JAKARTA, DISWAY.ID – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah memasuki era baru yang dipenuhi ketidakpastian global, mulai dari rivalitas geopolitik, konflik antarnegara, fragmentasi ekonomi, hingga disrupsi teknologi yang bergerak sangat cepat.
Di tengah situasi tersebut, SBY menilai ekonomi akar rumput justru menjadi fondasi penting yang menjaga ketahanan bangsa. Menurutnya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani, nelayan, hingga pelaku usaha lokal terbukti mampu bertahan dan terus beradaptasi ketika guncangan global menghantam perekonomian.
Dalam pidato pembukaan The 2026 Asia Grassroots Forum, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.
BACA JUGA:Hubungan Prabowo dan Teddy Dibandingkan dengan Peran Sudi Silalahi dan SBY, Pengamat: Peduli Kasih Kue Ultah
“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.
SBY menambahkan selama beberapa dekade setelah Perang Dingin, dunia mengalami era globalisasi yang semakin meluas.
Perdagangan tumbuh pesat, integrasi ekonomi semakin dalam, dan teknologi mempercepat pertumbuhan.
BACA JUGA:Hati SBY Bergetar saat Beri Penghormatan untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
Kerja sama internasional, meskipun tidak sempurna, secara umum terus bergerak maju.
Banyak negara di Asia memperoleh manfaat besar dari periode tersebut. Itu adalah masa yang baik bagi kita semua.
"Namun hari ini, lingkungan global telah berubah. Rivalitas geopolitik semakin intens. Perang dan konflik terus terjadi di berbagai belahan dunia. Fragmentasi ekonomi semakin terlihat. Proteksionisme kembali menguat. Rantai pasok sedang ditata ulang. Disrupsi iklim semakin cepat. Pada saat yang sama, transformasi teknologi, terutama artificial intelligence dan digitalisasi, bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dan institusi untuk sepenuhnya mencermati dan mengimbangi," ujarnya.
BACA JUGA:Datang Bersama Keluarga, SBY Ramaikan Open House Lebaran di Istana
Dalam banyak hal, kata dia, ketidakpastian tidak lagi bersifat sementara.
Ketidakpastian telah menjadi bagian dari keseharian.
Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada pemerintah dan pasar keuangan, tetapi juga pada masyarakat biasa, para pekerja, petani, generasi muda, pelaku usaha, dan komunitas yang berusaha beradaptasi di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat.
- 1
- 2
- »





