REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Seolah telah menjadi pola yang berulang, setiap kali sebuah organisasi internasional mengutuk Israel atau mendesaknya untuk mematuhi hukum internasional, respons yang muncul hampir selalu sama.
Ragam reaksi tersebut yaitu tuduhan bias, penolakan terhadap temuan yang disampaikan, hingga serangan politik dan media terhadap lembaga yang bersangkutan.
Baca Juga
Amalan Spesial Pagi Hari yang Diwasiatkan secara Khusus Oleh Rasulullah SAW
Lebih dari 150 Ribu Warga Hengkang dari Israel dan tak Kembali, 6 Fakta Ini Ungkap Kebenarannya
Ilusi Kemenangan Benteng Beaufort dan Jebakan Hizbullah, Tentara Israel Bertumbangan 48 Jam Terakhir
Bahkan dalam beberapa kasus, Israel memilih menghentikan kerja sama atau memutus hubungan dengan organisasi tersebut.
Dengan semakin meluasnya kritik internasional terhadap perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 beserta berbagai dugaan pelanggaran yang menyertainya, pola respons tersebut kembali terlihat jelas. Peristiwa terbaru terjadi hanya beberapa hari lalu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Apa yang terjadi?
Pada Jumat lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan bahwa Israel dan Rusia dimasukkan ke dalam daftar hitam negara-negara yang diduga terlibat dalam tindak kekerasan seksual selama konflik bersenjata.
Menariknya, Israel tidak menunggu keputusan itu diumumkan secara resmi. Sehari sebelumnya, Kamis lalu, pemerintah Israel telah lebih dulu mengumumkan pembekuan hubungan dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.
"Hubungan kami dengan sekretaris jenderal ini telah berakhir," tulis Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, melalui platform X, dikutip dari Aljazeera, Jumat (5/6/2026).