Bisnis.com, BANDUNG — Pemerintah Kota Bandung resmi kembali menggulirkan program Bulan Belanja Bandung (BBB) 2026 sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Mengusung pendekatan kolaboratif dengan cakupan kegiatan yang lebih masif, agenda tahunan ini diproyeksikan mampu melampaui capaian perputaran ekonomi tahun sebelumnya yang menembus angka Rp101,07 miliar.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung menyatakan optimistis tren positif tersebut akan berlanjut meski di tengah tantangan ekonomi global. Program BBB 2026 dirancang sebagai rangkaian kegiatan strategis yang berlangsung maraton sejak Juni hingga Agustus 2026, melibatkan asosiasi pusat perbelanjaan, pelaku usaha, hingga komunitas ekonomi kreatif.
Kepala Disdagin Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin mengungkapkan, pelaksanaan BBB tahun ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan tahun sebelumnya guna memperkuat struktur ekonomi lokal.
“Alhamdulillah tidak terasa kita sudah memasuki tahun ketiga pelaksanaan Bulan Belanja Bandung. Tahun ini insyaallah akan kembali terselenggara dengan rangkaian kegiatan yang lebih kolaboratif,” ujar Ronny.
Agenda ini diawali dengan gelaran Pasar Kreatif Bandung yang dijadwalkan pada 8 Juni hingga 2 Agustus 2026. Memasuki bulan Agustus, kemeriahan akan dilanjutkan dengan Indonesia Shopping Festival (ISF) yang diinisiasi oleh APPBI, serta Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI) oleh Hippindo.
Sebagai puncak acara, Bandung Great Sale akan digelar pada 21–23 Agustus 2026 di Laswi Heritage. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pemilihan lokasi di ruang terbuka ini bertujuan untuk memberikan suasana baru sekaligus menarik minat kunjungan wisatawan secara lebih masif.
Baca Juga
- Pengajuan Status Darurat Sampah Ditolak, Ini Rencana Pemkot Bandung
- 'Jangan Takut Blackout Internet', Dedi Mulyadi Minta Penataan Kabel Semrawut di Bandung Berlanjut
- Belanja Subsidi & Kompensasi Energi-Pupuk Tembus Rp203,7 Triliun per Mei 2026
Ronny menjelaskan, tujuan utama dari BBB 2026 adalah meningkatkan aktivitas perdagangan, memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM, serta mendorong daya beli masyarakat. Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kota Bandung yang tercatat mencapai 5,29% pada 2025.
“Ini agenda strategis untuk menggerakkan perekonomian. Kita ingin meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus memperkuat branding produk lokal Bandung,” katanya.
Guna memastikan kesuksesan program, Disdagin menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta pelaku industri perhotelan dan kuliner. Upaya ini diharapkan dapat memperkokoh posisi Bandung sebagai destinasi wisata belanja dan pusat ekonomi kreatif di level nasional.
“Tidak ada kompetisi, yang ada kolaborasi. Kita ingin semua stakeholder terlibat agar dampaknya lebih luas. Kita targetkan kunjungan wisata meningkat, terutama dari luar kota. Bandung harus jadi tujuan utama untuk belanja, kuliner, dan fesyen,” pungkas Ronny.





