Liputan6.com, Jakarta - Kediaman Inggit Garnasih di Jalan Inggit Garnasih Nomor 8, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, masih berdiri kokoh hingga hari ini.
Dinding berwarna putih dan cokelat, jendela-jendela kayu tua, serta tata ruang yang sederhana membawa pengunjung kembali ke masa ketika sejarah bangsa ditulis dari ruang-ruang yang tampak biasa.
Advertisement
Kini rumah bercorak kolonial Belanda tersebut dibuka untuk umum dan difungsikan sebagai museum. Di dalamnya tersimpan foto-foto Inggit Garnasih, dokumentasi kebersamaannya dengan Soekarno, serta kisah perjalanan hidup perempuan yang menjadi salah satu sosok paling penting dalam perjalanan sang Proklamator.
Salah satu benda yang paling menarik perhatian pengunjung adalah sebuah batu pipisan yang tersimpan di salah satu sudut rumah. Benda sederhana itu menjadi saksi perjuangan Inggit menghidupi rumah tangganya. Dengan batu pipisan tersebut, Inggit meracik jamu dan membuat bedak.
Dia juga berjualan tembakau dan menjahit pakaian dalam perempuan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menopang perjuangan politik Soekarno di masa-masa sulit.
Meski usianya sudah lebih dari seabad, kondisi rumah tetap terawat. Renovasi terakhir dilakukan sekitar tiga tahun lalu akibat beberapa titik kebocoran pada atap.
"Kalau di sini jarang renovasi, terakhir itu tiga tahun lalu. Waktu itu direnovasi karena ada rembes dari gentengnya yang bocor, makanya diganti. Ada beberapa titik yang bocor, di kamar dan ruang utama," ujar pengelola museum, Jajang.
Bekas rembesan air masih tampak di beberapa bagian plafon. Namun bangunan utama, koleksi foto, hingga perabot yang tersimpan di dalam rumah tetap terjaga dengan baik. Sayangnya, jumlah pengunjung belakangan tidak seramai musim liburan.
Sebagai bangunan bersejarah, rumah itu menyimpan kisah yang jauh melampaui bangunan tua dan benda-benda di dalamnya. Dari rumah inilah salah satu kisah cinta paling terkenal dalam sejarah Indonesia bermula.
Pada 1921, Oemar Said Tjokroaminoto menitipkan keponakannya yang bernama Kusno Sosrodihardjo atau Soekarno kepada pasangan Haji Sanusi dan Inggit Garnasih. Saat itu Soekarno datang ke Bandung untuk menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saat pertama kali bertemu, Inggit melihat sosok pemuda yang ramah dan mudah bergaul. Dalam buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH, Inggit mengenang kesan pertamanya terhadap pemuda berusia 20-an tahun itu.
"Sejak bertemu dan bersalaman, pemuda itu sudah menyenangkan. Ia gampang bergaul dan mau menerima apa yang aku hidangkan dengan roman muka yang menggembirakan. Aku persilakan dia masuk ke kamar depan yang telah kubereskan," ucap Inggit.
Kala itu, Inggit merupakan istri Haji Sanusi, seorang saudagar sekaligus aktivis Sarekat Islam di Bandung. Sementara Soekarno sebenarnya masih berstatus suami Utari, putri sulung HOS Tjokroaminoto. Namun pernikahan muda itu tak berjalan sebagaimana mestinya.
Soekarno dan Utari lebih merasa sebagai kakak dan adik daripada pasangan suami istri. Utari sempat tinggal bersama Soekarno di rumah Inggit dan Sanusi. Namun kemudian ia kembali ke Surabaya. Sejak saat itu, Soekarno semakin banyak menghabiskan waktu di rumah tersebut.
Hari demi hari, hubungan antara Inggit dan Soekarno tumbuh tanpa direncanakan. Inggit yang kerap menyajikan kopi dan menyiapkan kebutuhan sehari-hari mulai merasakan tatapan berbeda dari pemuda itu.
Di sisi lain, kehidupan rumah tangganya dengan Haji Sanusi tidak lagi hangat seperti dulu. Sanusi sering berada di luar rumah hingga larut malam, sementara Inggit menjalani hari-harinya dalam kesepian.




