5 Titik Krusial Rupiah dalam 2 Tahun: Bagaimana di Awal Era Prabowo?

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda bergerak cukup volatil sejak 2024 atau dalam dua tahun terakhir. Rupiah beberapa kali mampu menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tetapi di sisi lain juga berulang kali mengalami tekanan besar.

Dalam periode tersebut, ada beberapa titik penting ketika rupiah berhasil bangkit cukup kuat, maupun saat mata uang Garuda melemah tajam hingga menembus level psikologis baru.

Berikut CNBC Indonesia telah merangkum lima titik penguatan dan pelemahan rupiah dalam dua tahun terakhir yang menarik untuk dibahas.

1. April 2024: Rupiah Mendadak Terpukul Tajam

Salah satu titik pelemahan paling tajam rupiah terjadi pada 16 April 2024. Saat itu, rupiah melemah dari level Rp15.840/US$ pada 15 April 2024 terdorong naik hingga menembus level Rp16.170/US$ pada 16 April 2024. Rupiah tertekan 330 poin hanya dalam satu hari perdagangan, atau melemah sekitar 2,08%.

Tekanan tajam pada rupiah saat itu disebabkan oleh faktor eksternal, yakni akibat memanasnya geopolitik di Timur Tengah. Iran meluncurkan serangan langsung ke Israel pada 13 April 2024 waktu setempat, menggunakan drone dan rudal. Serangan itu menjadi serangan langsung pertama Iran ke wilayah Israel dan meningkatkan kekhawatiran terhadap konflik yang lebih luas.

Baca: IHSG Kritis, Saham Konglo Mana Paling Babak Belur?

Kekhawatiran pasar semakin besar karena Timur Tengah merupakan kawasan penting bagi pasokan energi global. Saat tensi geopolitik meningkat, investor biasanya cenderung mengurangi aset berisiko dan masuk ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut berada di bawah tekanan.

2. Agustus-September 2024: Rupiah Bangkit di Era Awal Prabowo dan Pemangkasan Bunga The Fed

Setelah sempat tertekan cukup dalam pada pertengahan 2024, rupiah mulai menunjukkan pemulihan yang kuat pada Agustus 2024. Pada 6 Agustus 2024, rupiah masih berada di level Rp16.160/US$.

Namun, hanya dalam beberapa hari perdagangan, mata uang Garuda berhasil menguat tajam ke posisi Rp15.430/US$ pada 20 Agustus 2024.

Artinya, dalam waktu singkat, rupiah menguat sekitar 730 poin atau sekitar 4,52%. Penguatan ini menjadi salah satu fase rebound paling mencolok dalam dua tahun terakhir.

Menariknya, penguatan rupiah tidak berhenti pada Agustus. Tren positif tersebut berlanjut hingga September 2024. Rupiah bahkan sempat masuk ke area Rp15.100-an/US$ pada akhir September.

Puncaknya terjadi pada 25 September 2024, ketika rupiah mampu tampil perkasa hingga ke level Rp15.095/US$. Posisi ini menjadi level terkuat rupiah sejak saat itu sampai sekarang atau dalam dua tahun terakhir.

Keberhasilan rupiah dalam mengungguli grenback pada kala itu tidak lepas dari faktor internal dan eksternal.

Dari dalam negeri, rupiah ditopang oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Bank Indonesia saat itu menyebut penguatan rupiah terjadi karena konsistensi bauran kebijakan moneter BI, yang juga diikuti oleh masuknya aliran modal asing.

Baca: Rupiah Ambruk, 6 Emiten Ini Bisa Masuk Zona Merah

Periode ini juga menjadi momen penting bagi Indonesia karena resmi memasuki era baru di bawah Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024.

Selain itu, inflasi domestik yang relatif terkendali ikut memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. LPEM FEB UI mencatat inflasi utama Indonesia pada Agustus 2024 berada di 2,12% secara tahunan, sedikit turun dari 2,13% pada Juli 2024. Kondisi inflasi yang rendah membuat stabilitas makro Indonesia terlihat lebih terjaga di mata pelaku pasar.

Momentum penguatan rupiah juga terjadi di tengah perubahan besar arah suku bunga global.

Saat itu, pasar cukup yakin bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), akan mulai melakukan pemangkasan suku bunga.

Dalam momentum tersebut, Bank Indonesia ikut mengambil langkah pelonggaran dengan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada 18 September 2024.

Keputusan BI ini juga sesuai dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah, serta upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Pada bulan yang sama, The Fed kemudian benar-benar menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin ke kisaran 4,75%-5,00%.

Perubahan arah kebijakan moneter global ini membuat dolar AS tidak sekuat sebelumnya. Di saat yang sama, investor global mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk obligasi dan saham di negara berkembang seperti Indonesia.

3. 8 April 2025: Rupiah Koreksi Hampir 2% di Awal Perang Dagang

Pada Selasa (8/4/2025), rupiah kembali menghadapi tekanan besar, tepat setelah pasar keuangan domestik kembali aktif usai libur panjang Hari Raya Idul Fitri.

Mengacu pada data, rupiah yang pada Senin (7/4/2025) masih berada di level Rp16.555/US$, langsung melemah tajam ke Rp16.860/US$ pada Selasa (8/4/2025). Artinya, rupiah tertekan 305 poin hanya dalam satu hari perdagangan, atau melemah sekitar 1,84%. Pergerakan ini menjadi salah satu tekanan harian terbesar terhadap rupiah sepanjang 2025.

Tekanan terhadap rupiah saat itu tidak lepas dari akumulasi sentimen negatif global yang terbentuk ketika pasar Indonesia sedang libur panjang. Faktor utamanya datang dari pengumuman kebijakan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 April 2025.

Baca: Data Bicara: Rupiah Bisa Bangkit Rp500 Usai Jatuh, Butuh Berapa Hari?

Kebijakan tersebut diterapkan secara luas ke banyak negara. AS menetapkan tarif dasar atau baseline tariff sebesar 10% untuk impor dari berbagai negara, lalu mengenakan tarif tambahan yang lebih tinggi kepada negara-negara tertentu yang dianggap memiliki hambatan dagang besar terhadap produk AS.

Indonesia termasuk negara yang ikut terdampak.

Dalam skema tarif tersebut, AS menilai Indonesia seolah mengenakan hambatan dagang sebesar 64% terhadap produk AS, dengan perhitungan yang tidak hanya mencakup tarif, tetapi juga hambatan non-tarif dan faktor lain.

Dari angka itu, AS kemudian menetapkan tarif resiprokal sebesar 32% untuk barang asal Indonesia, atau setengah dari angka yang diklaim sebagai hambatan dagang Indonesia terhadap AS.

4. Akhir April-Mei 2025: Rupiah Rebound

Meski sempat tertekan tajam pada awal April 2025, rupiah kemudian menunjukkan perlawanan.

Pada Senin (28/4/2025), rupiah masih berada di posisi Rp16.850/US$. Namun, pada Jumat (2/5/2025), rupiah berhasil menguat ke level Rp16.430/US$.

Dalam periode singkat tersebut, rupiah menguat sekitar 420 poin atau sekitar 2,49%. Pergerakan ini menjadi salah satu rebound terkuat rupiah dalam dua tahun terakhir.

Penguatan rupiah kemudian berlanjut sepanjang Mei 2025.

Setelah berada di Rp16.430/US$ pada 2 Mei 2025, rupiah masih mampu bergerak lebih kuat hingga menyentuh area Rp16.100-an/US$ pada akhir Mei. Sebelum kembali bergerak melemah setelahnya.

Baca: Bersiaplah Hadapi Kiamat Lapangan Kerja & Gejolak Politik Akibat AI

Penguatan rupiah saat itu terjadi setelah tekanan dari isu tarif resiprokal Amerika Serikat mulai mereda. Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda penerapan sebagian tarif resiprokal selama sekitar 90 hari, sehingga pasar melihat ada ruang negosiasi sebelum kebijakan tersebut benar-benar diterapkan secara penuh.

Keputusan ini memberi sedikit ruang napas bagi pasar keuangan global. Kekhawatiran terhadap perang dagang memang belum hilang, tetapi tekanan jangka pendek mulai mereda. Kondisi tersebut membuat investor kembali lebih berani masuk ke aset berisiko, termasuk aset negara berkembang.

5. April-Juni 2026: Rupiah Tembus Rp17.000, Lalu Rp18.000/US$

Setelah beberapa kali mencoba menembus level psikologis Rp17.000/US$ namun masih gagal, rupiah akhirnya resmi melewati level tersebut pada awal April 2026.

Tepatnya pada Senin (6/4/2026), rupiah ditutup melemah 0,24% ke level Rp17.030/US$. Sebelumnya, pada Jumat (3/4/2026), rupiah masih berada di posisi Rp16.990/US$.

Namun, pelemahan rupiah ternyata semakin dalam. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan, mata uang Garuda kembali menembus level psikologis penting berikutnya, yakni Rp18.000/US$.

Pada Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Pelemahan masih berlanjut tipis pada Jumat (5/6/2026), ketika rupiah berada di posisi Rp18.025/US$.

Baca: Ini Perjalanan Rupiah dari Rp17.000 - Rp18.000, Ini Titik Krusialnya

Artinya, sejak pertama kali menembus Rp17.000/US$ pada 6 April 2026 hingga berada di Rp18.025/US$ pada 5 Juni 2026, rupiah sudah melemah sekitar 995 poin atau sekitar 5,84%.

Tekanan terhadap rupiah pada periode ini tidak hanya datang dari faktor eksternal, tetapi juga dari dalam negeri.

Dari sisi domestik, pasar semakin mencermati kondisi fiskal Indonesia, terutama setelah defisit APBN 2025 hampir menyentuh batas 3% terhadap PDB. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih sensitif terhadap arah belanja, pembiayaan, dan kemampuan pemerintah menjaga ruang fiskal pada 2026.

Sementara dari sisi eksternal, tekanan datang dari memanasnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut membuat sentimen risiko global memburuk. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya cenderung mencari aset aman atau safe haven, salah satunya dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Pertemuan Aliansi dengan Kemendagri Bikin PPPK Paruh Waktu Gembira, Pintu Terbuka
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Rupiah Melemah, Apa Kabar Mahasiswa RI di Luar Negeri?
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Utang Pinjol Warga RI Tembus Rp 102 Triliun per April 2026, Naik 26,11 Persen
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Nyatakan Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Diduga Berawal dari Rem Panas, Truk BBM 25 Ribu Liter Terbakar di Tol Cisumdawu
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.