Katak, Penjaga Keseimbangan Alam yang Terabaikan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah riuh perhatian terhadap satwa besar yang karismatik, keberadaan katak sering kali luput dari sorotan. Padahal, amfibi kecil yang hidup di antara genangan air, tepian sungai, hingga lantai hutan ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Katak merupakan kelompok amfibi yang dikenal sebagai hewan yang hidup di dua alam, yakni air dan darat. Pada fase awal kehidupannya, katak membutuhkan lingkungan akuatik sebagai tempat berkembang dan tumbuh. Seiring bertambah dewasa, katak akan berpindah ke darat karena kebutuhan pakan dan pola hidupnya berubah.

Telur katak juga berperan penting dalam ekosistem karena menjadi sumber makanan bagi berbagai hewan, seperti ikan dan predator lainnya. Setelah menetas, telur akan berkembang menjadi berudu atau kecebong yang hidup di kolam, sungai, maupun kawasan hutan.

Baca JugaKatak Bertaring Terkecil di Dunia Ditemukan di Sulawesi
Baca JugaKodok Merah Butuh ”Tambah Darah” agar Tak Terancam Punah

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rury Eprilurahman, menjelaskan, metamorfosis tidak hanya terjadi pada serangga, tetapi juga pada katak. Ketika kaki mulai tumbuh pada fase berudu, berbagai perubahan besar mulai terjadi pada tubuh katak.

“Ekor berudu perlahan menghilang dan katak pun siap menjadi penghuni darat. Meskipun demikian, mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari air karena tetap membutuhkan lingkungan yang lembap,” ujarnya dalam diskusi daring tentang katak sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Rury, katak memiliki kemampuan unik untuk merespons perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya. Sebagai bioindikator, hewan ini dapat mempercepat proses metamorfosis ketika ketersediaan air di habitat kecebong atau berudu mulai berkurang.

Dalam kondisi normal, metamorfosis katak berlangsung sekitar 30–35 hari. Namun, ketika penguapan air terjadi lebih cepat, proses tersebut dapat dipersingkat menjadi sekitar 15–20 hari melalui mekanisme hormonal yang bekerja di dalam tubuhnya.

Keberadaan katak dalam jumlah yang banyak dapat menjadi indikator bahwa ekosistem masih relatif alami. Kondisi ini menunjukkan masih tersedianya sumber air, pakan berupa serangga, serta komponen ekosistem lain yang mendukung kelangsungan hidup katak.

Katak memiliki kemampuan unik untuk merespons perubahan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, katak juga berperan sebagai pengendali serangga alami karena memangsa nyamuk, lalat, ngengat, dan berbagai serangga kecil lainnya. Kemampun inilah yang membuat keberadaan katak sangat membantu petani dalam mengendalikan hama pertanian sekaligus menekan populasi nyamuk di lingkungan sekitar.

Menurut Ruri, dalam rantai makanan, katak menempati posisi sebagai mesopredator yang berfungsi mengendalikan populasi serangga. Akan tetapi, katak juga menjadi mangsa bagi hewan lain sehingga hilangnya populasi katak dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan dan jaring-jaring makanan dalam ekosistem.

“Jika populasi katak menurun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah lingkungan. Alarm memang kadang dianggap mengganggu, tetapi alarm lingkungan seperti keberadaan katak justru perlu dipertahankan karena menunjukkan bahwa lingkungan masih dalam kondisi yang baik,” tuturnya.

Baca JugaBaru Ditemukan, Katak Pucat Asal Garut Butuh Perlindungan
Baca JugaCari Katak Langka Ramai-ramai di Hutan Sarawak
Ancaman mikroplastik

Pendiri Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) Prigi Arisandi mengatakan, pihaknya telah mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian mengenai kandungan mikroplastik pada katak. Katak dipilih sebagai objek penelitian karena masih jarang diteliti dan memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan perairan.

Menurut Prigi, katak sangat rentan terhadap paparan polutan karena memiliki kulit yang sensitif dan dapat ditembus air. Serangga yang menjadi sumber makanan katak juga telah banyak terkontaminasi mikroplastik sehingga partikel tersebut sangat mungkin masuk ke tubuh katak melalui rantai makanan.

“Dalam penelitian ini, kami mengambil dua kelompok katak, yaitu katak yang hidup di sawah dan katak yang hidup di tegalan. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari karena katak lebih aktif dan lebih mudah ditemukan dibandingkan siang hari,” tuturnya.

Katak yang diperoleh kemudian dibedah dan bagian lambungnya diambil untuk dianalisis. Lambung tersebut diberi larutan asam sehingga bahan-bahan organik hancur dan yang tersisa adalah partikel mikroplastik. Partikel mikroplastik kemudian diamati menggunakan mikroskop dengan pembesaran sekitar 900–1.000 kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mikroplastik paling banyak ditemukan pada katak yang hidup di lingkungan perairan, terutama sawah. Jumlahnya bahkan lebih tinggi dibandingkan katak yang hidup di kebun jagung maupun kebun tebu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mikroplastik paling banyak ditemukan pada katak yang hidup di lingkungan perairan, terutama sawah.

Prigi menyebut bahwa sawah yang tergenang air ternyata menjadi habitat dengan kandungan mikroplastik tertinggi. Dengan kata lain, semakin kering suatu lingkungan maka semakin sedikit kandungan mikroplastik yang ditemukan. Kondisi ini kemudian memunculkan dugaan bahwa mikroplastik tersebut berasal dari perairan.

Jika dilihat dari jenisnya, sebagian besar mikroplastik yang ditemukan berupa serat polyester. Serat polyester banyak berasal dari pakaian dan bahan tekstil yang digunakan sehari-hari. Sebagian besar mikroplastik ini diduga tertelan katak berasal dari limbah mesin cuci.

“Saat ini kondisi katak semakin memprihatinkan. Mereka semakin sulit menemukan habitat yang layak karena banyak perairan telah tercemar deterjen, sabun, dan berbagai bahan pencemar lainnya. Kondisi seperti ini tentu tidak mendukung perkembangan telur maupun berudu katak,” ungkapnya.

Baca JugaKatak Hari Ini merupakan Keturunan Katak yang Selamat dari Kepunahan Massal Dinosaurus
Baca JugaKatak Mini dari Selatan Pulau Sumatera
Asumsi dan mitos

Selain ancaman mikroplastik, sampai sekarang katak masih minim perhatian karena adanya asumsi dan mitos yang berkembang di masyarakat. Masyarakat enggan memperhatikan kelestarian katak karena dinilai menjijikan. Spesies yang kerap dipandang menjijikan seperti Duttaphrynus melanosticus, Ingerophrynus biporcatus, dan Phrynoidis asper.

Co-leader Indonesia Amphibian Red List Assessment 2026, Rizki Kurnia Tohir meluruskan mitos yang menyebut air kencing katak dapat menyebabkan kebutaan. Menurut dia, katak memang dapat mengeluarkan urin sebagai mekanisme pertahanan diri saat merasa terancam, tetapi cairan tersebut tidak menyebabkan kebutaan permanen.

“Jadi, secara umum aman jika memegang katak. Selain itu, katak yang ada di Indonesia juga tidak berbahaya karena tidak ada spesies katak beracun yang dapat membahayakan manusia seperti yang sering dibayangkan masyarakat,” ungkap Rizki yang juga dosen program studi rekayasa kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Mitos lainnya yang berkembang yakni anggapan bahwa kodok buduk dapat menyebabkan borok atau menularkan penyakit kulit kepada manusia. Rizki juga menegaskan bahwa mitos tersebut tidak benar karena sampai sekarang tidak ada bukti bahwa kodok di Indonesia dapat menularkan penyakit kulit sehingga aman untuk dipegang dengan cara yang tepat.

Rizki menekankan bahwa saat ini terdapat sejumlah spesies amfibi Indonesia yang berstatus kritis dan membutuhkan perhatian serius untuk upaya konservasi. Tiga di antaranya yakni Philautus jacobsoni, Occidozyga tompotika, dan Leptophryne cruentata.

Baca JugaWarna Cerah Katak Beracun Juga Sebagai Kamuflase

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Rizki menilai perhatian masyarakat terhadap amfibi, khususnya katak, masih jauh lebih rendah dibandingkan satwa liar lainnya seperti orangutan, badak, atau gajah. Rendahnya ketertarikan publik terhadap amfibi turut berdampak pada minimnya penelitian yang dilakukan terhadap kelompok satwa tersebut.

“Masih banyak spesies amfibi yang berpotensi semakin terancam dan bahkan punah di masa depan. Apalagi jika kita tidak memperbaiki cara membuang sampah dan tidak mengurangi penggunaan bahan bakar fosil agar laju perubahan iklim tidak terus meningkat. Jika perubahan iklim terus meningkat, maka katak ini akan semakin terancam punah,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Defisit APBN per Mei 2026 Sebesar Rp 180,4 T atau 0,70 Persen Terhadap PDB
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Silmy Karim Cs Siapkan Rekening Pengepul Tampung Setoran Biaya Ekstra dari WNA
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, BRI Dorong Kesadaran Budaya Kelola Sampah melalui Green Action BRI Peduli
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemensos Salurkan Bantuan dan Layanan Sosial Rp924 Juta untuk 449 Penerima Manfaat di Tangerang
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Pimpinan BGN Berganti, Pembangunan SPPG Dimoratorium, Pengawasan Diperketat
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.