JAKARTA, KOMPAS.com - Para pedagang warung tegal (warteg) meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga pangan di tengah kenaikan biaya bahan baku yang terus menekan usaha mereka.
Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (KOWANTARA) Mukroni menegaskan, kondisi tersebut dinilai membuat sejumlah warteg mulai mengurangi variasi menu yang dijual, seperti salah satunya dialami pengusahan warteg di Pamulang, Tangerang Selatan.
“Kami berharap kondisi harga pangan bisa segera stabil dan berpihak pada wong cilik. Kami ingin etalase warteg kembali penuh warna, karena jika etalase warteg mulai sepi dan pucat, itu adalah tanda bahwa isi dompet masyarakat kita pun sedang tidak baik-baik saja,” ujar Mukroni saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/6/2025).
Baca juga: Dilema Warteg: Tak Bisa Naikkan Harga, Menu Terpaksa Dikurangi
Menurut Mukroni, kondisi saat ini membuat pedagang berada dalam posisi sulit.
Di satu sisi harga bahan baku terus meningkat, sementara di sisi lain daya beli pelanggan justru melemah.
Sebagian besar pelanggan warteg saat ini hanya memiliki anggaran sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk sekali makan, sehingga pedagang tidak memiliki ruang untuk menaikkan harga.
“Uang Rp 15.000 sampai Rp 20.000 sudah batas maksimal mereka untuk sekali makan kenyang,” kata Mukroni dalam keterangannya kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Tekanan tersebut membuat sejumlah pedagang terpaksa menghapus menu andalan seperti rawon, terong balado, hingga opor ayam karena biaya produksi yang terus naik.
Baca juga: Uang Rp 20.000 Kini Jadi Batas Makan Pelanggan Warteg
Mukroni menyebut, perubahan itu juga berdampak pada tampilan warteg yang kini tidak lagi semarak seperti sebelumnya.
“Dari Kowantara melihat etalase kami yang biasanya penuh warna kini kehilangan ‘wajah’-nya adalah hal yang menyayat hati,” ucap Mukroni.
Ia menambahkan, menu-menu tersebut bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas warteg sebagai kuliner rakyat yang terjangkau.
“Menu Rawon yang hitam pekat gurih, Terong Balado yang merah merona menggugah selera, dan Opor Ayam dengan kuah kental kuningnya, mereka bukan cuma sekadar makanan. Mereka adalah nyawa dari warteg kami, simbol kemewahan yang terjangkau bagi semua kalangan,” kata Mukroni.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah pedagang warteg di Pamulang, Tangerang Selatan, yang mengaku kenaikan harga bahan baku hingga 40–100 persen membuat mereka memangkas menu yang dijual.
Baca juga: Hilangnya Menu Rawon, Terong Balado, dan Opor Ayam di Etalase Warteg...
Dalam kondisi tersebut, Mukroni kembali menegaskan harapannya agar pemerintah dapat segera menstabilkan harga pangan demi menjaga keberlangsungan usaha warteg dan pelaku UMKM kuliner rakyat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




