu dinilai semakin terasa di warung tegal (warteg).
Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (KOWANTARA) Mukroni menyebut, sebagian besar pelanggan warteg saat ini hanya memiliki anggaran sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk sekali makan.
"Uang Rp 15.000 sampai Rp 20.000 sudah batas maksimal mereka untuk sekali makan kenyang," kata Mukroni dalam keterangannya kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Warteg dan Hari-hari yang Lebih Berat dari Covid...
Kemampuan belanja mayoritas pelanggan warteg yang berasal dari kalangan pekerja dan mahasiswa membuat pedagang sulit menaikkan harga makanan meski biaya bahan baku terus meningkat.
Situasi itu memaksa banyak pemilik warteg mengambil keputusan berat dengan menghapus sejumlah menu andalan yang biaya produksinya semakin mahal.
"Dari KOWANTARA melihat etalase kami yang biasanya penuh warna kini kehilangan 'wajah'-nya adalah hal yang menyayat hati," ujarnya.
Ia mengatakan, menu-menu tersebut bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas warteg yang selama ini dikenal sebagai pilihan makan terjangkau bagi masyarakat.
"Menu Rawon yang hitam pekat gurih, Terong Balado yang merah merona menggugah selera, dan Opor Ayam dengan kuah kental kuningnya, mereka bukan cuma sekadar makanan. Mereka adalah nyawa dari warteg kami, simbol kemewahan yang terjangkau bagi semua kalangan," kata Mukroni.
Baca juga: Harga Pangan Naik, Pedagang Warteg di Jaksel Enggan Naikkan Harga, Pilih Pangkas Porsi
Keluhan serupa sebelumnya disampaikan sejumlah pedagang warteg di Pamulang, Tangerang Selatan.
Mereka mengaku terpaksa mencoret beberapa menu akibat lonjakan harga bahan baku yang mencapai 40 hingga 100 persen.
Pengusaha warteg itu menghentikan penjualan terong balado, opor ayam, dan rawon karena harga bahan baku terus merangkak naik.
Seorang pengusaha warteg lain di wilayah yang sama bahkan menyebut jumlah pelanggan saat ini turun hingga 50 persen. Kondisi tersebut disebutnya terasa jauh lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19.
Melihat kondisi tersebut, Mukroni menilai para pedagang warteg kini berada dalam posisi terjepit.
Di satu sisi harga bahan pangan terus meningkat, sementara di sisi lain kemampuan belanja pelanggan tidak ikut bertambah.
Baca juga: Hilangnya Menu Rawon, Terong Balado, dan Opor Ayam di Etalase Warteg...
Karena itu, menghapus menu menjadi pilihan yang lebih memungkinkan dibandingkan menaikkan harga makanan yang berisiko membuat pelanggan pergi.
"Hari ini, kami terpaksa mengambil keputusan pahit untuk 'merumahkan' menu-menu legendaris tersebut dari etalase kaca. Jujur, ini adalah pilihan paling realistis sekaligus paling menyedihkan yang harus kami ambil di tengah himpitan ekonomi saat ini," ujar Mukroni.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga pangan agar usaha warteg dan pelaku UMKM kuliner lainnya dapat bertahan.
"Kami berharap kondisi harga pangan bisa segera stabil dan berpihak pada wong cilik. Kami ingin etalase warteg kembali penuh warna, karena jika etalase warteg mulai sepi dan pucat, itu adalah tanda bahwa isi dompet masyarakat kita pun sedang tidak baik-baik saja," kata Mukroni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




