REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Pelaksana Tugas (Plt) Pusat Kesehatan Haji Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, dr Dani Pramudya, mengatakan, jumlah jamaah haji yang sakit usai puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Musim haji 2026, ada 200-an jamaah dirawat, sedangkan pada musim haji 2025 tercatat mencapai lebih 300 jemaah.
Hal tersebut, kata Dani, tidak terlepas dari kebijakan Kemenhaj yang memperketat istitha’ah (kemampuan) kesehatan sejak sebelum pemberangkatan. "Alhamdulillah, kita kan dengan peraturan istitha’ah ini, kita kan banyak juga seleksi di embarkasi," kata Dani saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.
- Anwar Abbas: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Saatnya Konglomerat Tunjukkan Nasionalisme
- Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun Hingga Mei 2026
- Kota Bogor Raih Penghargaan Tiga Besar Pembiayaan Kreatif
Saat di embarkasi, kata Dani, terdapat kurang lebih 300-an jamaah yang akhirnya dinyatakan tidak laik terbang. Artinya, sejumlah calon jemaah tersebut gagal berangkat ke Tanah Suci karena tidak lolos istitha’ah.
"Alhamdulillah dengan pengetatan istitha’ah ini, membuat angka kesakitan juga berkurang," kata Dani menambahkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Lebih lanjut, Dani memaparkan, tahun ini rata-rata penyakit yang diderita jemaah haji, yaitu pertama, sesak napas. Menurut dia, jemaah haji Indonesia yang telah berusia lanjut seringkali bermasalah dengan pernapasan.
"Jadi banyak mereka yang kecapekan, jadi akhirnya sesak," kata Dani menjelaskan.
Selain itu, ada juga jamaah yang punya penyakit bawaan seperti batuk lama atau pernah sakit TBC. Begitu paru-parunya bermasalah dan rentan, kata Dani, akhirnya sesak yang dipicu oleh faktor kelelahan.
Kedua, kata Dani adalah serangan jantung. "Jantung karena mungkin ada riwayat darah tinggi, terus kemudian sakit gula," kata Dani.




