Industri manufaktur nasional sangat sensitif dengan pelemahan tukar rupiah. Bagaimana tidak, sekitar 70 persen bahan baku dan barang antara industri manufaktur nasional masih berantung pada impor. Artinya, ketika rupiah melemah, biaya input impor meningkat dan langsung masuk ke cost of goods sold.
Kamis (4/6/2026), kurs rupiah terhadap dolar AS menembus level Rp 18.000 yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagaimana dampaknya terhadap manufaktur? Bagaimana pelaku industri bersiasat untuk bertahan?
Kompas mewawancarai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani dan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto, Kamis (4/6), secara terpisah. Berikut petikannya:
Shinta W Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo): dampak pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya dilihat dari level kurs semata, tetapi dari transmisi pelemahan rupiah terhadap struktur biaya produksi, biaya pembiayaan, margin usaha, dan kepastian dalam mengambil keputusan bisnis. Tekanan terhadap rupiah sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa.
Bagi industri manufaktur, pelemahan rupiah menjadi sangat sensitif karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor, sekitar 70%. Artinya, ketika rupiah melemah, biaya input impor meningkat dan langsung masuk ke cost of goods sold.
Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi. Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau externally driven cost pressure.
Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki): depresiasi rupiah memperberat beban industri, termasuk industri keramik. Apalagi ini terjadi ketika tarif HGBT (harga gas bumi tertentu) naik menjadi 7 dolar AS per MMBTU (million british thermal unit) dari sebelumnya 6 dolar AS. Penyesuaian itu sebenarnya masih dapat ditoleransi oleh pelaku usaha, asalkan pasokan gas di lapangan tersedia sesuai kebutuhan.
Persoalan lain, selama ini transaksi pembelian gas dalam skema HGBT harus menggunakan denominasi dolar AS. Ini memicu tekanan ganda (double squeeze) terhadap struktur biaya produksi industri keramik nasional.
Jadi, pertama, harga gas naik. Ini kami terpukul. Kedua, kami membayar gas dengan menggunakan dolar AS. Bisa dibayangkan, ini dua impact. Makanya, (ini ibarat) sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Membayar dalam dolar AS itu sangat memberatkan pelaku usaha. Kenapa, sih, tidak bayar pakai. Gas ini dari bumi Indonesia, transaksi juga di domestik. Ini sudah berkali-kali kami keluhkan.
Shinta W Kamdani: Kalau dilihat dari sisi indikator aktivitas industri, kita melihat bahwa sektor manufaktur masih berada dalam fase yang cukup menantang. PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 memang naik dari 49,1 ke 50,0. Tapi angka itu masih tepat berada di ambang batas antara kontraksi dan ekspansi.
Komponen-komponen di dalamnya juga masih menunjukkan tekanan, seperti output yang turun selama tiga bulan berturut-turut, penurunan pembelian bahan baku, berkurangnya inventori input, penurunan tenaga kerja, serta kontraksi ekspor yang cukup dalam. Jadi, perbaikan PMI lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi, belum sebagai pemulihan manufaktur yang kuat dan merata.
Edy Suyanto: sebenarnya kebijakan HGBT yang berjalan sejak tahun 2020 menjadi penyelamat yang menghidupkan kembali industri keramik nasional.
Saat ini, kondisi industri justru dihadapkan pada persoalan pasokan gas. Tarif HGBT kini naik menjadi 7 dolar AS per MMBTU.
Persoalan semakin kompleks karena pasokan gas HGBT yang diterima industri hanya 40-45 persen dari kebutuhan. Kekurangan pasokan harus dipenuhi melalui gas hasil regasifikasi LNG dengan harga yang mahal sekitar 21 dolar AS per MMBTU.
Akibatnya, harga gas rata-rata yang dibayar industri keramik saat ini mencapai sekitar 15 dolar AS per MMBTU, atau lebih dari dua kali lipat harga HGBT. Kalau dirata-ratakan, industri keramik membayar gas sekitar 15 dolar AS per MMBTU.
Industri keramik Indonesia menghadapi biaya gas yang lebih tinggi dibandingkan negara pesaing di ASEAN, seperti Thailand dan Malaysia, meskipun Indonesia merupakan produsen gas.
Kondisi sekarnagmembuat biaya energi meningkat tajam. Jika pada awal penerapan HGBT porsi biaya energi hanya 27-28 persen dari total biaya produksi, saat ini angkanya berpotensi melonjak hingga melampaui 45 persen. Padahal, biaya gas menyumbang sekitar 40 persen dari keseluruhan biaya produksi keramik.
Lonjakan biaya energi berpotensi menggerus margin keuntungan industri 3-4 persen. Cukup signifikan mengingat rata-rata margin usaha di sektor keramik dan beberapa sektor industri manufaktur lainnya hanya 9-10 persen.
Shinta W Kamdani: dalam praktiknya, dampak pelemahan rupiah tidak seragam antar industri. Perusahaan yang memiliki kandungan lokal lebih tinggi atau memiliki natural hedge dari ekspor tentu relatif lebih resilien. Namun bagi industri yang mayoritas inputnya masih impor dan pasarnya domestik, tekanan akan lebih besar.
Margin usaha dapat semakin tertekan, arus kas menjadi lebih ketat, dan keputusan bisnis akan semakin konservatif. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan biasanya akan melakukan review terhadap biaya produksi, kontrak pembelian bahan baku, strategi pricing, inventory management, hingga rencana ekspansi.
Skenario terburuknya, apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan dan tidak diimbangi dengan stabilisasi biaya energi, logistik, dan pasokan bahan baku, maka tekanan terhadap manufaktur dapat semakin dalam.
Keputusan investasi dan ekspansi sangat bergantung pada kepastian. Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati.
Jadi, bukan berarti semua investasi langsung berhenti, tetapi banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil.
Edy Suyanto: tingginya beban biaya gas dan pelemahan rupiah berpotensi mengancam tingkat utilisasi industri keramik. Daya saing industri keramik nasional akan semakin melemah. Industri juga akan semakin rentan menghadapi gempuran produk impor.
Shinta W Kamdani: dalam situasi seperti sekarang, pelaku usaha melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga keberlanjutan operasional. Strategi yang banyak dilakukan adalah efisiensi operasional, pengendalian biaya non-esensial, penguatan manajemen persediaan, penyesuaian sumber pasokan, serta penundaan sementara terhadap ekspansi atau investasi baru yang belum mendesak.
Selain itu, perusahaan mulai memperkuat diversifikasi pasar dan rantai pasok. Bagi industri yang memungkinkan, pelaku usaha berupaya meningkatkan penggunaan bahan baku lokal untuk mengurangi eksposur terhadap nilai tukar. Tentu ini tidak bisa dilakukan secara instan karena bergantung pada kesiapan industri hulu, kualitas bahan baku domestik, kapasitas produksi, harga, serta kepastian pasokan.
Sebagian pelaku usaha juga menggunakan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar, terutama perusahaan yang memiliki kewajiban valas atau kebutuhan impor rutin. Namun hedging juga memiliki biaya dan tidak semua pelaku usaha, khususnya skala menengah dan kecil, memiliki akses atau kapasitas yang sama untuk menggunakan instrumen tersebut.
Yang juga penting, dunia usaha tetap berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan stabilitas tenaga kerja. Dalam banyak kasus, perusahaan memilih menyerap sebagian kenaikan biaya melalui efisiensi dan penyesuaian margin agar tidak seluruh beban dialihkan kepada konsumen.
Edy Suyanto: Perusahaan tidak bisa serta-merta menaikan harga produk keramik ke konsumen karena menimbang daya beli yang belum pulih. Langkah yang ditempuh saat ini adalah melakukan efisiensi internal, meningkatkan produktivitas, serta menekan margin keuntungan perusahaan.
Shinta W Kamdani: harapan utama dunia usaha adalah agar pemerintah bersama otoritas moneter dapat terus menjaga macroeconomic credibility dan market confidence. Stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting karena rupiah yang terlalu volatil membuat pelaku usaha sulit melakukan perencanaan biaya, pricing, pembelian bahan baku, dan keputusan investasi.
Namun, stabilitas makro juga perlu diimbangi dengan kebijakan yang langsung memperkuat daya tahan sektor riil. Dunia usaha membutuhkan langkah konkret untuk menurunkan sumber-sumber high cost economy mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, biaya pembiayaan, hingga cost of compliance.
Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing. Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri.
Edy Suyanto: harapan kami, untuk pembelian gas HGBT menggunakan rupiah.





