Harga obat berpotensi mengalami tekanan kenaikan di tengah konflik global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher, meminta pemerintah memastikan ketersediaan dan keterjangkauan obat bagi masyarakat tetap terjaga.
“Yang harus menjadi perhatian utama adalah jangan sampai masyarakat, terutama pasien yang bergantung pada obat rutin, menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi dan konflik global,” kata Netty, Jumat (5/6).
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap adanya potensi kenaikan harga obat karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku farmasi impor.
Netty menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan farmasi nasional masih menghadapi tantangan yang serius.
“Kita perlu menjadikan situasi ini sebagai alarm untuk mempercepat kemandirian farmasi nasional,” kata Legislator dari Dapil Jawa Barat VIII itu.
“Ketergantungan yang terlalu besar terhadap bahan baku impor membuat sistem kesehatan kita rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global,” lanjutnya.
Ia pun mengapresiasi langkah BPOM dan pemerintah yang menyiapkan berbagai strategi mitigasi, mulai dari diversifikasi pemasok bahan baku, optimalisasi produksi dalam negeri, hingga penguatan pengawasan dan percepatan akses obat.
Namun Netty menegaskan, seluruh kebijakan tersebut harus berorientasi pada perlindungan masyarakat, khususnya pasien yang membutuhkan obat secara rutin.
“Pasien hipertensi, diabetes, jantung, kanker, maupun penyakit kronis lainnya membutuhkan obat setiap hari. Karena itu, stabilitas harga dan ketersediaan obat harus menjadi prioritas utama,” tegas Netty.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat produksi bahan baku obat dalam negeri melalui dukungan riset, insentif industri, dan kolaborasi lintas kementerian.
“Ketahanan kesehatan tidak cukup hanya dengan memiliki rumah sakit dan tenaga kesehatan yang baik. Kita juga harus memiliki kemandirian dalam penyediaan obat-obatan strategis agar tidak mudah terguncang oleh dinamika global,” jelasnya.
Selain itu, Netty meminta pemerintah melakukan pemantauan berkala terhadap harga obat di lapangan agar tidak terjadi lonjakan harga yang membebani masyarakat.
“Pemerintah perlu memastikan setiap penyesuaian harga dilakukan secara terukur dan proporsional. Jangan sampai akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial menjadi terganggu,” ujar Netty.
Netty menegaskan kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang harus dilindungi negara.
“Dalam situasi apa pun, negara harus hadir memastikan masyarakat tetap mendapatkan obat yang aman, tersedia, dan terjangkau,” terangnya.
“Jangan sampai kondisi global mengurangi hak rakyat untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak,” pungkas Netty.





