Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terus melemah sejak awal tahun, dan membuat kapitalisasi pasar menguap sebesar Rp5.730 triliun sejak awal 2026.
Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar pada awal tahun atau 2 Januari 2026 mencapai Rp16.014 triliun, atau setara US$957 miliar. Kala itu, IHSG berada pada level 8.748,13.
Sementara itu, pada hari ini, Rabu (4/6/2026), IHSG berada pada level 5.839,78 atau telah melemah 32,46% sejak awal tahun. Kapitalisasi pasar juga terpangkas menjadi Rp10.263 triliun, atau saat ini setara US$569 miliar.
Mengacu pada data RTI Infokom, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih pada seluruh pasar sebesar Rp56,36 triliun sejak awal tahun ini.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menuturkan kondisi ini terasa semakin kontras ketika beberapa bursa global justru masih mampu mencatatkan rekor baru masing-masing.
“Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” ucap Liza, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga
- Mencari 'Keran Bocor' yang Lemahkan IHSG dan Rupiah walau Intervensi Digencarkan
- Respons Istana soal Gejolak Rupiah dan IHSG
- IHSG Ditutup Melemah 1,70% ke 5.839, Saham TPIA hingga PANI Rontok
Menurutnya, setidaknya terdapat lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor saat ini. Pertama adalah governance & policy credibility pasca outlook negatif dari Moody's dan Fitch, dan kedua adalah tekanan Rupiah yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Kekhawatiran ketiga adalah menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, foreign outflow yang terus berlanjut, serta meningkatnya leadership dan policy communication risk di mata investor global.
Adapun Liza mengungkapkan fokus investor kini bergeser ke dua minggu paling krusial tahun ini. Pada 19 Juni akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review, disusul FTSE Rebalancing efektif 22 Juni serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni.
Setelah Moody's dan Fitch, FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia.
Liza juga mengungkapkan pasar tidak lagi mencari alasan untuk menjual. Pasar sedang mencari alasan untuk berhenti menjual.
“Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi ‘mengapa IHSG jatuh?’, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya,” tuturnya.





