Bisnis.com, JAKARTA — Ketergantungan Indonesia terhadap susu impor kembali menjadi sorotan seiring pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku industri pengolahan susu. Pelaku usaha memilih untuk melakukan efisiensi dan perbaikan rantai pasok.
Di tengah ambisi pemerintah mempercepat swasembada susu dan memperkuat populasi sapi perah nasional, dominasi impor hingga 80% kebutuhan nasional membuat industri masih rentan terhadap gejolak nilai tukar.
Tekanan tersebut muncul ketika nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor susu maupun pengadaan sapi perah yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri, terutama Australia.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Makmun mengatakan pasokan susu nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor. Produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional, sementara sisanya dipenuhi dari pasar internasional.
Menurut dia, pelemahan rupiah memang berdampak terhadap biaya pengembangan industri susu nasional, khususnya pengadaan sapi perah impor yang menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan populasi ternak.
“Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah. Umumnya kita ngambilnya dari Australia. Dengan kenaikan dolar ada kenaikan dari harga sapinya,” ujar Makmun dalam peringatan Hari Susu Nusantara di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga
- Tancap Gas Emiten Hashim (WIFI) Susul Pelanggan Telkom (TLKM) via Internet Rakyat
- Kimia Farma (KAEF) Gelar RUPST, Cek Susunan Direksi & Komisaris Terbaru
- Konsumsi Susu Indonesia Masih Rendah, Industri Punya Ruang Ekspansi
Meski demikian, dia menilai dampak kenaikan tersebut masih relatif terkendali. Jika pada tahun lalu harga sapi perah bunting impor berada di kisaran Rp45 juta per ekor, tahun ini harga belum menembus Rp50 juta per ekor meski terjadi kenaikan.
“Kemarin tahun lalu rata-rata teman-teman mengimpor sekitar Rp45 juta per ekor untuk sapi perah bunting. Tahun ini tidak juga sampai Rp50 juta, masih di bawah itu,” katanya.
Bagi industri pengolahan susu, tekanan kurs memang sulit dihindari. General Manager Research and Development PT Indolakto Tjatur Lestijaman mengatakan sekitar 80% kebutuhan bahan baku susu nasional masih berasal dari impor sehingga pergerakan dolar memiliki pengaruh langsung terhadap biaya produksi.
EfisiensiMenurut dia, pelemahan rupiah meningkatkan biaya pengadaan bahan baku yang dibeli menggunakan mata uang asing. Namun, perusahaan berupaya agar kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
“Karena 80% kebutuhan susu masih impor dan harganya terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap bahan baku. Tetapi kami berkomitmen tidak akan 100% pass on ke konsumen,” ujarnya.
Tjatur menjelaskan industri saat ini lebih memilih melakukan berbagai program efisiensi untuk menjaga harga produk tetap terjangkau. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan efisiensi operasional pabrik hingga optimalisasi rantai pasok.
Menurutnya, daya beli masyarakat masih menjadi pertimbangan utama pelaku industri dalam menentukan harga jual produk susu di tengah tekanan biaya produksi.
“Kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami sehingga pengaruh inflasi dolar ini tidak 100% kami pass on ke konsumen,” katanya.
Dia berharap peningkatan produksi susu dalam negeri dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dengan meningkatnya kandungan bahan baku lokal, industri dinilai akan lebih tahan terhadap gejolak eksternal seperti fluktuasi nilai tukar.
Harapan serupa disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Widiastuti. Menurutnya, pemerintah bersama pelaku industri dan peternak tengah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus memperkuat produksi susu nasional.
Dalam jangka pendek, pemerintah fokus menjaga ketersediaan pasokan susu impor agar kebutuhan industri tetap terpenuhi. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah penggunaan kontrak pembelian jangka panjang guna mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
“Karena saat ini sekitar 80% masih impor, maka yang harus dijaga adalah ketersediaan pasokannya. Salah satunya melalui kontrak pembelian jangka panjang yang bisa mengurangi risiko fluktuasi rupiah,” ujar Widiastuti.
Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi negara asal impor serta efisiensi rantai pasok untuk menekan biaya logistik dan penyimpanan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan biaya yang selama ini muncul akibat tingginya ketergantungan terhadap impor.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan strategi jangka menengah dan panjang melalui penguatan sektor peternakan sapi perah domestik. Langkah tersebut mencakup pengembangan sentra peternakan, peningkatan produktivitas, perluasan kemitraan antara industri dan peternak, hingga dukungan pembiayaan murah bagi peternak rakyat.
Menurut Widiastuti, penguatan produksi susu nasional menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan industri terhadap gejolak eksternal.
Selama pasokan domestik masih berada di kisaran 20% kebutuhan nasional, industri akan tetap menghadapi risiko dari perubahan kurs maupun dinamika pasar global.
Karena itu, tantangan industri susu saat ini tidak hanya menjaga harga tetap terjangkau di tengah pelemahan rupiah, tetapi juga mempercepat transformasi sektor peternakan sapi perah agar ketergantungan impor yang selama puluhan tahun terjadi dapat mulai dikurangi.
Tanpa peningkatan produksi domestik yang signifikan, setiap gejolak nilai tukar berpotensi kembali menjadi ancaman bagi biaya produksi industri susu dan daya beli konsumen di dalam negeri.





