JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membaca data ekonomi, setelah menerima laporan mengenai penurunan omzet sejumlah warung tegal (warteg).
Menanggapi temuan lapangan tersebut, Purbaya mengatakan kondisi di satu lokasi tidak dapat langsung dijadikan gambaran keseluruhan perekonomian nasional.
Ia bahkan mengaitkan hal itu dengan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
"Saya pernah dikritik profesor saya ketika membuat model ekonometrika saat kuliah di Amerika. Waktu itu saya menjalankan model dan menyimpulkan bahwa suatu fenomena dipengaruhi faktor A, B, C, dan D. Saya merasa kesimpulan itu sudah pasti benar. Namun profesor saya mengatakan bahwa saya sedang melakukan fishing expedition," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6).
Baca Juga: Menteri Purbaya Bantah Kabar Pengunduran Diri, Sebut Informasi Dipelintir hingga Ganggu Pasar
Profesor tersebut kemudian memberikan ilustrasi sederhana mengenai bahaya menarik kesimpulan dari sampel yang terlalu terbatas.
"Analogi sederhananya, Anda membawa kapal ke satu titik di laut, melempar jaring, lalu mendapatkan ikan A, B, C, dan D. Kemudian Anda menyimpulkan bahwa seluruh isi laut adalah ikan A, B, C, dan D. Padahal laut sangat luas," sambungnya.
Purbaya menilai pelajaran tersebut relevan dalam membaca kondisi ekonomi saat ini, termasuk ketika muncul laporan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat di warteg.
Purbaya menjelaskan, pemerintah mengandalkan data yang dikumpulkan secara sistematis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi perekonomian nasional.
Baca Juga: Belanja Negara Naik 34,4 Persen, Defisit APBN Ada di Level 0,70 Persen PDB
Penulis : Dina Karina Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- purbaya yudhi sadewa
- konsumen warteg
- harga menu warteg
- menteri keuangan





