JAKARTA, KOMPAS.com - Jempol yang menggulir layar kini menjadi pintu baru bagi Lenong Betawi menjangkau penonton yang lebih luas.
Jika dahulu pertunjukan teater tradisional itu hanya dapat dinikmati dari panggung ke panggung, kini cuplikan lawakan, pantun, hingga adegan khas lenong bermunculan di media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube.
Di tengah perubahan cara masyarakat mengonsumsi hiburan, para seniman Lenong Betawi berupaya beradaptasi dengan memanfaatkan ruang digital agar kesenian tradisional ini tetap dikenal generasi muda dan tidak kehilangan relevansinya di era serba cepat.
Baca juga: Menjaga Napas Lenong Betawi di Tengah Arus Deras Modernisasi
Jadi tantangan besar
Ketua Sanggar Betawi Silibet Ramdani (43), mengakui tantangan terbesar melestarikan kesenian lenong adalah perkembangan zaman dan teknlogi.
"Adaptasi kami adalah mengikuti arus teknologi tersebut. Kami membuat media sosial dan situs web," ucap dia ketika ditemui di Sanggar Silibet, Kamis (5/6/2026).
Setiap kali grup lenong Silibet latihan atau tampil, akan direkam dalam bentuk video.
Setelah itu, akan diunggah di media sosial Sanggar Silibet sebagai promosi, edukasi, serta pelatihan kepada masyarakat luas.
Tanpa direkam dan diunggah di media sosial, latihan yang dilakukan pun akan sia-sia. Karena grup lenong Silibet tak selalu ada panggilan setiap harinya.
Ramdani bilang, beberapa tahun belakangan ini, ruang untuk lenong Betawi tampil di tanah kelahirannya sendiri yakni Jakarta sudah sangat sulit.
Sebab, kesenian ini sudah tidak lagi menjadi hiburan utama warga ketika menggelar acara besar seperti pernikahan, hajatan, dan lain sebagainya.
Satu-satunya harapan lenong Betawi tampil di Jakarta adalah jika ada acara dari Dinas Kebudayaan.
Baca juga: Kisah Nouval, Remaja Belasan Tahun yang Menolak Lenong Betawi Punah Ditelan Zaman
Dianggap jadul dan membosankan
Tantangan lainnya adalah sulitnya mencari regenerasi pemain lenong Betawi saat ini.
"Untuk saat ini memang cukup sulit karena mereka menganggapnya jadul atau membosankan," jelas Ramdani.
Namun, ia bersyukur, Dinas Kebudayaan sudah mulai sering mengadakan berbagai lomba bernuansa kebudayaan di sekolah-sekolah.