Pemerintah menginstruksikan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyerap telur di wilayah Jawa Timur, khususnya di Blitar.
Budi Santoso Menteri Perdagangan mengatakan, pemerintah akan berusaha menstabilkan harga telur di pasaran, sehingga tidak merugikan peternak.
“Kemarin ada beberapa daerah terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur itu kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan kepala BGN yang baru, bahwa SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur,” kata Budi Santoso di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Sebelumnya, peternak ayam petelur skala kecil di Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek dikabarkan membagi-bagikan 1 juta butir telur gratis kepada masyarakat.
Ini jadi aksi protes dari peternak terhadap anjloknya harga telur yang membuat kerugian. Kata Budi, peternak merugi Rp2000 per kilogram telur yang terjual.
Kasus ini pun mendapatkan atensi dari pemerintah.
“Sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HET. Sehingga para peternak akan mendapatkan harga yang bagus. Yang kedua, bantuan pangan nanti akan menyesuaikan juga. Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti minyak kita atau beras tapi bisa juga telur,” ungkapnya.
Budi menjelaskan produksi telur surplus 20 persen, sehingga mekanisme penyerapan produk telur harus dibenahi.
“Jadi ini dalam rangka akan menyerap produk-produk makanan kita atau produk bahan pokok kita, yang memang produksinya sekarang nambah. Sekarang surplus 20 persen untuk telur, sehingga ini bagus buat peternak. Dan penyerapannya sebenarnya ada. Tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik,” ujarnya.
Selain telur pemerintah juga akan terus mengoptimalkan penyerapan bahan-bahan pokok, sekaligus mengendalikan harga agar ke depan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Jadi kebutuhan bahan pokok seperti misalnyanya ayam, Daging ayam apabila harga turun di bawah HET, maka BGN juga akan kita minta untuk menyerap di SPPG,” katanya.
Peternak ayam di Blitar mengatakan harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp23.000 per kilogram, namun sejak 2 bulan yang lalu harga jual telur di kandang peternak hanya berkisar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram.(lea/kir/faz)




