Bisnis.com, CIKARANG — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak pelemahan rupiah terhadap harga obat dan keberlangsungan industri farmasi nasional.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan pihaknya berkomitmen membantu pemerintah menjaga agar gejolak nilai tukar tidak berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan baku maupun operasional industri farmasi di dalam negeri.
"Kami dari Badan POM ingin membantu pemerintah semaksimal mungkin supaya dampak dari pelemahan rupiah itu tidak berdampak signifikan," ujarnya saat ditemui di sela-sela acara pelepasan ekspor obat PT Ferron Par Pharmaceuticals di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan fleksibilitas regulasi, khususnya terkait rantai pasok bahan baku farmasi. Selama ini, perubahan sumber pemasok atau lokasi produksi kerap memerlukan proses administrasi yang panjang sehingga mengurangi kelincahan industri dalam merespons perubahan harga global.
Oleh karenanya, BPOM kini tengah mendorong penyederhanaan aturan agar perusahaan farmasi dapat lebih mudah melakukan diversifikasi pemasok tanpa harus mengulang seluruh proses dari awal.
"Dengan standardisasi yang kami lakukan, supplier atau industri farmasi bisa berpindah ke sumber pasokan atau negara lain. Dengan demikian variasi harga bisa diatur," sebut Ikrar.
Baca Juga
- PMI Manufaktur Kembali ke Level 50, Ekonom: Belum Bisa Disebut Pulih
- Ramalan BI soal Kinerja Industri Manufaktur Kuartal II/2026
- Industri Manufaktur Makin Tertekan Efek Pelemahan Rupiah dan Konflik Geopolitik
Selain itu, BPOM juga menyiapkan kemudahan dalam proses perubahan bahan baku tertentu, terutama yang berkaitan dengan komponen kemasan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan melakukan efisiensi biaya produksi di tengah tekanan kurs.
BPOM turut mempercepat implementasi digitalisasi pelabelan produk atau e-labeling. Kebijakan ini dinilai dapat mengurangi sejumlah biaya yang selama ini timbul dari penggunaan etiket dan label fisik pada kemasan obat.
"Aturannya saat ini sedang dalam proses, ada beberapa sudah saya tandatangani," ungkap Ikrar.
BPOM mengharapkan berbagai kebijakan tersebut dapat menjadi bantalan bagi industri farmasi yang selama ini masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Dengan ruang gerak yang lebih fleksibel dalam pengadaan bahan baku dan efisiensi proses regulasi, tekanan akibat pelemahan rupiah diharapkan tidak diteruskan menjadi kenaikan harga obat di tingkat konsumen.
"Badan POM berkomitmen untuk secara maksimal pelemahan rupiah jangan berpengaruh terhadap harga obat nasional kita," sebut Ikrar.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah dibuka melemah sebesar 0,11% ke level Rp17.998 pada hari ini dan terus berlanjut menyentuh level Rp18.000.
Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari Yen Jepang terhadap dolar AS melemah 0,11%, diikuti dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,03%, won Korea melemah 0,35%, dolar Hong Kong ikut melemah 0,03%.





