jpnn.com, DILI - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melanjutkan agenda diplomasi politiknya di Timor Leste dengan berdialog bersama sejumlah pimpinan partai politik dan diplomat senior di Dili, Kamis (4/6).
Dalam rangkaian agenda hari kedua kunjungan kerja tersebut, Hasto bersama delegasi PDI Perjuangan bertemu secara berturut-turut dengan pimpinan Partai Fretilin, Partai Demokrat Timor Leste, Partai Pembebasan Rakyat (PLP), serta Partai KHUNTO. Sehari sebelumnya, rombongan juga melakukan pertemuan dengan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta serta berdialog dengan pimpinan Partai CNRT.
BACA JUGA: PDIP dan Fretilin Perkuat Dialog Demokrasi, Hasto Sebut Punya Platform Inklusif Sama
Hasto menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat yang diberikan oleh berbagai kalangan di Timor Leste. Dalam setiap pertemuan, Hasto dan delegasi menerima pengalungan tais, kain tenun tradisional yang menjadi simbol penghormatan dan persahabatan masyarakat Timor Leste.
"Di kantor Partai KHUNTO, kami disambut meriah dengan tarian dan yel-yel dari partai. Kami diberi pengalungan tais dan dihidangkan pinang sirih, sebagai tradisi untuk menyambut tamu. Ternyata banyak dari masyarakat yang hadir yang menyatakan sebagai pengurus maupun simpatisan PDI Perjuangan," urai Hasto.
BACA JUGA: Di Museum Multatuli, Hasto Bicara Nilai Pancasila untuk Tata Dunia Baru
Menanggapi lokasi kantor Partai KHUNTO yang agak masuk ke pinggiran, Sekjen PDIP mengutip pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mengatakan bahwa kantor partai harus berada di tengah-tengah rakyat. "Kami merasakan jati diri kami di tengah-tengah simpatisan Partai KHUNTO," sebut Hasto.
"Kami senang dengan sambutan ini. Kiranya hubungan Indonesia dan Timor Leste semakin erat. Meski dahulu punya sejarah kelam tapi bisa melakukan rekonsiliasi yang dikagumi dunia. Kini kedua negara menjadi tetangga dan sahabat baik," tambah Hasto.
BACA JUGA: Tanggapi Hasto, Abdul Rahman Nilai Sustainabilitas Fiskal Indonesia Aman dan Terkendali
Hasto melanjutkan, dialog yang berlangsung dengan para pemimpin partai politik Timor Leste berjalan secara terbuka dan konstruktif. "Berbagai isu dibahas, mulai dari penguatan demokrasi, kerja sama antarpartai politik hingga upaya mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara yang memiliki kedekatan sejarah dan geografis," lanjut Hasto.
Kebijakan Megawati dinilai berhasil memulihkan hubungan bilateral dan mencairkan ketegangan pasca-konflik antara Indonesia dan Timor Leste. Megawati mengambil langkah diplomatik berani dengan hadir dan menjadi saksi dalam upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2002, yang sekaligus menjadi momen pengakuan resmi kemerdekaan negara tersebut.
"Dalam pertemuan, kepada kami dijelaskan bagaimana sambutan terhadap Ibu Mega yang luar biasa, di mana rakyat antusias mengelu-elukan Ibu Mega di sepanjang jalan. Ketika semua pemimpin dunia sudah hadir, termasuk George Bush, Ibu Mega datang terakhir, dijemput Xanana sendiri dengan pelukan hangat laksana saudara," urai Hasto.
Dalam kunjungan ini, Hasto didampingi Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi Andreas Hugo Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDI Perjuangan Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDI Perjuangan Hanjaya Setiawan.
Mengakhiri agenda hari kedua di Dili, Hasto dan delegasi berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dili. Mereka berdialog dengan Acting Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Dili, Banga Malewa, guna memperoleh gambaran perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste serta berbagai persiapan terkait agenda kunjungan kenegaraan yang akan datang.
Selain itu, Hasto dan rombongan juga bertemu dengan diplomat senior Timor Leste sekaligus Duta Besar Timor Leste untuk Kamboja, Ermenegildo "Kupa" Lopes. Kupa Lopes dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dalam berbagai kesempatan, Kupa Lopes bahkan telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Megawati.
Kehadiran Hasto dan delegasi PDI Perjuangan di Dili merupakan bagian dari agenda koordinasi menjelang kunjungan Megawati Soekarnoputri ke Timor Leste pada Juli mendatang. Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Presiden José Ramos-Horta yang akan menganugerahkan penghargaan Grand Collar Order of Timor-Leste, penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Timor Leste kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa besar bagi bangsa dan negara tersebut.
Megawati dijadwalkan menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas peran dan kontribusinya dalam membuka jalan rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor Leste pasca-referendum. Upaya rekonsiliasi yang dibangun pada masa kepemimpinannya dinilai menjadi fondasi penting bagi hubungan persahabatan dan kerja sama yang semakin erat antara kedua negara hingga saat ini. (tan/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi Bakal Keliling Indonesia, Hasto PDIP: Turun ke Bawah Bukan Persoalan Elektoral
Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga




