Pemerintah Genjot Migas Nonkonvensional di Rokan, Potensinya Tembus 500 Ribu BPH

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mempercepat pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional di Blok Rokan setelah pengeboran dan uji sumur yang dilakukan Pertamina menunjukkan potensi produksi mencapai 500 ribu barel minyak per hari. 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan Pertamina telah menyelesaikan pengeboran dan pengujian sumur migas nonkonvensional di wilayah kerja Rokan. Hasil awal menunjukkan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan secara komersial.

“Sudah dibor, sudah berhasil, sudah dites, sekarang Pertamina lagi mau mengajukan kontrak bagi hasilnya yang lebih menguntungkan. Tadi kami dari pagi membahas dengan Pak Wamen untuk Pertamina mengajukan berdasarkan nanti kepmen yang sedang dibahas mudah-mudahanan hari ini selesai,” ujar Djoko di KESDM, Jumat, (5/6/2026).

Temuan tersebut menjadi angin segar bagi pemerintah yang tengah berupaya meningkatkan produksi migas nasional di tengah tren penurunan alamiah (natural decline) pada sejumlah lapangan migas konvensional yang telah lama beroperasi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan Blok Rokan menjadi wilayah kerja yang paling siap untuk menerapkan teknologi migas nonkonvensional berdasarkan hasil identifikasi cadangan dan survei geologi yang telah dilakukan pemerintah.

“Jadi yang terkait dengan (pelemahan rupiah), kita kan berusaha untuk meningkatkan produksi dalam negeri…Apa yang kita lakukan diantaranya itu adalah untuk blok-blok yang memiliki cadangan yang cukup berdasarkan identifikasi dari survei geologi, ini kita akan menerapkan teknologi unconventional…Jadi untuk unconventional ini, yang wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah rokan,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurut Yuliot, peningkatan produksi domestik menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Produksi yang lebih tinggi akan membantu menekan impor minyak sehingga dampak fluktuasi nilai tukar dan gejolak pasar energi global dapat diminimalkan.

Untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah saat ini tengah menuntaskan kerangka regulasi migas nonkonvensional. Pembahasan dilakukan bersama SKK Migas dan sejumlah penyedia teknologi yang telah menyampaikan penawaran kepada pemerintah.

Baca Juga: DEN Sebut Impor Migas via BLU Hanya untuk Kondisi Mendesak

Baca Juga: Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Bidik Proyek Migas Global

“SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini, sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu…Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi import, dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang,” tandasnya.

Yuliot menilai pengembangan migas nonkonvensional telah terbukti mampu menjadi solusi untuk meningkatkan produksi energi. Ia mencontohkan pengalaman Amerika Serikat yang berhasil membalikkan tren penurunan produksi minyak melalui penerapan teknologi serupa.

“Jadi pengalaman dari Amerika, justru pada saat terjadi decline produksi di Amerika, mereka menerapkan untuk implementasi produksi unconventional,” ujarnya.

“Sehingga pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus untuk produksi migasnya sendiri. Jadi sehingga Amerika melakukan kegiatan ekspor. Itu tahun 2012,” lanjutnya.

Ia menjelaskan migas nonkonvensional memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sumur konvensional. Pada sumur konvensional, produksi dilakukan setelah menemukan kantong minyak pada kedalaman tertentu.

Sementara pada migas nonkonvensional, eksplorasi dilakukan hingga mencapai batuan sumber atau dapur minyak sehingga potensi cadangan yang diperoleh dapat lebih besar dengan umur produksi yang lebih panjang.

“Tapi kalau unconventional itu sampai dengan ditemukannya dapur minyaknya sendiri. Jadi untuk kapasitas yang didapatkan untuk jumlah yang cukup besar dan juga tingkat produksi menjadi lebih lama,” katanya.

Selain migas nonkonvensional, pemerintah juga terus mendorong penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan hydraulic fracturing (fracking) di sejumlah wilayah kerja migas guna mengoptimalkan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.

“Yang kedua untuk EOR, itu untuk berapa wilayah kerja itu juga lagi kita kejar. Ini untuk fracking itu juga ini kita lakukan. Jadi mudah-mudahan itu untuk peningkatan produksi akan menjadi lebih signifikan. Jadi target produksi tahun 2029 ini berkisar antara 900 sampai 1 juta barel secara keseluruhan,” tutup Yuliot.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemhan Berencana Bangun Dua Batalyon Komcad di Setiap Kabupaten untuk Perkuat Pertahanan
• 7 jam lalupantau.com
thumb
2 Kelompok Saling Dorong di Madrasah Pembangunan Pamulang Tangsel hingga Pagar Roboh
• 13 jam lalukompas.com
thumb
PTPN Akan Kawal Kakek Mujiran hingga Bebas dari Kasus Curi Sisa Getah Karet
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Masih Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham AMRT, MDKA, CBDK, RAJA
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Rupiah Melemah, Apa Kabar Mahasiswa RI di Luar Negeri?
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.