Semua SPBU Wajib Campur Bensin dengan Etanol 5 Persen Mulai Semester II 2026

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mewajibkan seluruh badan usaha, baik itu BUMN maupun swasta, mencampur bensin dengan etanol atau bioetanol sebesar 5 persen (E5) akan dimulai semester II 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan pencampuran bioetanol tersebut hanya berlaku untuk bensin non-PSO atau nonsubsidi yang dijual oleh PT Pertamina (Persero) maupun badan usaha swasta lainnya.

"Jadi untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan usaha BBM wajib melakukan pencampuran, hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 4 Tahun 2025," ungkapnya saat Rapat Komisi XII DPR, Kamis (4/6).

Eniya mengatakan mandatori ini akan mulai diimplementasi di Pulau Jawa. Dalam realisasinya, pencampuran etanol dalam BBM nonsubsidi ini akan dilakukan di infrastruktur milik Pertamina yang sudah ada, dan diperkirakan akan terus bertambah.

Adapun Pertamina sudah menguji pasar produk bioetanol dengan nama Pertamax Green 95 sejak 2023. Dia menyebutkan, dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM yang akan diterbitkan bulan ini, Pertamina juga akan memperluas penjualan produk tersebut.

"Diperkirakan pencampuran bioetanol di dalam non-PSO itu nantinya akan menggunakan gerai-gerai yang sudah ada di Pertamina, dan dalam mandatori yang akan dikeluarkan di Keputusan Menteri pada bulan ini, ini akan juga menambah outlet-outlet dari delivery bioetanol," ungkap Eniya.

Dalam data yang ditampilkan, Kementerian ESDM akan memulai mandatori E5 pada tahun ini di Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, serta akan diperluas hingga Bali pada tahun 2027.

Pencampuran akan dinaikkan menjadi 10 persen atau E10 pada tahun 2028. Kemudian, pada tahun 2029 dan 2030, kebijakan mandatori E10 akan diperluas implementasinya hingga Lampung.

Sementara itu, penjualan Pertamax Green 95 secara terbatas oleh Pertamina dimulai pada tahun 2023 di 17 outlet, bertambah menjadi 107 outlet pada 2024, serta 177 outlet pada 2025. Hingga Maret 2026, terdapat 179 outlet yang menjual 7.572 kiloliter (KL) Pertamax Green 95 dengan 379 KL bioetanol.

Selama ini, kata Eniya, pasokan bioetanol untuk Pertamax Green 95 hanya disuplai oleh PT Energi Argo Nusantara (Enero). Ke depannya, industri pemasok bioetanol ini akan terus bertambah di seluruh Indonesia.

"Sebagai informasi bahwa saat ini pengembangan industri berbasis bioetanol itu mulai banyak dan kami mendukung semua industri yang bisa masuk ke dalam mandatori bioetanol ini," tegas Eniya.

Dia menyebutkan, sudah ada 3 pabrik baru yang memproduksi etanol fuel grade (FGE) dengan kadar lebih dari 99 persen, di antaranya PT Indonesia Ethanol Industry di Lampung sebanyak 20.000 KL, PT Madu Baru di Yogyakarta sebanyak 7.500 KL, PT Indo Acidatama di Solo sebesar 3.000 KL.

Sementara pabrik yang sudah beroperasi dan menyuplai kebutuhan bioetanol yakn PT Enero dan PT Molindo Raya Industrial di Jawa Timur masing-masing sebesar 30.000 KL dan 10.000 KL.

"Dari sini tiga perusahaan akan masuk ke dalam mandatori dan kita akan menentukan berapa banyak volume yang nanti ditetapkan di Keputusan Menteri," tandas Eniya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Reaksi Pihak Reza Gladys Usai Gugatan Perdata Nikita Mirzani Ditolak
• 6 jam lalucumicumi.com
thumb
Wamenperin Ungkap Faktor Industri Domestik Tak Terganggu Pelemahan Rupiah
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
BRIN Kaji Hidrogeokimia dan Gas Radon, Eksplorasi Mineral dan Mitigasi Geologi
• 26 menit lalubisnis.com
thumb
Kejagung Bakal Koordinasi dengan BGN Soal Nasib SPPG yang Terafiliasi Dadan Cs
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Warga Protes dengan Cara Ahmad Luthfi Respons Jalan Randublatung-Cepu yang Rusak, APBD Jateng Diubah
• 4 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.