jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama rombongan bertemu secara berturut-turut dengan pimpinan Partai Fretilin, Partai Demokrat Timor Leste, Partai Pembebasan Rakyat (PLP), serta Partai KHUNTO di Timor Leste, Kamis (4/6).
Sehari sebelumnya, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta serta berdialog dengan pimpinan Partai CNRT.
BACA JUGA: Sekjen PDIP Tiba di Dili, Bahas Rencana Megawati ke Timor Leste Terima Penghargaan
Hasto menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh berbagai kalangan di Timor Leste.
Semisal, kata dia, kedatangan rombongan PDIP si kantor Partai KUNTHO disambut dengan tari tarian dan yel-yel parpol tersebut.
BACA JUGA: PDIP Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Timor Leste
"Kami diberi pengalungan tais dan dihidangkan pinang sirih, sebagai tradisi untuk menyambut tamu. Ternyata banyak dari masyarakat yang hadir yang menyatakan sebagai pengurus maupun simpatisan PDIP," urai Hasto dalam keterangan persnya, Jumat (5/6).
Alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) itu mengatakan lokasi kantor Partai KHUNTO sebenarnya masuk ke pinggiran.
BACA JUGA: PDIP dan Fretilin Perkuat Dialog Demokrasi, Hasto Sebut Punya Platform Inklusif Sama
Sekjen PDIP menyikapi itu dengan mengutip pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mengatakan bahwa kantor partai harus berada di tengah-tengah rakyat.
"Kami merasakan jati diri kami di tengah-tengah simpatisan Partai KHUNTO," sebut Hasto.
Hasto melanjutkan dialog yang berlangsung dengan para pemimpin partai politik di Timor Leste berjalan terbuka dan konstruktif.
"Berbagai isu dibahas, mulai dari penguatan demokrasi, kerja sama antarpartai politik hingga upaya mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara yang memiliki kedekatan sejarah dan geografis," lanjut Hasto.
Dia mengatakan rakyat di Timor Leste antusias terhadap kehadiran Megawati ke negara beribu kota Dili itu pada Juli 2026.
"Dalam pertemuan, kepada kami dijelaskan bagaimana sambutan terhadap Ibu Mega yang luar biasa, dimana rakyat antusias mengelu-elukan Ibu Mega di sepanjang jalan," katanya.
Sebab, kata Hasto, kebijakan Megawati semasa memimpin Indonesia mampu memulihkan hubungan bilateral dan mencairkan ketegangan pasca-konflik antara Indonesia dan Timor Leste.
Misalnya, Megawati mengambil langkah diplomatik dengan hadir dan menjadi saksi dalam upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2002.
"Ketika semua pemimpin dunia sudah hadir, termasuk George Bush. Ibu Mega datang terakhir, dijemput Xanana sendiri dengan pelukan hangat laksana saudara," urai Hasto.
Dalam kunjungan ini, Hasto didampingi Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi Andreas Hugo Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDI Perjuangan Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDI Perjuangan Hanjaya Setiawan.
Mengakhiri agenda hari kedua di Dili, Hasto dan delegasi berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili.
Mereka berdialog dengan Acting Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Dili, Banga Malewa, guna memperoleh gambaran perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste serta berbagai persiapan terkait agenda kunjungan kenegaraan yang akan datang.
Selain itu, Hasto dan rombongan juga bertemu dengan diplomat senior Timor Leste sekaligus Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Ermenegildo "Kupa" Lopes.
Kupa Lopes dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Dalam berbagai kesempatan, Kupa Lopes bahkan telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Megawati.
Kehadiran Hasto dan delegasi PDI Perjuangan di Dili merupakan bagian dari agenda koordinasi menjelang kunjungan Megawati ke Timor Leste pada Juli mendatang.
Kunjungan nanti dilakukan atas undangan Presiden Jose Ramos-Horta yang akan menganugerahkan penghargaan Grand Collar Order of Timor-Leste. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Daftar 26 Pemain Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026
Redaktur : Rah Mahatma Sakti
Reporter : Aristo Setiawan




