Liputan6.com, Jakarta - Kabar buruk itu menyebar cepat lewat pesan singkat dan obrolan dari mulut ke mulut. Aliran air bersih dari pipa-pipa PAM di sejumlah wilayah Jakarta mendadak mengecil, bahkan mati total. Penyebabnya berada jauh di pusat kota.
Pekerjaan pemeliharaan kelistrikan di Gardu milik PLN rupanya berdampak langsung pada operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan I di Jalan Penjernihan II, Pejompongan, Jakarta Pusat. Ketika mesin-mesin pengolah air raksasa itu kekurangan daya listrik, dampaknya langsung terasa hingga ke pemukiman warga di pinggiran Jakarta.
Advertisement
Di Penjaringan, Jakarta Utara, sore itu udara terasa gerah. Ani Asia (46), seorang pedagang mi ayam, tampak sibuk merapikan mangkuk-mangkuk dagangannya dengan raut wajah resah. Aliran air PAM ke kontrakannya kini sudah benar-benar terganggu akibat imbas proyek kelistrikan di Pejompongan tersebut.
Ani menolak saat dirinya hendak dipotret, namun tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang mendalam. Bagi seorang pedagang makanan, air adalah urat nadi usahanya. Tanpa air bersih yang mengalir, panci kuah mi ayamnya tidak bisa mengepul, dan piring-piring kotor akan menumpuk begitu saja.
"Sekarang airnya sudah mengecil banget, kadang cuma keluar angin. Kalau sudah mati total begini, terpaksa saya harus beli air pikulan berliter-liter banyaknya. Buat mandi, beribadah, sampai buat kuah mi ayam," keluh Ani saat ditemui Liputan6.com, Jumat, 5 Juni 2026.
Membeli air jeriken harganya tidak murah. Satu jeriken bisa mencapai Rp 4 ribu padahal kebutuhan untuk berjualan dan rumah tangga dalam sehari bisa menghabiskan belasan jeriken.
Belum lagi tenaga yang terkuras. Ani harus menggotong sendiri jeriken-jeriken berat itu masuk ke dalam rumahnya sebelum airnya bisa dimanfaatkan. Kini, ia hanya bisa berdoa agar perbaikan gardu listrik di Pejompongan bisa cepat selesai agar usahanya tidak gulung tikar.




