Mengapa Orang Terbaik Justru yang Paling Cepat Resign?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita
Ketika yang Pergi Justru yang Paling Berharga

Ada satu fenomena yang sering terjadi di banyak organisasi, tetapi jarang dibicarakan secara jujur. Yang bertahan bukan selalu yang terbaik. Dan yang pergi, justru sering kali yang paling berpotensi.

Secara logika, hal ini terasa tidak masuk akal. Perusahaan menginginkan talenta terbaik, menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk mengembangkan mereka, tetapi pada akhirnya justru kehilangan mereka lebih cepat dibandingkan yang lain.

Fenomena ini tidak terjadi karena kurangnya loyalitas. Ia terjadi karena sesuatu yang lebih dalam: misalignment.

Di era kerja modern—terutama setelah perubahan cara kerja yang dipengaruhi oleh platform seperti LinkedIn dan meningkatnya transparansi peluang karier—individu memiliki lebih banyak pilihan daripada sebelumnya. Mereka tidak lagi bertahan hanya karena stabilitas. Mereka mencari makna.

Dan ketika makna tidak ditemukan, kepergian menjadi keputusan yang logis.

Bukan tentang Salary, tapi Direction

Salah satu asumsi terbesar yang sering salah adalah bahwa orang pergi karena gaji. Meskipun kompensasi tetap penting, banyak high performer justru meninggalkan perusahaan bukan karena mereka dibayar terlalu kecil, melainkan karena mereka merasa tidak berkembang. High performer memiliki satu karakteristik yang sangat jelas: mereka ingin bergerak.

Mereka ingin belajar, ingin bertumbuh, dan ingin merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki arah. Ketika pekerjaan mulai terasa repetitif, ketika tantangan mulai hilang, atau ketika kontribusi mereka tidak lagi berdampak, mereka mulai mempertanyakan posisi mereka.

Dalam kondisi ini, bahkan peningkatan gaji tidak selalu cukup untuk membuat mereka bertahan. Karena bagi mereka, stagnasi lebih mahal daripada ketidakpastian.

The Misalignment Problem: Ketika Nilai Tidak Lagi Sejalan

Masalah terbesar bukan selalu pada pekerjaan itu sendiri, melainkan pada keselarasan antara individu dan organisasi. Setiap orang memiliki nilai, cara berpikir, dan ekspektasi tertentu terhadap pekerjaan. Ketika hal tersebut tidak lagi sejalan dengan arah perusahaan, muncul friksi yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Seseorang bisa tetap bekerja dengan baik, tetap memenuhi target, bahkan tetap terlihat "fine". Namun di dalam, ada jarak yang semakin besar.

Misalignment ini bisa muncul dalam berbagai bentuk: ketika visi tidak jelas, ketika leadership tidak konsisten, atau ketika budaya tidak mendukung pertumbuhan. Dan ketika jarak tersebut semakin besar, kepergian bukan lagi tentang keputusan emosional, melainkan keputusan rasional.

High Performers Think Long-Term

Perbedaan utama antara high performer dan rata-rata bukan hanya pada output, melainkan juga pada cara mereka melihat waktu.

High performer cenderung berpikir jangka panjang. Mereka tidak hanya bertanya "Apa yang saya lakukan hari ini?", tetapi juga "Apa yang ini bawa saya ke depan?"

Ketika mereka tidak melihat progres yang jelas, mereka mulai mencari alternatif. Bukan karena mereka tidak sabar, melainkan karena mereka sadar bahwa waktu adalah aset.

Dalam konteks ini, bertahan di tempat yang tidak berkembang terasa seperti kehilangan momentum.

Lingkungan yang Tidak Siap untuk Mereka

Ironisnya, tidak semua organisasi siap untuk memiliki high performer. High performer membutuhkan kejelasan arah, kecepatan dalam pengambilan keputusan, dan ruang untuk berkembang.

Namun banyak organisasi masih berjalan dengan sistem yang lambat, hierarki yang kaku, dan budaya yang tidak adaptif. Dalam kondisi seperti ini, high performer justru merasa terhambat.

Mereka memiliki energi, ide, dan dorongan untuk bergerak. Namun ketika lingkungan tidak mendukung, energi tersebut berubah menjadi frustrasi.

Dan pada akhirnya, mereka memilih pergi —bukan karena mereka tidak cocok bekerja, melainkan karena mereka tidak bisa bekerja dengan cara yang mereka butuhkan.

Recognition yang Tidak Tepat

Masalah lain yang sering terjadi adalah recognition yang tidak selaras. Banyak perusahaan memberikan apresiasi berdasarkan hasil akhir, tetapi tidak selalu memahami proses, kontribusi strategis, atau potensi jangka panjang. High performer tidak hanya mencari pengakuan, tetapi juga pengertian. Mereka ingin dilihat bukan hanya sebagai "resource", melainkan juga sebagai individu yang memiliki kapasitas dan aspirasi.

Ketika kontribusi mereka tidak benar-benar dipahami, muncul rasa bahwa mereka tidak berada di tempat yang tepat. Dan ketika seseorang tidak merasa "seen", bertahan menjadi semakin sulit.

Tentang Tempat yang Tepat, bukan Sekadar Bertahan

Jika kita melihat lebih dalam, fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia kerja. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih luas tentang kehidupan.

Bahwa tidak semua tempat cocok untuk semua orang. Dan bertahan di tempat yang tidak selaras tidak selalu merupakan tanda kekuatan.

Dalam ajaran Yesus Kristus, kita melihat bagaimana setiap individu dipanggil untuk berjalan dalam tujuan yang spesifik. Tidak semua jalan sama, dan tidak semua tempat adalah tujuan akhir. Ini memberikan perspektif bahwa menemukan tempat yang tepat sering kali lebih penting daripada sekadar bertahan.

Mungkin Mereka Tidak Pergi, tapi Sedang Bertumbuh

Ketika high performer meninggalkan perusahaan, mudah untuk melihatnya sebagai kehilangan. Namun mungkin, itu bukan sekadar kepergian. Mungkin itu adalah tanda bahwa mereka sedang bertumbuh ke arah yang berbeda.

Dan bagi organisasi, ini menjadi refleksi penting:

Apakah kita kehilangan orang yang salah,

atau kita belum menjadi tempat yang tepat?

Karena pada akhirnya, orang hebat tidak mencari tempat untuk bertahan.

Mereka mencari tempat untuk bertumbuh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Pemicunya
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Eks Wakil Ketua BGN Sony Sanjaya Juga Ditahan Kejagung
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dugaan Jual Beli Titik SPPG Jadi Pemicu Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Dadan Punya Yayasan SPPG buat Kelola MBG, Insentif Miliaran Rupiah per Hari
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
PNJ Periksa Mahasiswa yang Terlibat Kasus Asusila Sesama Jenis di Kampus
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.