PREDIKSI soal iklim tidak jarang mencekam. Seperti soal El Nino Godzilla atau El Nino terkuat abad ini, yang sebagian ilmuwan memprediksi bakal terjadi beberapa bulan lagi.
Badan meteorologi PBB (WMO) memang belum mendukung proyeksi ekstrem itu. Kendati demikian, mereka telah meminta seluruh dunia bersiap dengan kedatangan El Nino sebelum September, atau sebelum November.
Meskipun masih dalam tingkat moderat, kesiagaan kita di Indonesia harus ekstra. Pasalnya, catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sudah memperingatkan adanya potensi kekeringan signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus hingga Oktober 2026. Indeks El Nino telah melampaui ambang normal dengan nilai +0,52 pada April dan meningkat menjadi +1,00 pada Mei 2026.
Baca Juga :
Hadapi El Nino, Kementan Optimistis Produksi Beras TerjagaUntuk soal yang ini, Kementerian Pertanian memang tampak cukup percaya diri menghadapi El Nino. Sudah sejak April, Mentan Amran Sulaiman menyatakan Indonesia siap menghadapi dampak El Nino.
Ia yakin karena Indonesia sudah punya pengalaman menghadapi El Nino 2015, 2023, dan 2024. Selain itu, Indonesia juga memiliki stok beras sebesar 5,3 juta ton per 13 Mei 2026. Cadangan beras sebanyak itu diklaim merupakan yang terbesar sepanjang Republik ini merdeka.
Angka tersebut memang prestasi dan pantas diapresiasi. Namun, angka itu bisa jadi baru sekadar efek psikologis untuk keamanan pangan. Itu belum menjadi jaminan bahwa kesejahteraan petani juga ikut terangkat, setidaknya sampai pertengahan hingga akhir tahun ini.
Kemarau panjang berpotensi besar pada kegagalan panen. Jika sudah begitu, meski stok beras di gudang-gudang pemerintah aman, tidak demikian dengan rumah tangga puluhan juta petani.
Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Itulah sesungguhnya pekerjaan rumah yang tidak kalah besar dalam persiapan menghadapi ancaman El Nino ini. Keberhasilan dalam hal stok beras semestinya juga diikuti dengan keberlangsungan panen.
Pemerintah harus memastikan berbagai sarana dan prasarana pengairan pertanian terus diperbaiki. Tidak hanya itu, pasokan energi untuk pompa dan segala sarana pertanian lainnya harus terjamin.
Itu jelas bukan hanya tugas Kementan, melainkan juga lintas sektor, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ESDM, hingga pemerintah daerah. Semuanya harus sigap dalam memastikan produktivitas pertanian dan kehidupan petani terjaga di tengah sergapan El Nino.
Baca Juga :
PBB Peringatkan El Nino, Cuaca Ekstrem Diprediksi Meningkat di Banyak WilayahBetul bahwa harga beras dipengaruhi banyak faktor lain, khususnya rantai pasok yang panjang dan harga bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, inilah yang juga harus diatasi pemerintah. Tidak hanya untuk menstabilkan harga pangan, tapi juga menjaga nilai tukar petani (NTP) tidak terjerembap.
Pemerintah harus bisa membuktikan bahwa kelimpahan di lumbung kita adalah keuntungan untuk seluruh rakyat. Tidak ada tikus yang mati di lumbung padi, baik itu petani maupun rakyat lainnya.



