JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah derasnya arus media sosial, tren digital, dan hiburan modern yang digandrungi anak muda, seorang generasi Z (Gen Z) bernama Nouval (19) justru memilih jalan berbeda.
Hampir setiap pekan, Nouval menyempatkan diri datang ke Sanggar Silibet di Jalan Pengadegan Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ia berlatih lenong dan gambang kromong bersama para seniornya.
Perjalanan Nouval di dunia kesenian Betawi dimulai sejak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD). Awalnya, ia bergabung untuk belajar pencak silat. Namun, seiring waktu, ketertarikannya terhadap berbagai kesenian Betawi semakin tumbuh.
Baca juga: Menjaga Napas Lenong Betawi di Tengah Arus Deras Modernisasi
Saat memasuki jenjang sekolah menengah pertama (SMP), Nouval mulai serius menekuni lenong dan gambang kromong. Keputusan itu diambil karena ia tak ingin kedua kesenian tradisional tersebut hilang ditelan zaman.
"Bagus untuk melestarikan budaya Betawi, salah satunya. Untuk generasi anak-anak muda zaman sekarang kan susah diajak bergabung di kesenian. Jadi, saya tertarik saja untuk melestarikan," ungkap Nouval saat diwawancarai Kompas.com di Sanggar Silibet, Kamis (4/6/2026).
Menurut Nouval, ketika pertama kali bergabung, cukup banyak anak seusianya yang aktif datang ke sanggar.
Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu mulai meninggalkan kegiatan tersebut karena kesibukan kuliah maupun pekerjaan.
Kondisi itu membuat Nouval kini menjadi satu-satunya pemain lenong yang masih berusia belasan tahun di Sanggar Silibet.
Tantangan menjadi pemain lenong mudaMenjadi pemain lenong di usia muda bukan perkara mudah. Nouval harus menghadapi tantangan untuk tampil percaya diri di depan banyak orang sekaligus mampu menghibur penonton.
"Pasti pada awalnya terasa sulit, malu, dan gugup ya. Tetapi seiring berjalannya latihan, akhirnya bisa lepas saja di depan penonton. Karena tugas kita memang untuk menghibur, ya," sambung dia.
Baca juga: Ridwan Kamil Berkomitmen Perluas Pertunjukan Lenong ke Penjuru Jakarta
Selama berlatih di Sanggar Silibet, Nouval banyak belajar tentang teknik bermain lenong. Ia diajarkan cara mendalami karakter hingga menguasai dialog sesuai peran yang dimainkan.
Karena masih dalam tahap pembelajaran, Nouval biasanya mendapat peran sebagai anak-anak sehingga dialog yang harus dihafalkan belum terlalu banyak. Meski demikian, ia tetap bersemangat untuk terus belajar agar menjadi pemain lenong yang lebih baik.
Di balik proses tersebut, Nouval memiliki cita-cita besar untuk tetap berkarya di dunia seni, khususnya seni Betawi.
"Saya ingin tetap di bidang seni. Ingin lebih berkembang dan fokus di sana, tidak ada keinginan ke bidang lain," tutur dia.
Ketua Divisi Lenong Betawi Sanggar Silibet Kiki (38) mengakui bahwa mencari generasi muda yang tertarik menjadi pemain lenong tidaklah mudah.





