JAKARTA, DISWAY.ID-- Setelah melemah tajam hingga ke kisaran angka Rp 17.900, Indonesia kembali dihantam dengan kabar kembali melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi ke kisaran Rp 18.000.
Dilansir dari data Google Finance, angka dolar AS terhadap mata uang Rupiah kini sudah kembali meningkat sekitar 0,76 persen hingga ke kisaran Rp 18.001.
BACA JUGA:Jakarta Fair Kemayoran 2026 Digelar 32 Hari, Targetkan Transaksi Rp8 Triliun
Dalam penuturannya sendiri, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah yang saat ini tengah terjadi masih turut disebabkan oleh kondisi geopolitik Timur Tengah.
Menurutnya, tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi telah menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
BACA JUGA:Ganda Putri Pastikan Satu Tempat di Semifinal Indonesia Open 2026
"Kebutuhan domestik juga masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," ucap Destry dalam pesan singkat yang diberikan kepada Disway dan media lainnya secara daring, pada Kamis (04/06).
Dalam upaya untuk mengantisipasi dampak dari pelemahan Rupiah ini, Destry menyatakan bahwa BI akan tetap selalu meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
Selain itu, BI juga turut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
BACA JUGA:Heboh! Dua WNA Asal Nigeria Tewas dan Satu Dirawat di Cengkareng, Polisi Selidiki
"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," tutur Destry.
"Selain itu, BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso juga turut menuturkan bahwa Bank Indonesia akan terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki, untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik.
BACA JUGA:Purbaya Beberkan 17 Poin Penting di RUU P2SK yang Disahkan Jadi Undang-Undang
Salah satunya adalah dengan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.
- 1
- 2
- »





