Menjawab Teka-teki Sumber Api Spontan di Sleman

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Sudah dua pekan berlalu sejak kemunculan pertama api spontan di rumah seorang warga di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Penelitian ilmiah yang dilakukan para pakar pun mengerucut pada dua kemungkinan terkuat penyebab fenomena tersebut.

Aula kantor Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, dipenuhi puluhan orang, Kamis (4/6/2026), siang. Ada peneliti, akademisi, aparat instansi pemerintah pusat dan daerah, kepolisian, perwakilan warga, hingga wartawan.

Mereka semua hadir untuk mendengarkan pemaparan hasil penelitian sementara yang dilakukan sejumlah pihak terkait fenomena kemunculan api spontan (spontaneous ignition) yang terjadi di rumah Mutfiana (29), warga Desa Margomulyo, Seyegan.

Sejak 22 Mei 2026, tercatat sudah hampir 100 kali api yang menyala sendiri tanpa dipantik membakar berbagai barang di rumah tersebut. Kondisi itu membuat penghuni rumah yang terdiri dari tujuh orang mengungsi ke bangunan ruko di sebelah rumah.

Dua kampus negeri ternama di DIY pun menurunkan tim penelitinya untuk menguak fenomena ini, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta. Studi perteknikan di kedua kampus itu masuk dalam jajaran elite negeri ini.

UGM melibatkan tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik yang dipimpin Prof Alva Edy Tontowi. Tim itu terdiri dari peneliti lintas disiplin ilmu, yakni teknik geologi, teknik kimia, teknik geodesi, teknik fisika, teknik elektro, teknik sipil, teknik mesin, hingga teknik industri.

Baca Juga73 Kali Api Menyala Sendiri di Sebuah Rumah di Sleman, Ada Apa?

Adapun UPN “Veteran” Yogyakarta mengerahkan tim peneliti dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME). Tim itu dipimpin langsung oleh sang dekan, yakni Prof Basuki Rahmad.

Tim peneliti UGM, yang siang itu diwakili dosen teknik geologi Sarju Winardi, mendapat kesempatan pertama memaparkan hasil temuan sementaranya. Tim UGM melakukan observasi awal di rumah Mutfiana atau disapa Fia pada Sabtu (30/5/2026).

Saat itu, tim menindaklanjuti temuan petugas Gegana Polda DIY yang mendeteksi adanya gas metana (CH4) di titik kemunculan api di rumah tersebut. Tim pun memeriksa seisi rumah dengan kamera termal untuk mendeteksi sumber panas.

Sarju menjelaskan, kebakaran terjadi karena terpenuhinya syarat “segitiga api”, yakni adanya bahan bakar, sumber panas, dan oksigen. “Karena itu, fokus kami mencari ketiga variabel tersebut,” katanya.

Namun, hasil pengukuran kamera termal menunjukkan tidak ada indikasi anomali suhu yang signifikan. Panas di beberapa titik di rumah hanya sekitar 29 derajat celsius sehingga tak memungkinkan untuk menyulut kebakaran.

Hasilnya, selain gas hidrogen, tidak terdeteksi adanya gas lain yang mudah terbakar.

Belum puas, tim menerbangkan drone termal pada malam harinya untuk mengecek suhu dari ketinggian. Hasilnya juga tak ditemukan anomali yang signifikan. “Jadi, suhu yang terbaca oleh alat kami normal saja,” ujarnya.

Anomali mulai ditemukan dari variabel bahan bakar “segitiga api”. Pada Senin (1/6/2026), tim mendeteksi adanya konsentrasi gas hidrogen (H2) yang tinggi di beberapa titik di dalam rumah. Saat itu peneliti juga menyaksikan langsung sebuah kemunculan api spontan di salah satu kamar.

“Pada saat api menyala di kamar itu, kami melakukan deteksi dan terbaca gas hidrogen yang sangat tinggi, yakni sampai 40 ppm (parts per million). Normalnya, gas hidrogen di udara itu hanya 5 ppm,” tutur Sarju.

Untuk memastikan temuan itu, tim mengulangi pengukuran pada Rabu (3/6/2026). Pengukuran pun dilakukan oleh personel yang berbeda serta alat dengan spesifikasi berbeda pula.

“Hasilnya, selain gas hidrogen, tidak terdeteksi adanya gas lain yang mudah terbakar (flammable gas). Jadi, tim hanya mendeteksi gas hidrogen,” ucapnya.

Baca JugaSemburan Gas Berulang yang Membawa Korban di Sorik Marapi

Bahkan, pengukuran pada Rabu itu menunjukkan hasil yang jauh lebih tinggi ketimbang pengukuran pada Senin. Sarju mengungkapkan, kadar H2 tersebut mencapai angka 2.500 ppm. “Jadi, kesimpulan sementaranya, keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen. Itu terkonfirmasi sebagai evidence (bukti),” kata Sarju.

Hidrogen merupakan gas yang tak berbau dan berwarna. Gas itu pun sangat mudah terbakar, bahkan tanpa pemantik sumber panas besar. Aliran listrik statis dari tubuh manusia, seperti gesekan atau langkah kaki, sudah cukup untuk menyulut gas tersebut.

Dari temuan itu, tim menyusun hipotesis terkait kemungkinan asal gas hidrogen tersebut. Tim menduga gas itu berasal dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam di belakang rumah. Selama 16 tahun terakhir keluarga Fia memiliki usaha pemotongan ayam, yang bangunannya berada persis di sebelah rumah utama.

Sarju menjelaskan, limbah organik yang merembes ke dalam tanah selama bertahun-tahun kemudian berasosiasi dengan bakteri tertentu, salah satunya clostridium. Bakteri itulah yang secara alamiah memprosesnya menjadi gas hidrogen.

Baca JugaGas Meledak di Saluran Pembuangan Limbah

Gas tersebut kemudian terlepas ke permukaan melalui celah-celah di lantai rumah. Hidrogen lalu menempel di berbagai barang, seperti kain, kertas, plastik, dan kayu, sehingga ketika tersulut akan menyebabkan kebakaran.

Meski H2 bisa terbakar spontan, tim menduga ada kemungkinan kehadiran gas lain yang lebih mudah terbakar sendiri di udara, yakni fosfin (PH3). Namun, gas itu tak mudah terdeteksi karena jumlahnya kecil.

Sarju mengatakan, fosfin bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat, seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam. “Pembakaran dari gas fosfin ini yang kami duga memicu pembakaran hidrogen,” ujarnya.

Meski begitu, Sarju mengatakan, pihaknya masih berupaya mencari penjelasan mengapa kondisi ini hanya terjadi di tempat pemotongan ayam di rumah Fia dan tidak terjadi di tempat pemotongan ayam lainnya. “Jadi, ini kasus khusus. Kami masih mendiskusikan tentang ini di tim,” katanya.

Ada gelembung yang tekanannya kuat.

Di sisi lain, tim UPN “Veteran” Yogyakarta menelusuri kemungkinan sumber gas dari aspek geologi kawasan di sekitar rumah Fia. Hal ini setelah tim peneliti menemukan adanya singkapan batuan induk di dekat sungai yang berjarak sekitar 300 meter arah timur dari rumah Fia.

Basuki Rahmad menerangkan, batuan pasir dengan bagian bawahnya berupa batuan lanau (lempung bercampur pasir) itu berwarna gelap. Batuan ini dicurigai sebagai endapan kuarter material organik yang menyimpan gas alami, termasuk metana dan hidrogen.

Berdasarkan cerita penduduk, beberapa tahun lalu pernah terjadi pula peristiwa kebakaran dari api yang menyala sendiri di rumpun pohon bambu dekat sungai. Indikasi makin kuat ketika tim menemukan gelembung-gelembung gas di aliran sungai.

“Ada gelembung yang tekanannya kuat. Kami susuri sungai, ada microfracture (rekahan mikro) yang mengarah barat laut-tenggara,” ujarnya.

Baca JugaApi Spontan Masih Terus Muncul di Sleman, Peneliti Lacak Sumber Gas di Bawah Tanah

Dari indikasi awal tersebut, tim menduga kuat di lapisan bawah tanah area sekitar rumah Fia ada sebuah sumber gas dari batuan reservoir. Namun, hal itu masih harus dipastikan melalui penelitian lanjutan.

Tim peneliti UPN pun melakukan penelitian geolistrik di area tanah kebun dan persawahan yang membentang di belakang rumah Fia hingga tepi sungai. Area penelitian itu panjangnya sekitar 270 meter dan lebar sekitar 200 meter.

Penelitian ini bertujuan memetakan lapisan batuan di bawah tanah tanpa perlu menggali atau mengebor. Hal ini akan menyingkap pola batuan, struktur, atau fraktur di dalam tanah. “Hasil pemetaannya masih diproses di laboratorium. Tim juga masih terus bekerja di lapangan,” ucap Basuki.

Sementara itu, Koordinator Tim Peneliti UPN “Veteran” Yogyakarta Ardian Novianto mengatakan, gas hidrogen bisa terbentuk dari fenomena geologi. Dua jenis batuan yang dapat menghasilkan gas itu adalah ultrabasa dan vulkanik.

Kalau CH4 (metana) yang keluar, baik natural maupun artifisial, itu yang ’jalan-jalan’ sebetulnya H2 (hidrogen).

“Batuan ultrabasa di wilayah DIY tidak ada, paling dekat di Kebumen (Jawa Tengah). Tapi, batuan vulkanik dimungkinkan karena tanah di sini kebanyakan tanah vulkanik,” ujar Ardian.

Tim peneliti UPN pun melakukan pengukuran geomagnetik untuk mendeteksi ada tidaknya batuan jenis itu di bawah tanah. “Baru hari ini kami lakukan jadi belum ada hasilnya. Nanti semua data akan kami analisis lebih jauh,” tutur Ardian.

Sementara itu, pakar dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Handoko Teguh Wibowo, menduga, fenomena di rumah Fia itu merupakan kombinasi antara gas artifisial dan natural. Gas artifisial terbentuk akibat aktivitas manusia, sedangkan gas natural dibentuk secara geologis oleh alam.

“Kalau CH4 (metana) yang keluar, baik natural maupun artifisial, itu yang ’jalan-jalan’ sebetulnya H2 (hidrogen). Jadi, H2 menyambar CH4, terus menyala,” kata Handoko, yang juga pakar dalam menangani gas-gas liar bertekanan rendah.

Baca JugaPunya Gas Alam Banyak, Kenapa Indonesia Impor Elpiji Besar-besaran?

Apa pun itu, dia menambahkan, gas tersebut bersifat mudah terbakar, termasuk tersulut secara spontan tanpa sumber panas besar. Kondisi ini pun perlu dimitigasi agar tak memunculkan risiko bahaya.

Prinsipnya, gas yang terperangkap di bawah tanah itu harus dirilis ke permukaan secara aman. “Syukur-syukur bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif,” ujar Handoko.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IShowSpeed Rilis World Cup (Champions), Disebut Lebih Hype dari Lagu Resmi FIFA
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Bagi Dividen Rp30 per Saham, BALI Incar Omzet Rp1,22 Triliun
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
KAI Bakal Luncurkan Kereta Mewah yang Terinspirasi Orient Express di Eropa
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Google Mau Lepas 64 Juta Nyamuk Pembawa Bakteri Wolbachia di AS
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Terungkap! Shenina Cinnamon Ternyata Totalitas Saat Jadi Penggemar BLACKPINK
• 22 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.