PADANG, KOMPAS — Universitas Negeri Padang atau UNP mendesak agar lapangan tembak TNI di Lapai, Kota Padang, Sumatera Barat, dipindahkan. Sejak 2010, setidaknya sudah tujuh kali terjadi insiden peluru nyasar di kampus tersebut.
Senior Eksekutif UNP Profesor Ganefri, Kamis (4/6/2026), mengatakan, sudah tidak tepat lagi ada lapangan tembak di areal pusat kota. Apalagi insiden peluru nyasar di UNP berulang kali terjadi. Insiden terbaru, dua orang luka-luka terkena peluru nyasar di depan Rektorat UNP, Selasa (2/6/2026).
“Saran saya memang itu ditinjau ulang oleh TNI supaya dipindahkan. Kemarin panglima sudah janji (untuk evaluasi). Kami khawatirnya kalau ganti lagi panglima, lupa lagi, tidak ada tindak lanjutnya,” kata Ganefri.
Dalam catatan UNP, setidaknya sudah tujuh kali terjadi insiden peluru nyasar yang berasal dari lapangan tembak TNI di daerah Lapai. Bahkan lima insiden di antaranya terjadi saat Ganefri menjabat Rektor UNP pada periode 2016-2024.
Pada 2010, peluru nyasar melukai seorang mahasiswi Sosiologi di sekitar mesin ATM BNI kampus UNP. Korban menderita luka tembak di leher hingga mendapat lima jahitan.
Selanjutnya, pada 2017, peluru nyasar menembus kaca lantai 3 gedung Rektorat UNP pada malam hari. Setahun kemudian, peluru nyasar kembali menimbulkan kerusakan pada sebuah gedung di UNP.
Pada 2019, insiden peluru nyasar dua kali terjadi dan menimbulkan kerusakan bangunan. Menurut Ganefri, memang tidak ada korban pada insiden itu, tetapi meninggalkan trauma bagi civitas akademika UNP.
Peluru nyasar kembali mengenai UNP pada 2020. Proyektil peluru mengenai kaca gedung Rektorat dan Pusat Riset UNP.
Proyektil ditemukan di lantai 3 kantor Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNP. Tidak ada korban, tetapi kejadian ini menimbulkan trauma bagi pegawai yang bekerja.
“Kami kecewa karena sudah begitu banyak kejadian. Dulu waktu saya jadi Rektor, (yang berwenang) masih Korem, Danrem sudah berjanji mau evaluasi, ditingkatkan keamanannya. Namun, tidak ada perubahan. Jangan sampai nanti ada korban meninggal,” kata Ganefri.
Menurut Ganefri, semua kejadian peluru nyasar di UNP, lokasinya tak jauh dari gedung rektorat. Sebab, jika ditarik garis lurus, lokasi lapangan tembak TNI di Lapai yang berjarak sekitar 800 meter memang sejajar dan menghadap ke Rektorat UNP.
Insiden berulang peluru nyasar ini, kata Ganefri, tentu saja merugikan UNP karena seolah-olah sudah tidak aman kuliah di kampus ini. Apalagi alun-alun Rektorat UNP juga ramai oleh mahasiswa yang merayakan kelulusan usai ujian skripsi dengan berfoto-foto.
“Jadi, (evaluasi lapangan tembak) harus segera ditindaklanjuti. Karena mahasiswa sudah terdampak, kami susah juga mengamankan mahasiswa,” ujar Ganefri.
Sebelumnya, insiden peluru nyasar melukai dua orang di alun-alun depan Rektorat UNP di daerah Air Tawar, Kota Padang, Selasa (2/6/2026) sore. Kedua korban itu adalah Nova Wirantika (25), mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP dan teman dekatnya Guruh Guwino (22).
Sekretaris UNP Erianjoni mengatakan, peristiwa peluru nyasar itu terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 WIB. ”(Peluru) diperkirakan berasal dari lokasi latihan tembak TNI di Lapai, yang berjarak 800 meter dari kampus induk UNP Air Tawar Padang,” katanya.
Saat kejadian, kata Erianjoni, dua korban dalam posisi duduk bersama teman-teman mereka di alun-alun depan Rektorat UNP. Tiba-tiba, Nova dan Guruh terkena peluru nyasar.
Tim medis UNP segera melarikan kedua korban ke Rumah Sakit Hermina Padang, selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo Padang. Nova terkena di bagian paha kiri dan mesti dioperasi untuk mengeluarkan proyektil, sedangkan Guruh terkena di bagian tangan.
Kepala Penerangan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol Kolonel Kavaleri Taufiq membenarkan kejadian dugaan peluru nyasar yang melukai dua orang di kampus UNP. Pada saat bersamaan memang ada latihan tembak anggota TNI di Lapai.
Akan tetapi, Taufiq belum dapat memastikan apakah peluru nyasar itu berasal dari aktivitas latihan anggota TNI atau tidak. ”Saat ini sedang dilakukan investigasi untuk mengetahui kebenaran dari kejadian tersebut,” katanya, Selasa malam.
Menurut Taufiq, pada Selasa, anggota TNI dari Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) 897/Singgalang memang melakukan latihan tembak di lapangan tembak Lapai dari pagi hingga sore. Mereka latihan menggunakan senapan laras panjang. Adapun lokasi latihan dari lokasi korban jaraknya relatif jauh, yakni sekitar 800 meter.
Taufiq mengatakan, tempat latihan tembak TNI di Lapai sudah ditutup sebagai bagian dari evaluasi. “Kondisi tempat latihan kami memang masih sangat terbatas. Seyogyanya memang harus di tempat yang betul-betul aman,” katanya.
Menurut Taufiq, dari pengamatan, sebenarnya kondisi lapangan tembak di Lapai memenuhi standar keamanan. Posisi tanggul dan ketebalan tanggul lapangan tembak aman.
“Namun, kadang ada hal-hal yang di luar batas kemampuan kami,” ujarnya.
Kejadian peluru nyasar yang melukai dua orang di UNP, kata Taufiq, sudah menjadi atensi khusus dari Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XX/Tuanku Imam Bonjol Mayor Jenderal Arief Gajah Mada.
Maka lapangan tembak di Lapai, lanjut Taufiq, kini tidak bisa digunakan sampai ada investigasi lanjutan terkait evaluasi tanggul atau aspek keamanannya. Mungkin saja ke depan lapangan tembak ini direhabilitasi supaya aman atau dijadikan lapangan tembak tertutup atau indoor supaya betul-betul aman.
“Kalau tidak memungkinkan, kami akan mencari tempat baru yang lebih aman untuk seluruhnya,” ujar Taufiq.





