Harga minyak dunia ditutup turun sekitar 3 persen pada Kamis (4/6/2026) seiring meningkatnya harapan investor terhadap berakhirnya perang AS-Iran.
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup turun sekitar 3 persen pada Kamis (4/6/2026) seiring meningkatnya harapan investor terhadap berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Optimisme itu muncul setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Israel dan Lebanon pada Rabu malam menyatakan telah sepakat menerapkan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan tercapainya perundingan antara Washington dan Teheran.
Iran sebelumnya mensyaratkan penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung Teheran di Lebanon, sebagai salah satu prasyarat kesepakatan.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup merosot 2,84 persen ke USD95,03 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menyusut 3,1 persen menjadi USD93,04 per barel.
“Meskipun kekhawatiran mengenai pasokan masih ada, pasar kembali sepenuhnya berfokus pada harapan penyelesaian konflik,” kata Partner Again Capital, John Kilduff, seperti dikutip Reuters.
Kilduff menambahkan, “Perkembangan terbaru antara Israel dan Lebanon ini menggugurkan hampir seluruh alasan yang mendukung kenaikan harga minyak hari ini.”
Sehari sebelumnya, kedua kontrak acuan tersebut sempat naik sekitar 2 persen setelah ketegangan baru di Timur Tengah, termasuk serangan Iran ke Kuwait dan serangan militer AS di dekat Selat Hormuz.
Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan harga minyak kini bukan hanya menghapus kenaikan pada perdagangan sebelumnya, tetapi juga bergerak lebih rendah setelah muncul kabar kesepakatan damai antara Israel dan Lebanon.
Menurut Kissler, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih nyaris terhenti. Namun, sejumlah kapal mulai berpindah posisi mendekati Teluk Persia, yang dapat menjadi sinyal bahwa jalur pelayaran tersebut akan kembali dibuka dalam waktu dekat.
Di sisi politik AS, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dikuasai Partai Republik pada Rabu menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump melanjutkan perang terhadap Iran.
Agar berlaku, resolusi tersebut masih memerlukan persetujuan Senat serta dukungan dua pertiga suara di kedua kamar untuk mengesampingkan veto Trump yang hampir pasti terjadi.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai harga minyak masih memiliki kecenderungan menguat selama arus pasokan tetap terganggu.
“Menurut pandangan kami, jalur dengan hambatan paling kecil bagi harga minyak masih mengarah ke atas selama pasokan tetap terbatas,” katanya.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan produksi minyak Rusia telah menurun sejak awal tahun akibat pemeliharaan kilang yang tidak direncanakan.
Ini menjadi pertama kalinya pejabat Rusia secara terbuka mengakui penurunan produksi tersebut.
Dari sisi fundamental, persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei, menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis Rabu.
Penurunan itu jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penyusutan sekitar 4 juta barel.
Sumber perdagangan juga menyebut harga minyak Iran mulai diperdagangkan dengan diskon untuk pertama kalinya sejak April.
Sementara itu, premi minyak mentah Rusia ikut menurun karena para pedagang memangkas harga guna menarik minat pembeli China di tengah permintaan yang lesu.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak yang kuat.
Sekretaris Jenderal Haitham Al Ghais mengatakan pada Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg bahwa OPEC tidak mengubah estimasi permintaan minyaknya meskipun konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz masih berlangsung. (Aldo Fernando)





