EtIndonesia.com Pada Selasa (2 Juni), perang Rusia-Ukraina kembali mengalami eskalasi besar. Rusia melancarkan serangan udara berskala sangat besar terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, dan sejumlah wilayah lainnya. Warga Ukraina menggambarkan situasi tersebut seperti datangnya hari kiamat.
Di tengah meningkatnya intensitas perang, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia kini menargetkan fasilitas produksi rudal Ukraina. Sementara itu, perang berkepanjangan yang menguras sumber daya juga terus memberikan tekanan berat terhadap ekonomi Rusia. Menurut laporan media Bloomberg, di dalam pemerintahan Rusia mulai muncul perbedaan pendapat mengenai besarnya biaya perang yang harus ditanggung negara.
Serangan Besar Mengguncang KyivLedakan keras menggema di langit malam Kyiv.
Pada Selasa dini hari, Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir terhadap berbagai wilayah Ukraina. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.
Seorang warga Kyiv bernama Mudra mengatakan:
“Di mana-mana penuh puing-puing, di mana-mana penuh asap dan debu. Tidak ada yang bisa terlihat.”
Pihak Ukraina menyatakan bahwa dalam beberapa jam saja, Rusia meluncurkan hingga:
- 656 drone
- 73 rudal berbagai jenis
- Termasuk 8 rudal jelajah hipersonik Zircon
Akibat serangan tersebut, banyak warga terpaksa berlindung di stasiun metro bawah tanah dan menghadapi malam yang panjang dalam ketakutan.
Warga Kyiv lainnya, Nafechinko, mengatakan: “Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ini sangat berat. Maaf, saya agak emosional.”
Rusia Sebut Perang Memasuki “Tahap Baru”Kremlin pada Selasa menyatakan bahwa gelombang serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan Ukraina sebelumnya terhadap asrama mahasiswa di wilayah yang dikuasai Rusia.
Pemerintah Rusia juga mengklaim bahwa perang Ukraina telah memasuki “tahap baru”.
Namun beberapa waktu sebelumnya, Presiden Zelenskyy menyatakan harapannya untuk mencapai perjanjian gencatan senjata dengan Rusia sebelum musim dingin tahun ini melalui kombinasi tekanan diplomatik dan operasi militer di garis depan.
Ukraina Minta Sistem Patriot TambahanMenghadapi peningkatan serangan Rusia, Zelenskyy kembali menegaskan kebutuhan mendesak Ukraina akan sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi intelijen terbaru, Rusia menganggap kemajuan Ukraina dalam pengembangan rudal balistik dan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri sebagai ancaman strategis.
Karena itu, fasilitas produksi rudal Ukraina diperkirakan akan menjadi sasaran utama serangan Rusia pada masa mendatang.
Selain itu, laporan Ukraina menyebutkan bahwa Kyiv kini telah memperoleh informasi yang cukup lengkap mengenai:
- Kapasitas produksi rudal Rusia
- Rantai pasokan utama industri pertahanan Rusia
- Perusahaan-perusahaan luar negeri yang diduga membantu Rusia menghindari sanksi internasional
Berdasarkan informasi tersebut, Ukraina berencana menyesuaikan strategi responsnya dan bekerja sama dengan negara-negara sekutu untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia.
Zelenskyy mengatakan: “Dari Januari hingga Mei tahun ini (2026), para prajurit kami telah menyerang 15 kilang minyak Rusia. Ini sangat penting. Hingga Mei, 40 persen kilang pengolahan minyak primer Rusia telah berhenti beroperasi.”
Muncul Perbedaan Pendapat Mengenai Anggaran Perang RusiaMenurut laporan Bloomberg, dampak ekonomi perang yang terus berlanjut mulai memicu perdebatan yang jarang terlihat di dalam pemerintahan Rusia.
Pejabat Kementerian Keuangan Rusia dikabarkan memperingatkan Presiden Vladimir Putin bahwa tingkat pengeluaran militer saat ini sudah sangat sulit dipertahankan dan dapat memperburuk defisit anggaran negara.
Karena itu, mereka disebut mengusulkan pengurangan anggaran pertahanan.
Namun usulan tersebut mendapat penolakan dari Kementerian Pertahanan Rusia. Sebaliknya, pihak militer justru meminta peningkatan anggaran guna menutupi kekurangan dana yang semakin besar.
Defisit Anggaran MembengkakData yang dikutip dalam laporan menunjukkan bahwa selama empat bulan pertama tahun ini, defisit anggaran Rusia telah mencapai: 5,8 triliun rubel (sekitar 81,78 miliar dolar AS).
Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya pengeluaran militer dan biaya perang yang terus meningkat dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menekan kondisi fiskal Rusia.
Sumber : NTDTV.com





