Suatu malam, saya menutup Instagram setelah hampir satu jam menggulir layar tanpa tujuan. Bukan karena saya menemukan sesuatu yang penting, melainkan karena saya merasa lelah. Dalam waktu singkat, saya melihat teman yang sedang magang di perusahaan nasional, teman lain yang baru memenangkan kompetisi, seorang kenalan yang membuka usaha sendiri, dan beberapa mahasiswa seusia saya yang tampak sudah memiliki arah hidup yang jelas. Sementara itu, saya hanya duduk di depan laptop dengan daftar tugas yang belum selesai.
Saat itulah saya menyadari sesuatu. Selama ini saya mengira ketakutan terbesar saya adalah kegagalan. Namun ternyata bukan itu. Saya lebih takut tertinggal.
Ketakutan ini mungkin tidak hanya saya rasakan. Banyak mahasiswa hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Setiap hari kita disuguhi pencapaian orang lain. Media sosial membuat kehidupan tampak seperti perlombaan yang tidak pernah berhenti. Ketika satu orang berhasil mencapai sesuatu, kita merasa harus segera menyusul. Ketika orang lain melangkah lebih jauh, kita merasa posisi kita semakin jauh di belakang.
Ironisnya, perasaan tertinggal sering muncul bukan karena kita benar-benar gagal. Perasaan itu muncul karena kita terus membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan orang lain.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya mulai melihat bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Ia juga menjadi panggung tempat setiap orang menampilkan versi terbaik dari dirinya. Kita melihat hasil akhir, tetapi jarang melihat prosesnya. Kita melihat sertifikat, tetapi tidak melihat kegagalan yang mendahuluinya. Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat malam-malam penuh keraguan yang mungkin dialami orang tersebut.
Masalahnya, otak manusia sering lupa bahwa apa yang dilihat di media sosial hanyalah potongan-potongan cerita. Kita membandingkan kehidupan sehari-hari kita yang penuh kekurangan dengan kehidupan orang lain yang telah dipilih dan disunting dengan sangat hati-hati. Akibatnya, standar keberhasilan menjadi tidak realistis.
Saya pernah merasa cemas hanya karena melihat teman-teman yang tampaknya lebih produktif. Mereka mengikuti organisasi, magang, lomba, kursus, bahkan membangun personal branding di media sosial. Di sisi lain, saya sering merasa waktu berjalan terlalu cepat sementara pencapaian saya belum seberapa. Semakin sering melihat keberhasilan orang lain, semakin besar tekanan yang saya rasakan.
Namun setelah dipikirkan kembali, saya mulai mempertanyakan satu hal yakni, siapa yang sebenarnya menentukan bahwa saya tertinggal?
Tidak ada garis start yang sama dalam kehidupan. Tidak ada pula garis finish yang berlaku untuk semua orang. Setiap individu memiliki latar belakang, kesempatan, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Akan tetapi, media sosial sering menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang mengikuti perlombaan yang sama.
Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan produktivitas. Istilah seperti “upgrade diri”, “grind”, atau “keluar dari zona nyaman” terdengar hampir setiap hari. Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berkembang. Masalah muncul ketika nilai seseorang mulai diukur hanya berdasarkan pencapaian yang terlihat.
Dalam kondisi seperti ini, istirahat dianggap kemunduran. Keraguan dianggap kelemahan. Bahkan proses belajar yang lambat sering dianggap kegagalan. Padahal tidak semua perkembangan dapat diukur dengan sertifikat, penghargaan, atau jumlah pengikut di media sosial.
Saya mulai menyadari bahwa beberapa pelajaran paling penting dalam hidup justru tidak pernah diunggah ke internet. Kemampuan untuk bertahan ketika keadaan sulit, keberanian untuk mencoba lagi setelah gagal, dan kedewasaan dalam mengambil keputusan sering kali tidak mendapatkan perhatian publik. Namun nilai-nilai itulah yang sebenarnya membentuk seseorang.
Perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan dan media digital, membuat segalanya terasa semakin cepat. Informasi datang tanpa henti. Kesempatan muncul dan hilang dalam hitungan detik. Dunia seolah menuntut kita untuk selalu bergerak. Jika berhenti sebentar saja, muncul rasa khawatir akan tertinggal.
Di tengah kondisi tersebut, saya belajar bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada kalanya seseorang perlu berjalan lebih lambat agar dapat memahami arah yang sedang dituju. Sebab bergerak cepat tidak selalu berarti bergerak benar.
Ketakutan akan kegagalan sebenarnya masih bisa diterima. Kegagalan memberi ruang untuk belajar dan memperbaiki diri. Akan tetapi, ketakutan untuk tertinggal sering kali lebih berbahaya. Ketakutan ini membuat kita mengambil keputusan berdasarkan tekanan sosial, bukan berdasarkan kebutuhan dan tujuan pribadi.
Saya pernah mengikuti kegiatan tertentu bukan karena benar-benar tertarik, melainkan karena tidak ingin merasa kalah dari orang lain. Pada akhirnya saya menyadari bahwa motivasi seperti itu hanya menghasilkan kelelahan. Saya sibuk mengejar sesuatu yang bahkan bukan impian saya sendiri.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mendefinisikan ulang arti keberhasilan. Keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan. Keberhasilan adalah kemampuan untuk terus bertumbuh tanpa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.
Bagi saya, menjadi mahasiswa bukan sekadar mengumpulkan pencapaian sebanyak mungkin. Menjadi mahasiswa adalah proses mengenali kemampuan, memahami keterbatasan, dan menemukan arah hidup secara perlahan. Tidak semua orang harus memiliki perjalanan yang sama. Tidak semua orang harus sukses pada waktu yang sama.
Hari ini saya masih sering merasa tertinggal. Saya masih terkadang membandingkan diri dengan orang lain. Namun setidaknya saya mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan lari yang menentukan siapa yang paling cepat sampai di garis akhir. Hidup lebih mirip perjalanan panjang yang mengajarkan kita untuk mengenal diri sendiri.
Jika ada satu hal yang ingin saya ingat di tengah derasnya arus informasi dan pencapaian digital, itu adalah bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Mungkin saya belum berada di tempat yang saya inginkan hari ini. Namun bukan berarti saya tertinggal.
Barangkali, saya hanya sedang berjalan di jalur yang berbeda.





