Wall Street Berguguran, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga The Fed

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Koreksi dipimpin saham-saham teknologi dan semikonduktor setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,3%, sedangkan indeks S&P 500 terkoreksi 2,6%. Adapun indeks Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih dalam hingga 4,1%.

Saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pasar. Saham produsen cip kecerdasan buatan (AI) Nvidia anjlok 6,2%, disusul Broadcom yang merosot 7,9% dan Micron Technology yang terperosok 13,3%, menjadi saham dengan penurunan terdalam di indeks S&P 500.

Selain itu, saham Advanced Micro Devices (AMD), Intel, hingga Meta Platforms juga terkoreksi tajam. Saham Meta bahkan turun 5,5% setelah muncul laporan bahwa perusahaan tengah mempertimbangkan penerbitan saham baru untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI.

Tekanan terhadap pasar muncul setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan perekonomian masih cukup kuat. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei 2026, jauh melampaui ekspektasi ekonom yang hanya sekitar 88.000 pekerjaan.

Sementara itu, tingkat pengangguran tetap bertahan di level 4,3%.

Baca Juga

  • IHSG Anjlok 8,69% Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp922 Triliun
  • SCG Divestasi Saham TPIA Rp14,1 Triliun, Kepemilikan Susut ke 15,71%
  • Prospek Saham UNTR, ITMG, BMRI, Hingga BBRI Cs, Emiten Pembagi Dividen per Saham Terbesar Mei 2026

Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed belum memiliki alasan untuk melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Bahkan, pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga hingga akhir 2026. Sebaliknya, peluang pemangkasan suku bunga praktis menghilang setelah rilis data tenaga kerja terbaru.

"Harapan terhadap pemangkasan suku bunga The Fed secara efektif telah lenyap setelah laporan tenaga kerja yang kuat pagi ini," kata Chief Market Strategist Lazard Ronald Temple dalam risetnya, mengutip TV News Check.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,54% dari sebelumnya 4,50%, sedangkan yield tenor dua tahun melonjak menjadi 4,16% dari 4,04%.

Di sisi lain, rotasi keluar dari saham teknologi dan semikonduktor semakin menguat setelah laporan kinerja Broadcom awal pekan ini memicu kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor AI yang telah melambung tinggi sepanjang tahun.

Akibat koreksi tersebut, indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan sebesar 2,5% dan mengakhiri tren penguatan selama sembilan pekan berturut-turut. Jika berhasil mempertahankan kenaikan, indeks acuan tersebut berpeluang mencatat rekor reli terpanjang sejak 1985.

Sentimen pasar juga dibayangi ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS dan Iran. Meski Presiden Donald Trump menyatakan negosiasi kedua negara telah memasuki tahap akhir, laporan mengenai mandeknya proses perundingan masih memicu kekhawatiran investor.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 2% dan ditutup di level US$93,09 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sekitar US$70 per barel sebelum konflik AS-Iran memanas.

Kenaikan harga energi dalam beberapa bulan terakhir turut memperburuk tekanan inflasi di AS. Indikator inflasi pilihan The Fed menunjukkan harga-harga pada April 2026 meningkat 3,8% secara tahunan, tertinggi dalam dua tahun terakhir.



FAQ tentang Wall Street dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
1. Mengapa bursa saham AS melemah pada 5 Juni 2026?

Bursa saham AS melemah karena data ketenagakerjaan yang kuat memicu spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

2. Saham sektor mana yang paling terpengaruh oleh penurunan ini?

Saham teknologi dan semikonduktor paling terpengaruh, dengan perusahaan seperti Nvidia dan Broadcom mengalami penurunan signifikan.

3. Apa dampak dari laporan tenaga kerja AS terhadap kebijakan The Fed?

Laporan tenaga kerja yang kuat memperkuat keyakinan bahwa The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.

4. Bagaimana ekspektasi suku bunga mempengaruhi imbal hasil obligasi AS?

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, seperti yield Treasury tenor 10 tahun.

5. Apa faktor lain yang mempengaruhi sentimen pasar selain kebijakan The Fed?

Ketidakpastian geopolitik terkait hubungan AS dan Iran serta kenaikan harga energi turut mempengaruhi sentimen pasar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Bekasi berhentikan sementara ASN terjerat kasus narkoba
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Rizky Ridho Ternyata Raih Pencapaian Pribadi saat Timnas Indonesia Kalahkan Oman
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Menko Yusril Ungkap Masih Banyak Pungli di Jajaran Birokrasi
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pelat Nomor Modifikasi Bisa Bikin Kendaraan Dicurigai Polisi
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Siap-Siap Tarif BPJS Kesehatan Naik, Ini Iuran Kelas 1-3 per 6 Juni
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.