Impor Limbah Plastik dari Negara Maju Perburuk Kualitas Udara Indonesia

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS-Indonesia menjadi tujuan utama limbah plastik dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan Jepang, setelah China menutup kran impornya. Limbah plastik itu lalu berakhir dibakar sehingga memperburuk kualitas udara di Indonesia.

Penelitian baru yang dipimpin Ellen Considine, peneliti di Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) di Universitas Colorado Boulder, menunjukkan polusi udara di Indonesia memburuk pada tahun 2018 dan 2019, ketika mulai menerima sebagian limbah plastik yang sebelumnya dikirim negara-negara maju ke China.

Hasil kajian yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Statistical Society pada Selasa (2/6/2026) ini menunjukkan dampak buruk ekspor limbah plastik dari negara-negara kaya ke negara-negara berpenghasilan rendah.

" Ketika negara-negara berpenghasilan tinggi mengirimkan limbah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, lebih banyak limbah plastik cenderung dibakar," kata Considine, yang juga merupakan asisten profesor Geografi di CU Boulder, dalam keterangan tertulis.

Menurut Considine, pembakaran limbah plastik ini melepaskan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan, kanker, atau bahkan kematian bagi penduduk setempat.

Considine dan rekan penulisnya, Rachel Nethery dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, memanfaatkan data satelit untuk mengevaluasi perubahan partikel halus di 356 lokasi pembuangan sampah terbuka di Indonesia sebelum dan sesudah larangan impor sampah plastik oleh China.

Partikel halus adalah polutan udara yang paling mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia karena terdiri dari partikel yang cukup kecil untuk menembus paru-paru manusia dan masuk ke aliran darah.

"Studi sebelumnya tentang dampak pembakaran sampah plastik terhadap kualitas udara lebih terlokalisasi, misalnya, dengan memasang monitor kualitas udara di beberapa lokasi selama beberapa bulan," kata Considine.

Pendekatan ini, menurut Considine, sangat ampuh karena memungkinkan mereka untuk melihat perubahan polusi udara di wilayah studi dan periode waktu yang luas dan mengidentifikasi hubungan dengan impor sampah plastik.

Tim tersebut menggunakan metode statistik untuk menentukan seberapa besar peningkatan polusi udara disebabkan oleh perubahan kebijakan China dan pembakaran sampah dibandingkan dengan faktor lain yang bervariasi dari waktu ke waktu, seperti cuaca.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan kebijakan dan pembakaran sampah menyebabkan peningkatan rata-rata 3,3 persen partikel halus di tempat pembuangan sampah terbuka di Indonesia pada tahun 2018 dan 2019 dibandingkan tahun 2012 hingga 2017.

Dampak kesehatan yang potensial sangat signifikan, yakni peningkatan partikel halus itu berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru sekitar 1,9 persen dan peningkatan risiko kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah sebesar 3,5 persen.

"Metode seperti ini, untuk mengevaluasi dampak kebijakan, secara historis telah dikembangkan oleh para ekonom tetapi baru-baru ini diadaptasi oleh para ilmuwan kesehatan masyarakat dan lingkungan," kata Considine.

Analisis ini mengungkapkan potensi reaksi berantai setelah China menutup impor limbah plastik. Sebagian limbah plastik yang sebelumnya berakhir di China dialihkan ke Indonesia, yang menyebabkan lebih banyak pembuangan terbuka dan pembakaran limbah plastik, yang menghasilkan lebih banyak polusi udara partikulat halus.

Karya Considine dan Nethery mendukung keputusan terbaru Indonesia dan Malaysia, negara lain yang terdampak perubahan kebijakan China, untuk melarang impor limbah plastik. Pendekatan tim ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan ini dan kebijakan di masa mendatang terkait limbah plastik dan pembakaran terbuka.

"Saya terinspirasi oleh kisah-kisah penelitian polusi udara yang digunakan untuk menginformasikan keputusan kebijakan," kata Considine. "Upaya seperti yang kami lakukan membantu mengisi kesenjangan bukti penting di tempat dan untuk aplikasi dengan data yang lebih terbatas."

Baca Juga”Sampah” Plastik Impor asal Eropa Cemari Lautan Asia Tenggara
Bahan bakar industri

Pendiri Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi, saat dihubungi pada Sabtu (6/6/2026) mengatakan, temuan ini memperkuat berbagai laporan sebelumnya tentang dampak buruk impor limbah plastik di Indonesia.

Sampai sekarang praktik impor limbah plastik dari negara maju masih terjadi. Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu konsumen terbesarnya.

"Sampai sekarang praktik impor limbah plastik dari negara maju masih terjadi. Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu konsumen terbesarnya," kata dia menambahkan.

Laporan Ecoton menunjukkan, limbah plastik impor tersebut banyak dipakai untuk bahan bakar utama industri tahu Tropodo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Komposisi jenis sampah plastik yang digunakan di industri tahu ini didominasi 40 persen scrap plastik sampah impor, 20 persen karet, sol sepatu, styrofoam 10 persen adalah plastik saset, 20 persen kayu, dan 20 persen batok kelapa.

" Sampah plastik impor ini berasal dari limbah pabrik daur ulang kertas di Mojokerto dan Pasuruan. Identifikasi kami, sampah plastik yang dipakai untuk bahan bakar itu diketahui sampah plastiknya berasal dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Perancis, Italia, Australia, dan Belanda," kata dia.

Menurut Prigi, penggunaan sampah plastik impor ini sebelumnya sudah dilarang pemerintah sejak tahun 2019. Namun faktanya sampah plastik impor hingga saat ini masih digunakan sebagai bahan bakar proses produksi tahu.

Penelitian Ecoton menunjukkan tingginya cemaran mikroplastik di udara akibat pembakaran limbah plastik. Enam daerah di Sidoarjo, termasuk Desa Tropodo, positif terdapat mikroplastik di udara dengan jenis fiber, fragmen dan filamen. Total 172 partikel mikroplastik ditemukan di enam daerah tersebut.

Pada area pabrik tahu Desa Tropodo sendiri ditemukan 13 fiber dan 12 filamen. Sementara itu kelimpahan tertinggi berada di Kecamatan Wonoayu yang berjarak sekitar 3 km dari Desa Tropodo dengan jumlah 65 partikel per tiga jam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IKA Pascasarjana Unifa Gelar Temu Alumni dan Webinar Nasional
• 3 jam laluharianfajar
thumb
GBK Ramai Sejak Sore, Ternyata Ada Tiga Acara Besar Sekaligus
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Persib Usahakan Tetap Main di GBLA untuk ACL Two, Pindah ke Stadion Lain Ternyata Rumit
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Jangan Lewatkan Live Streaming Timnas Indonesia Vs Oman di FIFA Matchday Malam Ini: Saksikan di Vidio!
• 19 jam lalubola.com
thumb
Rupiah Tertekan, OJK Pastikan Kondisi Perbankan Masih Stabil
• 17 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.