MALANG, 5 Juni 2026 – Tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sebuah gerakan nyata lahir dari kolaborasi lintas sektor di Malang Raya. Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub meluncurkan inisiatif “Beyond Waste” – sebuah terobosan mengubah limbah makanan hotel menjadi pakan ternak dan produk bernilai ekonomi.
Langkah ini bukan sekadar seremonial. Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menegaskan komitmennya terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujar Sugito dalam peluncuran di hotel setempat, Kamis (4/6/2026).
Dari Meja Sarapan ke Kandang TernakBagaimana caranya? Ternyata, volume sampah makanan di hotel sangat bergantung pada tingkat hunian. Wahyu Widianto, Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, membeberkan data mengejutkan.
“Jika kuota sarapan 250 orang, sampah yang dihasilkan 8–10 kilogram. Saat hunian melonjak hingga 500 orang, volume sampah naik ke 13–15 kilogram,” paparnya.
Hotel ini telah menetapkan batas maksimal food waste harian sebesar 15 kilogram sesuai standar jaringan Accor global. Roti sisa dari kafe dan bar diolah kembali menjadi hidangan penutup Om Ali. Stroberi yang kurang mulus bentuknya disulap menjadi selai. Adapun sisa makanan yang benar-benar tidak layak konsumsi dialokasikan untuk kompos dan pakan ternak.
Peluang Ekonomi dari Tumpukan SampahBaskoro, Founder Local Preneur, menekankan bahwa bisnis masa depan harus bertanggung jawab pada lingkungan. “Langkah yang diambil tidak harus muluk-muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu,” tegasnya.
Sementara itu, pakar lingkungan dari Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, mengingatkan bahwa limbah makanan yang dibiarkan begitu saja akan memperparah emisi gas rumah kaca dan merusak atmosfer.
“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran. Padahal, jika diolah dengan baik, limbah ini memiliki nilai ekonomi tinggi yang bisa menjadi sumber pendapatan baru,” ujar Dr. Tri Ida.
Namun, ia menyayangkan masih banyak pelaku industri dan restoran yang belum mengoptimalkan pengolahan limbah mereka.
Target Ambisius: 80 Persen Pengurangan LimbahAcara peluncuran yang dihadiri sekitar 50 delegasi dari industri perhotelan, UMKM kuliner, akademisi, dan NGO ini juga menghadirkan demonstrasi langsung pengolahan food waste menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.
Mengusung visi “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time” , gerakan Beyond Waste menargetkan tingkat kesadaran masyarakat sebesar 95 persen dan pengurangan limbah makanan hingga 80 persen. Inisiatif ini mendukung pencapaian SDGs, terutama SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan).





