Cina pada hari Jumat (5/6) mengumumkan Presiden Xi Jinping akan melakukan kunjungan ke Korea Utara selama dua hari mulai 8 Juni . Lawatan ini menjadi kunjungan pertama Xi ke negara itu dalam hampir tujuh tahun, di tengah upaya Beijing menegaskan kembali hubungan dengan Pyongyang, satu-satunya sekutu yang terikat perjanjian formal dengan Cina.
Beijing berupaya menarik kembali Korea Utara ke dalam orbit pengaruhnya setelah pandemi Covid-19 membekukan berbagai pertukaran antar kedua negara. Dalam periode yang sama, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, justru mempererat hubungan dengan Moskow melalui pengiriman pasukan dan persenjataan untuk mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
"Pesan tersirat dari pihak Cina adalah: kami tetap aktor utama dalam urusan Korea Utara," kata John Delury, peneliti senior Asia Society. "Salah satu pihak yang menjadi sasaran pesan itu adalah Rusia."
Pengumuman yang disampaikan Departemen Internasional Partai Komunis Cina tersebut muncul setelah Xi menggelar pertemuan puncak di Beijing bulan lalu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa Xi berkunjung atas undangan Kim Jong Un.
Bukan langkah terkoordinasiPemerintah Korea Selatan menilai kunjungan itu murni merupakan pertukaran bilateral tingkat tinggi dan tidak terkait dengan Moskow. Seorang pejabat dari Blue House, kantor kepresidenan Korea Selatan, mengatakan Seoul tidak melihatnya sebagai langkah terkoordinasi antara Cina, Rusia, dan Korea Utara.
"Kami tidak menafsirkan ini sebagai gerakan bersama ketiga negara, dan kami juga belum melihat kaitan langsungnya dengan pertemuan puncak AS-Cina," ujar pejabat tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, Blue House menyatakan harapan agar Beijing tetap memainkan peran konstruktif dalam berbagai isu di Semenanjung Korea.
Kim Jong Un sebelumnya menghadiri parade militer besar di Beijing pada September tahun lalu. Dia tiba di ibu kota Cina menggunakan kereta lapis baja hijau yang menjadi ciri khas perjalanannya.
Layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang kembali beroperasi pada Maret lalu setelah terhenti selama enam tahun akibat pandemi. Tak lama kemudian, Air China juga kembali membuka rute penerbangan antara kedua ibu kota.
Meski demikian, akses perjalanan masih terbatas bagi pelaku bisnis tertentu dan mahasiswa program pertukaran. Wisatawan Cina hingga kini belum diizinkan berkunjung.
Lawatan luar negeri pertama tahun IniKunjungan ke Pyongyang akan menjadi perjalanan luar negeri pertama Xi sepanjang tahun ini. Pemimpin berusia 72 tahun itu dalam beberapa tahun terakhir memang semakin jarang melakukan lawatan internasional. Perjalanan luar negeri terakhirnya berlangsung pada akhir Oktober ketika dia mengunjungi Korea Selatan dan bertemu Trump.
"Secara simbolis, penting bagi Xi untuk terus memantau apa yang terjadi di Pyongyang," kata Delury.
Menurut dia, jika Xi mengunjungi kedua Korea dalam rentang waktu setahun, hal itu akan menjadi pencapaian diplomatik penting bagi Semenanjung Korea.
"Ada semacam keseimbangan yang ingin terus dijaga oleh Cina dalam hubungannya dengan kedua Korea," ujarnya.
Trump, yang tiga kali bertemu Kim Jong Un pada masa jabatan pertamanya, sebelumnya juga menyatakan terbuka untuk kembali bertemu pemimpin Korea Utara tersebut.
Sejak menjadi pemimpin tertinggi Cina pada 2012, Xi baru sekali mengunjungi Korea Utara dan dua kali mengunjungi Korea Selatan. Sebelumnya, saat masih menjabat wakil presiden pada 2008, dia pernah berkunjung ke Pyongyang dan bertemu pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Jong Il, ayah Kim Jong Un.
Menjelang kunjungan Xi, Kim menyerukan perluasan "secara eksponensial" arsenal nuklir Korea Utara. Menurut KCNA, seruan itu disampaikan saat ia meninjau sebuah fasilitas baru yang memproduksi bahan untuk program nuklir negara tersebut.
Sejumlah pengamat mengaitkan kunjungan Kim ke fasilitas itu dengan pertemuan yang akan datang dengan Xi. Menjelang lawatannya ke Beijing pada September tahun lalu, Kim juga sempat meninjau rencana pembangunan rudal balistik antarbenua baru, Hwasong-20.
Editor: Ayu Purwaningsih
width="1" height="1" />
(ita/ita)





