HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Persija Jakarta tampaknya tidak ingin mengulangi cerita yang sama pada musim depan. Setelah kembali gagal menyentuh tangga juara meski mampu finis di papan atas klasemen Super League 2025/2026, manajemen Macan Kemayoran kini memulai proses pembenahan secara besar-besaran.
Langkah pertama yang diambil terbilang cukup mengejutkan.
Dalam satu waktu, Persija resmi melepas tujuh pemain asing sekaligus. Nama-nama seperti Carlos Eduardo, Bruno Tubarao, Jean Mota, Maxwell Souza, Allano Lima, Thales Lira, hingga Alaaeddine Ajaraie dipastikan tidak lagi menjadi bagian dari skuad Macan Kemayoran musim depan.
Keputusan tersebut langsung memunculkan banyak pertanyaan.
Bukan hanya soal siapa yang akan menggantikan mereka, tetapi juga tentang arah baru yang sedang dibangun Persija Jakarta.
Sebab dalam sepak bola modern, pergantian pemain dalam jumlah besar hampir selalu menjadi pertanda adanya perubahan yang lebih besar di balik layar.
Dan di Persija, perubahan itu tampaknya dimulai dari kursi pelatih.
Sebelum melepas tujuh pemain asing, Persija lebih dahulu berpisah dengan pelatih asal Brasil, Mauricio Souza.
Perpisahan itu menjadi sinyal awal bahwa manajemen tidak puas hanya dengan posisi ketiga klasemen akhir. Meski secara hasil tidak bisa dikatakan buruk, ekspektasi terhadap Persija selalu lebih tinggi dibanding sekadar finis di papan atas.
Klub sebesar Persija selalu dituntut untuk menjadi kandidat juara.
Karena itu, keputusan mengakhiri kerja sama dengan Mauricio Souza menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh yang kini sedang dilakukan manajemen.
Menariknya, hingga saat ini Persija belum mengumumkan siapa sosok yang akan mengisi kursi pelatih kepala musim depan.
Di tengah kekosongan tersebut, manajemen justru bergerak agresif merombak komposisi pemain asing.
Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Persija kemungkinan besar sudah memiliki gambaran mengenai pelatih baru yang akan datang.
Sebab sangat jarang sebuah klub melepas begitu banyak pemain tanpa memiliki konsep yang jelas mengenai kebutuhan tim di masa depan.
Biasanya, proses seleksi pemain baru akan berjalan beriringan dengan visi pelatih yang akan memimpin tim.
Artinya, keputusan melepas tujuh pemain asing bisa jadi merupakan bagian dari proses penyesuaian terhadap filosofi permainan pelatih baru yang segera diumumkan.
Direktur Persija, Mohamad Prapanca, memang belum membocorkan siapa sosok yang dimaksud. Namun ia memastikan bahwa manajemen sedang bekerja keras membangun tim yang lebih kompetitif.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Persija tidak sedang melakukan tambal sulam skuad, melainkan membangun ulang fondasi tim untuk mengejar target yang lebih besar.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah nama mulai dikaitkan dengan Persija.
Untuk posisi pelatih, nama Benjamin Mora, Alexandre Gama, hingga Shin Tae-yong muncul dalam berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan suporter.
Masing-masing memiliki karakter yang berbeda.
Benjamin Mora dikenal dengan pendekatan taktis yang modern dan kemampuan membangun organisasi permainan yang rapi.
Alexandre Gama memiliki pengalaman panjang di Asia Tenggara serta rekam jejak juara yang cukup mentereng.
Sementara Shin Tae-yong menawarkan pengalaman internasional dan pemahaman mendalam terhadap sepak bola Indonesia.
Meski belum ada konfirmasi resmi, munculnya nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa Persija sedang mencari figur dengan kapasitas besar untuk memimpin proyek baru mereka.
Di sisi pemain, beberapa nama juga mulai dikaitkan dengan Macan Kemayoran.
Mariano Peralta menjadi salah satu yang paling sering disebut. Winger kreatif tersebut dinilai mampu menambah variasi serangan Persija yang musim lalu kerap bergantung pada momen individu pemain tertentu.
Selain itu, ada pula nama Ilias Alhaft yang memiliki kecepatan dan fleksibilitas bermain di berbagai posisi.
Yang paling menarik tentu rumor mengenai Tiemoue Bakayoko.
Mantan gelandang Chelsea itu memang sedang berstatus tanpa klub. Meski peluangnya masih sulit dipastikan, munculnya nama tersebut menunjukkan bahwa Persija sedang membangun ambisi besar untuk meningkatkan kualitas skuad mereka.
Namun di balik semua spekulasi itu, satu hal yang paling penting sebenarnya adalah arah yang ingin ditempuh Persija.
Keputusan mempertahankan Fabio Calonego, Van Basty Sousa, Paulo Ricardo, dan Gustavo Almeida memperlihatkan bahwa manajemen masih mempertahankan kerangka utama tim.
Artinya, perubahan yang dilakukan bukan revolusi total, melainkan penyegaran pada sektor-sektor yang dianggap belum maksimal.
Persija tampaknya ingin membangun skuad yang lebih seimbang.
Skuad yang tidak hanya kuat secara individu, tetapi juga mampu menjalankan sistem permainan yang lebih konsisten sepanjang musim.
Hal tersebut menjadi penting karena musim depan persaingan diperkirakan semakin ketat.
Persib Bandung masih menjadi kekuatan utama.
Persebaya Surabaya bergerak agresif di bursa transfer.
Borneo FC terus berkembang menjadi pesaing serius.
Sementara beberapa klub lain juga mulai melakukan pembenahan besar-besaran.
Dalam situasi seperti itu, Persija tidak punya banyak pilihan selain bergerak cepat.
Karena itu, langkah melepas tujuh pemain asing bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Macan Kemayoran sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.
Dan mungkin saja, sebelum pengumuman pemain-pemain baru dilakukan, publik Jakarta akan lebih dahulu diperkenalkan dengan sosok pelatih yang menjadi arsitek utama proyek tersebut.
Jika benar demikian, maka “cuci gudang” yang dilakukan Persija saat ini bukanlah akhir dari sebuah era.
Melainkan awal dari babak baru yang sedang disiapkan untuk mengembalikan Macan Kemayoran ke jalur perebutan gelar juara.





