Bahaya Beracun di Balik Pulau Sampah Muara Angke, Ini Kata Pakar IPB

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena "pulau sampah" yang muncul di perairan Muara Angke, Jakarta Utara, tidak hanya mengganggu pemandangan dan aktivitas pesisir.

Tumpukan sampah tersebut juga berpotensi memicu terbentuknya gas-gas beracun yang dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Etty Riani, mengatakan keberadaan sampah plastik dalam jumlah besar dapat memengaruhi kondisi fisik, kimia, dan biologis perairan.

Menurut dia, sampah plastik berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) yang dibutuhkan organisme untuk bertahan hidup.

"Keberadaan sampah juga berdampak pada kualitas perairan. Sampah plastik dapat menurunkan kelarutan oksigen (DO), meningkatkan potensi terbentuknya gas beracun seperti amonia, H?S, dan nitrit, serta meningkatkan kandungan mikroplastik, nanoplastik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) di lingkungan perairan," kata Etty, Jumat (5/6/2026), dikutip dari laman resmi IPB University.

Baca juga: Dari Mana Asal Pulau Sampah di Muara Angke Jakut?

Plastik Ganggu Ekosistem Mangrove

Etty menjelaskan, sampah yang menumpuk di kawasan Muara Angke didominasi plastik, baik dalam bentuk makroplastik maupun mikroplastik.

Berdasarkan hasil pengamatannya, jenis sampah yang banyak ditemukan antara lain kantong plastik, botol plastik, kemasan makanan dan minuman, styrofoam, bekas jaring, hingga sampah rumah tangga.

"Kami menemukan sampah plastik yang sangat banyak dan terjebak dalam sedimen mangrove," ujarnya.

Menurut dia, plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen.

Selain itu, lapisan plastik yang menutupi sedimen juga berpotensi mengubah karakteristik fisik, kimia, dan biologis tanah serta menghambat pertumbuhan bibit mangrove baru.

Baca juga: Pulau Sampah di Muara Angke Jakut Ganggu Nelayan, Kapal Kandas dan Baling-baling Patah

Ikan dan Burung Bisa Mengonsumsi Plastik

Dampak keberadaan pulau sampah juga dirasakan oleh satwa yang hidup di sekitar kawasan pesisir.

Etty mengatakan ikan dan burung berisiko mengonsumsi plastik maupun mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan.

"Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengonsumsi plastik atau mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan," kata dia.

Ia menambahkan, mikroplastik dan nanoplastik dapat masuk ke rantai makanan melalui organisme penyaring seperti kerang dan tiram yang mengakumulasi partikel tersebut dalam tubuhnya.

Selain itu, mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, serta senyawa organik persisten yang berpotensi membahayakan ekosistem perairan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Butuh Sebulan Bersihkan Pulau Sampah di Muara Angke Jakut


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dishub DIY: Akhir November Becak Motor dan Bajaj Dilarang Melintas di Malioboro
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Dorong Kompetisi Positif, Kemendagri Gelar Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Lelang Lagi Aset Koruptor: Ada iPhone Rp 231 Ribu hingga Tanah Rp 59 M
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pendaki asal Aceh Utara Hilang di Gunung Seulawah, Basarnas Kerahkan Tim Pencari
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Andre Rosiade: Pengurus IKM di Berbagai Daerah Laporkan Abu Janda ke Polisi
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.