Dari Mesin Jahit Bekas, Intan Menenun Harapan untuk Toraja

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

Berawal dari mesin jahit bekas dan modal terbatas, Irtani Irbar Zoleng membangun usaha fesyen yang kini dikenal banyak pencinta tenun. Perempuan asal Toraja itu memilih menjahit mimpi sekaligus menjaga warisan budaya leluhurnya.

EDWARD AS
Kecamatan Biringkanaya

Suara mesin jahit terdengar bersahut-sahutan dari sebuah rumah di kawasan Sudiang, Makassar. Dari rumah sederhana tersebut Irtani Irbar Zoleng atau yang akrab disapa Intan merajut mimpi sekaligus menjaga warisan budaya Toraja agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tak banyak yang menyangka perempuan kelahiran Makale, Tana Toraja itu memiliki latar belakang pendidikan Teknik Perkapalan. Setelah menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan studi magister di Universitas Hasanuddin, Intan justru memilih jalan berbeda dari kebanyakan rekannya.

Saat teman-temannya sibuk mencari pekerjaan, ia mendapat pertanyaan dari sang ayah yang mengubah arah hidupnya.

“Kamu punya talenta apa?” kenangnya mengingat pertanyaan tersebut.

Pertanyaan sederhana itu membuatnya mulai mencari apa yang benar-benar ia sukai. Jawabannya ternyata ada pada dunia fesyen.

“Awalnya saya hanya iseng, tetapi ternyata saya memang suka memadukan warna dan desain pakaian. Dari situ saya mulai berpikir bahwa hobi ini bisa menjadi usaha,” ujarnya.

Pada awal 2019, Intan mengikuti kursus menjahit dan magang untuk memperdalam keterampilannya. Ia sadar, jika ingin bertahan di industri fesyen, produknya harus memiliki identitas yang kuat.

Inspirasi itu datang ketika ia kembali ke kampung halamannya di Toraja. Keindahan tenun sa’dan dan kain sarita membuatnya terpikat. Namun di balik keindahan tersebut, ia melihat para pengrajin masih menghadapi tantangan dalam memasarkan hasil karya mereka.

“Saya ingin membawa tenun Toraja ke kota, tetapi dengan desain yang lebih modern sehingga bisa dipakai lebih banyak orang,” katanya.

Melalui Naval Modesty Tailor, Intan mulai mengubah tenun tradisional menjadi berbagai busana yang lebih dekat dengan gaya hidup masa kini. Dress kasual, outer, hingga kemeja modern lahir dari tangan kreatifnya tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif.

Menurutnya, tenun tidak seharusnya hanya digunakan pada acara adat atau kegiatan resmi. Dia ingin memecahkan stigma bahwa tenun hanya untuk acara formal. Dengan sentuhan modern, anak muda bisa bangga memakainya dalam aktivitas sehari-hari.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Pelanggan muda mulai berdatangan. Bahkan banyak warga Toraja yang tinggal di Makassar merasa terbantu karena dapat memperoleh pakaian berbahan tenun tanpa harus pulang kampung.

Namun perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda, pesanan pakaian turun drastis. Situasi itu memaksa Intan berpikir cepat agar usahanya tetap bertahan. Di tengah kondisi sulit tersebut, ia memanfaatkan sisa-sisa kain yang ada untuk membuat masker kain.

“Kami mencoba memanfaatkan semua bahan yang tersedia. Ternyata banyak perusahaan dan instansi yang membutuhkan masker dalam jumlah besar,” kenangnya.

Keputusan itu menjadi titik balik bagi usahanya. Pesanan masker terus berdatangan dan membantu menjaga roda bisnis tetap berputar ketika banyak usaha lain mengalami penurunan.

Seiring waktu, Naval Modesty Tailor berkembang bukan hanya sebagai tempat produksi pakaian, tetapi juga ruang pemberdayaan masyarakat. Beberapa warga sekitar yang terdampak pandemi dilibatkan dalam proses produksi. Ada yang membantu memotong kain, menyetrika, hingga menyelesaikan pesanan.

“Prinsip saya sederhana. Kalau usaha ini berkembang, manfaatnya juga harus dirasakan oleh orang-orang di sekitar,” tutur Intan.

Tak hanya membuka lapangan kerja, ia juga membuka kesempatan belajar menjahit bagi masyarakat yang ingin memiliki keterampilan baru. Peserta yang telah mengikuti pelatihan bahkan diberi kesempatan bekerja atau membuka usaha sendiri.

Semangat belajar yang dimiliki Intan juga membawanya bergabung sebagai mitra binaan Rumah BUMN dan BRI. Berbagai pelatihan tentang pemasaran digital hingga pengelolaan keuangan membantu usahanya semakin berkembang.

“Dahulu saya hanya mengandalkan penjualan langsung. Setelah mendapatkan pelatihan, saya mulai memahami bagaimana memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.

Kini produk Naval Modesty Tailor telah hadir di berbagai galeri UMKM dan lokasi strategis. Karyanya juga mendapatkan sejumlah penghargaan yang semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai pelaku UMKM kreatif.

Meski demikian, Intan mengaku masih memiliki banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Salah satunya adalah membawa tenun Toraja semakin dikenal di tingkat nasional bahkan internasional.

“Bagi saya, ini bukan sekadar bisnis. Setiap pakaian yang dibuat adalah cara untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup sekaligus membantu para perajin di kampung halaman,” ujarnya.

Meliana, salah seorang pelanggan Naval Modesty Tailor, mengaku tertarik karena desain tenun Toraja yang ditawarkan berbeda dari busana tradisional pada umumnya. Menurutnya, sentuhan modern pada setiap produk membuat tenun lebih mudah dikenakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

“Biasanya saya memakai tenun hanya untuk acara keluarga atau kegiatan adat. Setelah melihat desain dari Naval Modesty Tailor, saya jadi lebih percaya diri memakainya ke kantor maupun saat berkumpul bersama teman,” ujarnya.

Ia menilai penggunaan tenun dalam model pakaian yang lebih kasual menjadi cara efektif memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Selain tetap mempertahankan motif khas Toraja, desain yang dihadirkan juga mengikuti tren fesyen masa kini.

“Banyak teman yang bertanya saat saya memakai produknya. Mereka tidak menyangka itu berbahan tenun Toraja karena desainnya sangat modern,” katanya.

Sementara itu, pelanggan lainnya, Rina Tangkedatu, mengaku memiliki kedekatan emosional dengan setiap produk yang dibuat Naval Modesty Tailor. Sebagai perantau asal Toraja yang tinggal di Makassar, ia merasa busana tersebut menjadi penghubung dengan kampung halamannya.

“Setiap kali memakai tenun Toraja, saya merasa membawa sebagian cerita dan identitas daerah asal saya. Karena itu saya senang ada produk yang membuat tenun terlihat lebih fleksibel dan bisa dipakai kapan saja,” tuturnya.

Rina juga mengapresiasi komitmen usaha tersebut yang tetap melibatkan penenun lokal dalam proses produksi. Baginya, membeli produk Naval Modesty Tailor tidak hanya sekadar berbelanja pakaian, tetapi juga mendukung keberlangsungan budaya dan ekonomi masyarakat Toraja.

“Saya merasa ikut berkontribusi membantu para pengrajin di kampung. Nilai itu yang membuat produknya terasa lebih bermakna dibanding sekadar pakaian biasa,” ujarnya.

Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, menyampaikan bahwa Rumah BUMN telah menjadi wadah pengembangan UMKM melalui program unggulan berbasis empat pilar transformasi yang disebut 4 Go. Pertama, Go Modern, di mana UMKM binaan Rumah BUMN Makassar telah terdaftar resmi sebagai Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang dikelola secara profesional.

Tidak hanya itu, program Go Digital hadir untuk mendorong pelaku UMKM mengoptimalkan penggunaan media sosial dalam memperluas promosi dan interaksi dengan konsumen. Langkah ini diperkuat dengan Go Online, yakni pendampingan intensif dalam memanfaatkan marketplace atau platform e-commerce guna meningkatkan penetrasi pasar digital.

Puncak dari transformasi ini adalah Go Global, di mana UMKM dibekali kemampuan untuk siap ekspor, membuka peluang menggapai pasar internasional. Ayu juga menekankan bahwa Rumah BUMN tidak hanya fokus pada pelaku usaha yang sudah berdiri, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang belum memiliki produk atau usaha namun ingin belajar kewirausahaan.

Melalui kolaborasi sebagai mitra binaan, mereka bisa mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta akses jaringan bisnis untuk memulai langkah pertama sebagai pengusaha. “Rumah BUMN hadir sebagai mitra holistik, baik untuk UMKM yang ingin berkembang maupun calon wirausaha yang ingin merintis impiannya,” jelasnya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gubernur Jateng Ingatkan Perbaikan Jalan Jangan Asal-asalan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pecahkan Rekor, Mathew Baker Debutan Termuda Timnas Indonesia
• 5 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Pembangunan Fisik Sekolah Rakyat Permanen di Jambi Capai 70 Persen
• 17 jam laludetik.com
thumb
Warga Padati Kecamatan, Kadisdik Depok Tegaskan IKD Hanya untuk Daftar SMA
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Car Free Night Kediri Mulai Digelar, KAI Imbau Pelanggan Sesuaikan Akses ke Stasiun
• 21 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.