Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) berpeluang memperoleh pendanaan internasional senilai US$477,87 juta atau sekitar Rp8,60 triliun setelah tiga proyek panas bumi perseroan masuk dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).
Tiga proyek tersebut meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, serta PLTP Lahendong Unit 7–8 berkapasitas 50 MW.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan masuknya proyek-proyek tersebut ke dalam Green Book 2026 membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional untuk mendukung pengembangan proyek.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan makin memperkuat kepercayaan berbagai pemangku kepentingan terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE," kata Ahmad Yani dalam siaran pers, Jumat (5/6/2026).
Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional, Ahmad Yani mengemukakan capaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek PGEO di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global.
"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” ujarnya.
Baca Juga
- Bappenas dan GGGI Bidik Investasi Hijau US$2 Miliar hingga 2030 Lewat GIFT
- HSBC China Incar Penyaluran Kredit Hijau Rp71,15 Triliun ke RI dan Asean
- Transisi Energi Perlu Dipercepat, Panas Bumi Potensial Jadi Andalan
Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek-proyek yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri melalui berbagai mitra pembangunan internasional. Sebelumnya, ketiga proyek PGEO tersebut juga telah masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2025–2029 (Blue Book) Bappenas.
Adapun ketiga proyek tersebut tercantum dalam skema on-lending melalui pembiayaan concessional loan. Secara terperinci, nilai pinjaman untuk PLTP Lumut Balai Unit 3 dengan target COD 2030 adalah sebesar US$158,86 juta dari JICA. Kemudian PLTP Lumut Balai Unit 4 dengan target COD 2032 senilai US$148,97 juta dari JICA, dan PLTP Lahendong Unit 7–8 yang ditargetkan COD 2030 senilai US$170,04 juta dari World Bank.
Ahmad Yani mengatakan pendanaan tersebut diharapkan dapat membantu perseroan menjaga struktur pembiayaan proyek tetap kompetitif.
“Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan,” katanya.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan panas bumi PGE hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek tersebut akan menambah kapasitas pembangkit listrik panas bumi dan mendukung peningkatan bauran energi terbarukan nasional.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Lumut Balai Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, akan memperluas pengembangan panas bumi perseroan di wilayah Sumatra. Kedua proyek tersebut telah memiliki perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA), sementara Lumut Balai Unit 4 juga telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Sementara itu, PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, diproyeksikan meningkatkan kontribusi PGE terhadap pasokan listrik di Sulawesi Utara dari sekitar 30% menjadi 35%–40% dari total kebutuhan listrik.
“Kami meyakini bahwa setiap pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi lokal, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri,” ujar Ahmad Yani.
Di sisi kinerja, PGE membukukan laba bersih sebesar US$43,90 juta pada kuartal I/2026, naik 40% dibandingkan dengan US$31,35 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan juga meningkat 14,8% menjadi US$116,56 juta dari US$101,51 juta pada kuartal I/2025.
Sejalan dengan kenaikan tersebut, produksi listrik PGE pada 2025 mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55% dibandingkan dengan 4.827 GWh pada 2024. Tren tersebut berlanjut pada kuartal I/2026 dengan produksi listrik mencapai 1.370 GWh atau naik 15,22% secara tahunan.





