Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (5/6), meski tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan global.
Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 13 poin ke level Rp 18.036 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.049 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 17 poin pada perdagangan sore ini.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ketidakpastian muncul setelah Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, Iran disebut menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat penting dalam pembicaraan damai dengan Washington. Namun, Israel masih melanjutkan serangan udara ke Lebanon selatan yang memicu serangan balasan dari Hizbullah.
“Perkembangan ini semakin melemahkan harapan akan kesepakatan perdamaian AS-Iran,” kata Ibrahim.
Menurut dia, pasar juga mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam ini. Data pembayaran upah di luar sektor pertanian atau Nonfarm Payrolls (NFP) diperkirakan menunjukkan penambahan 85 ribu lapangan kerja pada Mei 2026, sementara tingkat pengangguran di AS diproyeksikan tetap di level 4,3%.
Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,8%.
OECD menilai kenaikan biaya energi global dan ketidakpastian ekonomi dunia akan menekan konsumsi rumah tangga dan investasi domestik. Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai masih relatif resilien dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Ibrahim mengatakan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global juga menjadi perhatian pasar. OECD memperkirakan inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,4% pada 2026 dari 1,9% pada tahun sebelumnya.




