Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda terkoreksi 83 poin ke level Rp18.046 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.966.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi akibat kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3% dan keseimbangan eksternal. Ini membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadao pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti.
"Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08%, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor," kata dia.
Pelemahan juga dipicu oleh Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2. Peringkat sementara untuk global medium-term note yang belum diterbitkan oleh Danantara Investment Management. Namun Moody’s menyampaikan outlook atas peringkat Danantara Investment Management berada di level negative.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.044 per Dolar AS, BI Perkuat Intervensi
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ganjar Pranowo Desak Pemerintah Lakukan 7 Langkah Darurat Ini
Sementara terkait outlook negatif tersebut, Moody’s menilai penilaian ini berdasarkan kaitan kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan pemerintah Indonesia sebagai pemilik penuh Danantara.
"Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia.. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat soveregin Indonesia melemah," kata dia.





