CELEBESMEDIA ID, Makassar – Menabung sering dianggap sebagai aktivitas yang membatasi kesenangan. Tak sedikit anak muda yang merasa harus mengurangi nongkrong, hobi, atau hiburan agar bisa menyisihkan uang.
Padahal, menabung tidak selalu identik dengan hidup serba hemat dan penuh pengorbanan.
Banyak literasi keuangan yang mengedukasi tentang pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat, termasuk membangun dana darurat dan meningkatkan kebiasaan menabung sejak dini.
Literasi keuangan ini menjadi fondasi penting agar Gen Z mampu mencapai tujuan finansial tanpa kehilangan kualitas hidup.
Merangkum laman resmi Kementerian Keuangan, berikut lima cara menabung yang bisa diterapkan Gen Z tanpa harus menyiksa gaya hidup sehari-hari,
1. Sisihkan Uang di Awal, Bukan dari Sisa Pengeluaran
Kesalahan yang sering terjadi adalah menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan. Faktanya, uang sering kali habis sebelum sempat ditabung.
Kemenkeu menyarankan agar masyarakat menyisihkan sebagian penghasilan sejak awal menerima gaji atau pemasukan. Bahkan, alokasi sekitar 10 hingga 15 persen dapat menjadi langkah awal yang realistis untuk membangun kebiasaan menabung.
Dengan metode ini, kebutuhan hiburan dan gaya hidup tetap bisa berjalan sesuai anggaran yang telah ditetapkan.
2. Pisahkan Rekening Tabungan dan Rekening Harian
Salah satu alasan tabungan sulit berkembang adalah karena bercampur dengan rekening transaksi harian.
Kemenkeu menyarankan penggunaan rekening terpisah agar dana yang sudah dialokasikan tidak mudah terpakai untuk kebutuhan konsumtif. Strategi sederhana ini membantu seseorang lebih disiplin tanpa harus terus-menerus menahan keinginan berbelanja.
Semakin sulit akses terhadap dana tabungan, semakin kecil kemungkinan uang tersebut digunakan untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
3. Kurangi Pengeluaran yang Tidak Terpakai
Menabung bukan berarti berhenti menikmati hiburan. Yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi pengeluaran yang sebenarnya tidak lagi memberikan manfaat.
Kemenkeu menyoroti biaya langganan digital sebagai salah satu pos pengeluaran yang sering luput dari perhatian. Layanan streaming, penyimpanan cloud, hingga aplikasi berbayar yang jarang digunakan dapat menggerus kemampuan menabung setiap bulan.
Daripada memangkas anggaran nongkrong atau hobi secara drastis, menghapus pengeluaran yang tidak produktif sering kali jauh lebih efektif.
4. Bangun Dana Darurat Secara Bertahap
Banyak Gen Z menunda menabung karena merasa target dana darurat terlalu besar. Padahal, Kemenkeu menegaskan bahwa membangun dana darurat dapat dilakukan secara bertahap dan konsisten.
Bagi lajang, kebutuhan dana darurat umumnya berkisar tiga hingga empat kali pengeluaran bulanan. Sementara bagi yang sudah memiliki tanggungan, jumlahnya bisa lebih besar.
Kuncinya bukan pada nominal besar di awal, melainkan konsistensi menyisihkan dana setiap bulan.
5. Manfaatkan Bonus dan Penghasilan Tambahan
Bonus kerja, uang lembur, komisi, hingga penghasilan dari pekerjaan sampingan sering kali habis untuk belanja impulsif.
Padahal, Kemenkeu merekomendasikan agar pendapatan tak terduga dimanfaatkan untuk mempercepat pencapaian tujuan keuangan, terutama dana darurat dan tabungan jangka panjang.
Cara ini memungkinkan Gen Z tetap menikmati gaji utama untuk kebutuhan dan gaya hidup, sambil memperkuat kondisi keuangan melalui pemasukan tambahan.
Kemenkeu mencatat bahwa tingkat literasi keuangan Gen Z masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data Orotitas Jasa Keuangan, tingkat literasi keuangan Gen Z di Indonesia berada di angka 73,22 persen.
Karena itu, menabung tidak seharusnya dipandang sebagai aktivitas yang membatasi kesenangan.
“Selalu sedia payung sebelum hujan,” tulis Kementerian Keuangan dalam salah satu publikasi edukasi keuangannya mengenai pentingnya dana darurat.




