Seorang pendaki ilegal Gunung Semeru terjatuh di jurang. Pendaki berinisial C (18) itu terperosok ke jurang di kawasan Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, saat mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa secara ilegal melalui jalur Candi Jawar, di Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit mengatakan, tim SAR menerima informasi adanya seorang pendaki yang terjatuh di jurang Gunung Semeru, pada Selasa sore (2/6).
Kemudian, tim dari Unit Siaga SAR Malang Raya berangkat menuju lokasi di lereng Gunung Semeru sisi barat atau melalui wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang, sekitar pukul 22.55 WIB, yang merupakan jalur pendakian tak resmi ke Gunung Semeru.
"Kami menerima laporan adanya pendaki terperosok di jurang pendakian Gunung Semeru, Selasa sore. Tim tiba di sekitar posko pada Rabu (3/6) sekitar pukul 04.00 WIB dan selanjutnya melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan potensi SAR yang telah ada di lokasi," ucap Nanang Sigit, saat dikonfirmasi pada Rabu siang (3/6).
Menurutnya, sebelum tim unit siaga SAR Malang Raya tiba, ada dua tim penyelamat yang sudah diberangkatkan dahulu untuk proses evakuasi pendaki yang jatuh. Dua tim tersebut diberangkatkan menuju titik lokasi tempat pendaki diduga terjatuh di jurang pendakian jalur ilegal Gunung Semeru.
"Kondisi survivor menurut informasi terakhir yang dilaporkan, yakni survivor mengalami dislokasi dan memerlukan bantuan evakuasi karena medan yang sulit," tuturnya.
Mendaki Bersama 2 TemannyaSementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha mengungkapkan, memastikan korban yang naik bersama dua orang lain dari Semarang dan Pasuruan, masuk kawasan Gunung Semeru melalui jalur ilegal.
"Ada tiga orang pendaki yang berasal dari Semarang, Pasuruan, dan Malang, melakukan aktivitas pendakian menuju kawasan Gunung Semeru melalui jalur Candi Jawar Purbakala. Jalur yang digunakan bukan merupakan jalur resmi pendakian wisata yang dikelola BB-TNBTS," kata Rudijanta Tjahja Nugraha, dikonfirmasi terpisah.
Rudijanta menambahkan, lokasi tersebut merupakan akses tidak resmi dan masyarakat setempat juga mengetahui bahwa jalur tersebut bukan merupakan pintu masuk, maupun jalur yang digunakan untuk aktivitas pendakian Gunung Semeru.
KronologiBerikut kronologi insiden tersebut:
Senin, 1 Juni 2026Korban menghubungi orang tuanya. Menyampaikan kondisinya terjatuh di lereng Gunung Semeru. Ia meminta bantuan pertolongan.
Dalam komunikasi tersebut korban juga mengirimkan titik koordinat terakhir sebelum komunikasi terputus.
Keluarga pendaki itu sempat berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Ampelgading
Pukul 22.00 WIBAyah korban bersama enam warga Kaliputih, Kecamatan Ampelgading, mencoba menuju lokasi titik yang dikirimkan oleh korban.
"Untuk mencapai lokasi tersebut diperlukan waktu tempuh sekitar 8 jam berjalan kaki melalui medan yang terjal, curam, dan minim akses," kata Rudijanta.
Selasa, 2 Juni 2026Rudijanta mengatakan sekitar pukul 10.00 WIB korban dilaporkan telah ditemukan. Tapi proses evakuasi tak bisa berlangsung saat itu karena kondisi korban yang terluka dan medan cukup berat.
"Proses evakuasi mengalami kendala karena kondisi medan yang cukup berat, sehingga membutuhkan dukungan personel tambahan. Pada Selasa sore, tim tambahan dari masyarakat Tamansatriyan, Tamansari, dan Tlogosari, diberangkatkan menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi," terangnya.
Rabu, 3 Juni 2026Tim gabungan dari BB-TNBTS, Basarnas, TNI Polri, relawan, dan masyarakat sekitar, kembali bergerak naik ke lokasi koordinat yang dikirimkan korban untuk melanjutkan proses evakuasi.
"Korbannya belum datang, diperkirakan tiba di posko evakuasi sore ini, apabila kondisi cuaca dan medan memungkinkan. Posko evakuasi sementara berada di rumah warga setempat. Ambulans dan tenaga kesehatan telah disiagakan, untuk memberikan penanganan medis awal kepada korban sebelum dirujuk ke rumah sakit terdekat apabila diperlukan," bebernya.
Korban Ditarik dari JurangKepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan saat ini Tim SAR tengah menarik C dari jurang sedalam 300 meter. Proses penarikan dilakukan secara bergantian dan memerlukan kewaspadaan mengingat medan yang terjal dan curam. Evakuasi ini sudah masuk hari ke-5.
"Dari jurang, survivor dievakuasi dengan slope rescue menuju titik kumpul tim SAR gabungan yang ada di atas. Baru kemudian dari atas akan ditandu untuk turun menuju posko," kata Nanang saat dihubungi, Jumat (5/6).
Nanang menuturkan proses evakuasi dilakukan dengan memposisikan korban dalam keadaan telentang di flexible stretcher atau rolling stretcher, kemudian diamankan dengan sistem tali.
"Kemiringan medan juga dirasa lebih cocok untuk evakuasi dengan metode slope rescue dan dengan metode ini evakuasi bisa dilakukan secara bertahap," ujarnya.
Evakuasi dilakukan secara bertahap untuk mencegah longsor pada tebing jurang. Tim SAR memperkirakan pendaki dapat dievakuasi dari jurang pada Jumat malam.
Berhasil DievakuasiTim SAR akhirnya berhasil mengevakuasi pendaki berinisial C (18) yang jatuh ke jurang sedalam 300 meter di Gunung Semeru. Proses evakuasi sendiri telah berlangsung selama lima hari atau sejak Senin (1/6) lalu.
"Dari jurang, survivor dievakuasi naik dengan slope rescue menuju titik kumpul tim di atas," kata Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, saat dihubungi.
Nanang menyebut pendaki tersebut akan dibawa turun ke posko utama. Ia memperkirakan C tiba di posko sekitar pukul 20.00 WIB.
"Kemudian dari atas akan ditandu untuk turun menuju posko. Kemiringan medan juga dirasa lebih cocok untuk evakuasi dengan metode slope rescue dan dengan metode ini evakuasi bisa dilakukan secara bertahap," ujarnya.
"Kalau lancar estimasi 8 hingga 10 jam perjalanan," tutupnya.





