Rupiah Melemah, Industri Kemasan Kena Dampak Ganda Impor dan Lesunya Konsumsi

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan berlapis terhadap industri kemasan nasional. Selain meningkatkan biaya bahan baku impor, sektor ini juga harus menghadapi perlambatan permintaan dari industri barang konsumsi cepat saji (FMCG) dan ritel yang menjadi pasar utamanya.

Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, mengatakan industri kemasan masih sangat bergantung pada bahan baku impor, terutama plastik dan aluminium. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah langsung berdampak terhadap biaya produksi perusahaan.

“Memang kurs rupiah yang melemah ini berdampak berat bagi industri packaging, khususnya porsi materialnya yang mayoritas tergantung dari impor, khususnya untuk plastik dan metal aluminium,” kata Henky kepada Katadata.co.id, Kamis (5/6).

Meski demikian, dampak kenaikan biaya bahan baku tidak selalu berlangsung secara linier. Harga material di pasar juga dipengaruhi faktor stok, logistik, serta keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Ia mencontohkan kondisi pasar plastik polypropylene (PP) dan polyethylene (PE). Secara kapasitas, sekitar 50% kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi oleh produsen domestik. 

Namun, ketika terjadi gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan adanya pernyataan force majeure dari produsen petrokimia, harga tidak otomatis melonjak karena pasokan dari Cina masih melimpah.

Menurut Henky, melimpahnya stok dari Cina justru membuat harga plastik turun dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, distributor terpaksa menjual stok dengan diskon untuk mengurangi penumpukan barang.

“Karena pasokan dari Cina masih cukup kuat, akhirnya stok mereka menumpuk dan terpaksa membuka penjualan secara obral. Harga jualnya setiap tiga sampai empat hari turun 5%-10% dan para agen penjualannya dipaksa untuk mengambil stok mereka,” ujarnya.

Di sisi lain, industri kemasan juga menghadapi tantangan dari melemahnya permintaan pasar. Perlambatan konsumsi rumah tangga membuat permintaan dari sektor FMCG dan ritel tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, prospek industri kemasan masih relatif terjaga karena kebutuhan dasar masyarakat tetap membutuhkan produk kemasan. Oleh karena itu, perusahaan saat ini lebih fokus menjaga arus kas dan mempertahankan operasional dibanding mengejar pertumbuhan agresif.

“Permintaan pasar FMCG dan ritel memang melemah, tapi kebutuhan dasar tetap ada tentunya dan membutuhkan packaging,” katanya.

Strategi Efisiensi

Untuk bertahan di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha menerapkan berbagai strategi efisiensi. Salah satunya dengan membatasi margin keuntungan agar operasional perusahaan tetap berjalan tanpa mengalami kerugian.

“Transaksi dilakukan berdasarkan berbagai strategi agar biaya operasi tetap dapat dipenuhi dan margin keuntungan dibatasi asal jangan rugi,” ujar Henky.

Hingga saat ini belum terdapat laporan perusahaan kemasan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun menghentikan operasional akibat tekanan ekonomi. Namun, kondisi pasar saat ini belum mendukung ekspansi usaha maupun investasi baru.

“Sejauh ini perusahaan kemasan belum terdengar yang melakukan PHK atau tutup, tapi rencana investasi baru tentu tidak pada saatnya sekarang,” katanya.

Henky menambahkan, inovasi menjadi kunci bagi industri untuk bertahan. Pelaku usaha dituntut mampu menghadirkan solusi kemasan yang lebih efisien tanpa mengurangi fungsi utama kemasan dalam melindungi dan menjaga kualitas produk.

Di tengah berbagai tantangan itu, minat terhadap industri kemasan dinilai masih cukup tinggi. IPF mencatat antusiasme pelaku usaha, terutama dari kalangan generasi muda dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih besar.

“Saat ini kami IPF tetap aktif diminta menjadi pemrakarsa seminar-seminar dalam beberapa pameran di Kemayoran, PIK dan juga di Surabaya, di mana antusiasme masih sangat besar, khususnya dari kalangan generasi muda dan yang bergerak di industri kecil UMKM,” ujar Henky.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eks Wakil Ketua BGN Sony Sonjaya Bakal Ungkap Pejabat yang Terlibat Bancakan MBG
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Diteror OTK di Rumahnya, Islah Bahrawi Ungkap Pelaku Gunakan Alat Intelijen
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Berkat PNM Mekaar, Nasabah di Pesisir Sorong Bisa Sekolahkan Anak-Renovasi Rumah
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Bali Jadi Tuan Rumah 12th Asian Open Water Swimming Championship 2026 di Jimbara
• 12 jam lalupantau.com
thumb
BCA Akan Membagikan Dividen Interim Rp20 per Saham pada 26 Juni 2026, Didukung Kinerja Keuangan yang Solid
• 4 menit lalupantau.com
Berhasil disimpan.