JAKARTA, KOMPAS.com - Tumpukan sampah yang membentuk "pulau sampah" di perairan Muara Angke, Jakarta Utara, tidak hanya mengancam ekosistem pesisir.
Mikroplastik yang berasal dari sampah tersebut juga berisiko masuk ke rantai makanan melalui ikan, kerang, dan organisme laut lainnya yang kemudian dikonsumsi manusia.
Pakar Pencemaran dan Toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Etty Riani, mengatakan keberadaan sampah plastik dalam jumlah besar di kawasan Muara Angke berpotensi meningkatkan kandungan mikroplastik dan nanoplastik di lingkungan perairan.
Menurut dia, partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut dapat terakumulasi pada berbagai organisme perairan.
"Mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan," kata Etty, Jumat (5/6/2026), dikutip dari laman resmi IPB University.
Baca juga: Bahaya Beracun di Balik Pulau Sampah Muara Angke, Ini Kata Pakar IPB
Kerang dan Tiram Rentan Menumpuk MikroplastikEtty menjelaskan, organisme penyaring (filter feeder) seperti kerang dan tiram menjadi kelompok yang paling rentan mengakumulasi mikroplastik dalam jumlah besar.
Partikel tersebut masuk ke tubuh organisme saat mereka menyaring air untuk mendapatkan makanan.
"Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan," ujarnya.
Selain berdampak terhadap biota perairan, kondisi tersebut berpotensi membuat mikroplastik berpindah ke tingkat rantai makanan yang lebih tinggi.
Menurut Etty, mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa berbagai zat berbahaya.
"Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem," kata dia.
Baca juga: Dari Mana Asal Pulau Sampah di Muara Angke Jakut?
Ikan dan Burung Mengira Plastik Sebagai MakananEtty mengatakan dampak pulau sampah tidak hanya terjadi pada organisme penyaring.
Ikan dan burung di kawasan pesisir juga berisiko mengonsumsi plastik maupun mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan.
"Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengonsumsi plastik atau mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan," ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan sampah plastik dalam jumlah besar dapat memengaruhi kualitas lingkungan perairan sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem.
Baca juga: Butuh Sebulan Bersihkan Pulau Sampah di Muara Angke Jakut





