Rekomendasi Saham PGN (PGAS) di Tengah Fluktuasi Energi

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai prospek pertumbuhan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN masih menarik, ditopang oleh peningkatan pasokan gas melalui proyek Cisem II serta potensi pembagian dividen yang tinggi.

Namun demikian, dalam beberapa waktu terakhir pasar masih dipengaruhi berbagai sentimen eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, hingga arah kebijakan suku bunga global.

Bahana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGAS meskipun memangkas target harga menjadi Rp2.300 per saham dari sebelumnya Rp2.500 per saham.

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana menilai prospek pertumbuhan PGAS masih menarik, ditopang oleh peningkatan pasokan gas melalui proyek Cisem II serta potensi pembagian dividen yang tinggi.

"Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih tetap utuh," tulis Abdusshomad dalam risetnya, dikutip Sabtu (6/6/2026).

 Abdusshomad memperkirakan permintaan gas akan kembali normal ketika harga minyak mentah mulai mereda, yang diproyeksikan terjadi pada 2027. Selain itu, mulai beroperasinya pipa transmisi Cisem II sejak April 2026 diyakini akan meningkatkan pasokan gas ke Jawa Barat sehingga mendukung pertumbuhan volume distribusi perseroan.

Baca Juga

  • PGN (PGAS) Tebar Dividen Tunai Rp125,6 per Saham, Intip Jadwalnya
  • Lo Kheng Hong Kecipratan Dividen PGN (PGAS) Puluhan Miliar
  • Petuah Lo Kheng Hong Jelang Hilal Dividen PGN (PGAS) 2026

Dari sisi pemegang saham, PGAS juga dinilai menawarkan daya tarik berupa potensi dividend yield yang tinggi. Dengan posisi kas yang kuat, Bahana memperkirakan rasio pembayaran dividen atau payout ratio PGAS pada 2026 berada di kisaran 80% hingga 95%.

Dengan asumsi tidak terdapat pembentukan rugi penurunan nilai (impairment), estimasi tersebut setara dengan potensi dividend yield sekitar 11%.

Bahana memperkirakan volume distribusi gas PGAS pada 2026 mencapai 808 BBTUD, lebih rendah 7% dibandingkan panduan perusahaan sebesar 877 BBTUD.

Penyesuaian tersebut mencerminkan potensi perlambatan permintaan dari segmen non-HGBT yang lebih sensitif terhadap harga, serta kehati-hatian industri keramik dan petrokimia dalam mengelola konsumsi energi di tengah dinamika biaya dan pasokan.

Perusahaan Gas Negara Tbk. - TradingView

Di sisi lain, kenaikan harga minyak Brent dan porsi pelanggan non-HGBT yang lebih besar diperkirakan mendorong harga jual rata-rata (ASP) distribusi gas menjadi US$10,4 per mmbtu.

Kondisi tersebut diproyeksikan mengerek pendapatan distribusi PGAS sebesar 10% secara tahunan menjadi US$3 miliar pada 2026.

Namun, spread distribusi diperkirakan menyempit menjadi US$1,7 per mmbtu akibat sebagian kenaikan biaya yang diteruskan kepada pelanggan.

Bahana menilai anak usaha PGAS di sektor hulu migas, Saka Energi, berpotensi menjadi penyangga kinerja perseroan di tengah tekanan pada bisnis distribusi.

Sekitar 48% pendapatan Saka Energi berasal dari produksi minyak, sehingga perusahaan akan diuntungkan dari kenaikan harga minyak global.

Dengan asumsi harga Brent sebesar US$85 per barel, kontribusi pendapatan bersih Saka Energi terhadap PGAS pada 2026 diperkirakan meningkat 46% secara tahunan menjadi US$394 juta.

"Meski spread distribusi lebih rendah, dampaknya terhadap laba PGAS relatif berimbang karena ditopang peningkatan kontribusi Saka Energi," tulis Bahana.

Secara keseluruhan, Bahana memperkirakan pendapatan PGAS pada 2026 mencapai sekitar US$4,4 miliar atau tumbuh 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba inti perseroan diproyeksikan naik 3% secara tahunan menjadi US$332 juta.

Untuk jangka pendek, Bahana memperkirakan volume distribusi PGAS pada kuartal II/2026 akan membaik seiring normalisasi aktivitas industri setelah periode Lebaran dan selesainya pemeliharaan di Blok Jambaran-Tiung Biru (JTB).

Sementara itu, UBS dalam riset terbarunya menyebut kekuatan fundamental bisnis PGAS dengan aset infrastruktur dominan. PGAS mengoperasikan lebih dari 10.000 Km pipa hilir atau setara 96% dari total jaringan pipa Indonesia.

Selain itu, PGAS memiliki dua FSRU di Lampung dan Jawa Barat ditambah fasilitas regasifikasi di Arun serta 12 blok migas di Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

Secara keuangan, PGAS menurut riset memiliki neraca yang sehat dengan posisi net cash yang terus bertambah. Pada 2025, kas bersih PGAS sebesar US$594 juta dan diperkirakan meningkat menjadi US$1,09 miliar pada 2026 lalu sebesar US$1,40 miliar pada 2027.

Dengan posisi arus kas yang semakin sehat PGAS diharapkan akan terus menjaga rasio dividen di level tinggi. Pada RUPS terbaru, PGAS mengumumkan pembayaran dividen dengan rasio sebesar 80%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Jadi Tuan Rumah PMGO 2026, Kemenekraf Ungkap Misi Besar yang Bikin Dunia Esports Melirik
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Purbaya Temukan 2.500 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok, Bakal Tambah Petugas dari Surabaya
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Microsoft Rilis Majorana 2, Chip Kuantum yang Diklaim 1.000 Kali Lebih Stabil
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Tim Belida Polsek Jayaloka Perbaiki Tanggul Jembatan demi Keselamatan Warga
• 3 jam laludetik.com
thumb
15 Tahun Buron, WN AS Ditemukan Bersembunyi dalam Bunker Rumahnya di Depok
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.