Produk Mebel RI Kalah Saing dengan Cina & Vietnam Gegara Penguasaan Teknologi Minim

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebut produk-produk furnitur dan olahan kayu lainnya asal Tanah Air dinilai kurang kompetitif ketika diperdagangkan di pasar global. Sebabnya, penguasaan teknologi pada proses produksi oleh para pelaku usaha maupun pengrajin domestik masih tergolong rendah.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menjelaskan, produk-produk mebel RI sebenarnya memiliki keunggulan dari segi keunikan dan spesifikasi desain bila dikomparasi dengan produk dari negara lain di berbagai pameran dunia seperti di Milan, Cologne, Carolina Utara, hingga Shanghai. Namun, keunikan tersebut belum ditopang dengan proses produksi yang efisien.

"Kami menyadari di balik produk yang kami tampilkan masih ada pekerjaan rumah besar sekali. Kalau di-compare dengan negara lain seperti misalnya Vietnam, Malaysia, apalagi Cina, barang-barang yang kita produksi itu dianggap relatif mahal, bisa selisih 30% lebih mahal. Salah satunya indikatornya karena teknologi," ungkap Sobur di Surabaya, Jumat (5/6/2026).

Ia menyebut, keunikan produk seharusnya tidak membuat harga jual menjadi tidak kompetitif. Berkaca pada industri barang mewah (branded) yang memproduksi parfum misalnya, Sobur menjelaskan margin keuntungan yang besar didapatkan karena nilai merek dan keunikan, tetapi proses produksinya tetap wajib dijalankan secara efisien melalui modernisasi mesin.

"Jadi, barang itu unik, tidak berarti harus menjadi mahal. Pengertiannya begitu. Kalaupun menjadi mahal, keuntungannya yang besar, tetapi proses produksinya harus efisien," sebutnya.

Ia pun memaparkan bagaimana Cina mampu mendominasi pasar mebel global karena adopsi teknologi manufaktur yang berjalan masif. Salah satu kawasan di Cina, yaitu Nankang, mampu mencatatkan output ekspor furnitur yang sangat besar berkat ekosistem teknologi yang baik.

Baca Juga

  • Bidik Posisi Pusat Furnitur Dunia, HIMKI Minta Indonesia Belajar Dari Nankang
  • Industri Furnitur Beberkan Jurus Jitu Hadapi Tekanan Konflik Global
  • HIMKI Bidik Ekspor Furnitur US$6 Miliar, Siapkan Strategi Jemput Bola ke Pasar Global

"Teknologi yang dibawa oleh Cina yang menjadi dasar pertumbuhan ekspornya mereka yang terbesar di dunia saat ini output-nya itu mencapai sekitar ¥200 triliun atau sekitar US$250 miliar, sangat besar. Itu sudah berkali-kali kali lipat dari ekspor nasional kita. Nah, di sinilah pentingnya teknologi ini," tegasnya.

Meski begitu, Sobur mengakui adanya tantangan dalam upaya modernisasi industri furnitur nasional karena kesenjangan teknologi. Industri mebel Tanah Air saat ini dinilai belum siap menyerap teknologi tingkat tinggi yang diterapkan di negara maju sehingga adopsi teknologi harus disesuaikan dengan kapasitas industri lokal saat ini.

Lebih lanjut, di kawasan Asia Tenggara saja, Sobur mengakui bahwa Indonesia yang memiliki populasi hampir 300 juta jiwa juga masih kalah tertinggal dari Vietnam dalam hal nilai ekspor furnitur.

"Kita mau mengumumkan ke dunia bahwa kita juga menjadi produsen terbesar, paling tidak di kawasan Asia Tenggara. Namun, saat ini pasar dikuasai Vietnam. Rahasianya apa? Teknologi dan inovasi yang sangat kuat. Tidak mungkin memproduksi kursi dalam skala besar hanya mengandalkan pahat manual," tuturnya.

Sebagai langkah nyata membangun ekosistem manufaktur yang efisien, HIMKI pun berupaya aktif dengan menghadirkan pameran mesin-mesin pengolahan kayu dan furnitur global di dalam negeri, seperti Indonesia Forestry and Woodworking Machinery Expo (Indowood Expo) 2026. Menurut Sobur, Surabaya dipilih sebagai hub utama karena memiliki kekuatan untuk memfasilitasi kebutuhan teknologi para pelaku usaha.

"Surabaya memiliki kontur yang bagus sekali, dekat dengan pelabuhan, dan ekosistemnya terbangun dengan baik. Kalau kita membangun industri manufaktur di level global atau Asia, maka memang akhirnya kita akan melihat Surabaya ini paling penting," jelasnya.

Mengingat industri domestik belum mampu memproduksi mesin furnitur secara mandiri, HIMKI menekankan pentingnya keterbukaan terhadap impor teknologi mesin demi mengejar ketertinggalan produktivitas dari negara-negara lain. 

"Karena mesin ini belum bisa kita produksi, kita harus tahu diri. Membuat furniturnya saja masih susah, apalagi bikin mesin furnitur. Mau tidak mau, kita masih harus memilih [impor teknologi] untuk saat ini," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Israel Kembali Bombardir Gaza, 11 Orang Tewas
• 6 jam laludetik.com
thumb
Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.036 per Dolar AS
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kalimat Orang Tua yang Bisa Melukai Perasaan Anak
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Sekitar 22 Ribu Jamaah dan Petugas Haji Khusus dan Reguler Telah Tiba di Indonesia
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Ussy Sulistiawaty Bongkar Sifat Asli Andhika Pratama, Jauh Berbeda dari yang Tampil di TV
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.